Melalui Literasi Zakat Wakaf, Bimas Islam Ajak Masyarakat Bangun Peradaban Islam


Sepuluh tahun lalu, sepulang dari menunaikan Ibadah Haji, mereka bercerita kepada anak-anaknya betapa bersyukurnya karena berangkat Haji dari Aceh. Berulang kali kedua orang tua saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang amat dalam kepada Habib Bugak Asyi. Ibu bilang, bahkan ada beberapa jamaah luar Aceh yang ingin sekali berangkat haji melalui Aceh.

Saat itu, saya tidak terlalu paham apa yang mereka utarakan. Yang saya tahu, Ibu dan Bapak mendapatkan uang kembali dari Pemerintah sekitar Rp. 4 juta-an usai pulang ke tanah air. Uang sebanyak itu sangat berguna bagi kami. Ditambah lagi pada masa itu salah satu anggota keluarga saya sedang  menjalani perawatan di rumah sakit dan membutuhkan biaya besar.

Setiap musim haji tiba, acapkali saya memikirkan apa yang membuat rakyat Aceh begitu berterima kasih kepada Sang Habib. Rasa penasaran saya memuncak dan kembali bertanya kepada Ibu. Namun, jawaban Ibu tidak membuat hati ini puas. Saat merantau ke Banda Aceh, akhirnya saya menemukan sumber dan informasi lengkap.

Habib Bugak Asyi, seorang dermawan pewakaf tanah untuk rakyat Aceh yang berhaji di Makkah. Pada tahun 1223 Hijriah, beliau datang ke Makkah dan membeli tanah disekitar daerah Qusyasyiah, yang sekarang berada di sekitar Bab Al Fath (antara Marwah dan Mesjid Haram). Saat itu, pada masa Kerajaan Ustmaniah.

Pada masa kepemimpinan Raja Malik Sa’ud bin Abdul Aziz, pemerintah Arab Saudi melakukan pengembangan Masjidil Haram. Tanah milik Habib Bugak Asyi yang telah diwakafkan kepada rakyat Aceh pun ikut terkena dampak dari pembangunan proyek tersebut. Alhasil, pihak Pemerintah Arab Saudi menganti rugi.

Uang dari ganti rugi tersebut kemudian dikelola oleh Badan Pengelola tanah wakaf untuk membeli dua lokasi lahan lainnya, yakni di daerah Ajyad, sekitar 500 dan 700 meter dari Masjidil Haram. Saat ini di lahan tersebut telah berdiri dua hotel bintang lima.


Wakaf Habib Asyi yang terletak di Aziziyah Janubiah, nama yang tertulis di depan hotel bintang lima ini berjumlah 234 kamar dengan 7 lantai. Sementara lokasi kedua dengan jarak 700 meter dari Masjidil Haram yang memiliki sebanyak 1.000 unit kamar.

Dari keuntungan lainnya, kemudian Badan Pengelola Tanah Wakaf/ Nazhir membeli dua lokasi lahan lainnya seluas 1.600 meter persegi dan 850 meter persegi di kawasan Aziziah. Pada tahun 2009, dua buah pondok khusus jamaah asal Embarkasi Aceh telah berfungsi dan layak digunakan.


Sejak tahun 2006 sampai sekarang, hasil keuntungan dari pengelolaan tanah wakaf tersebut telah dibagikan kepada jamaah haji asal Aceh. Berdasarkan sumber, setiap tahunnya, Pemerintah Aceh menerima sekitar Rp14,54 miliar dari Baitul Asyi sebagai uang pengganti sewa rumah bagi 3.635 jamaah haji asal Aceh. Maka, perjamaah mendapat sekitar Rp. 4 juta-an.

Setiap tahunnya ada ribuan jamaah haji asal Aceh yang mendapatkan bantuan dana dari tanah wakaf Sang Habib. Bantuan dana ini begitu berharga bagi jamaah haji, apalagi golongan menengah ke bawah. Setidaknya, masih tersisa uang untuk biaya hidup usai pulang dari Masjidil Haram. MasyaAllah.

Biasanya saya hanya mendengar "tanah wakaf" itu untuk lokasi pemakaman/kuburan atau masjid. Padahal konsep tanah wakaf ini sudah dipraktekkan sejak zaman Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wassalam untuk pertama kalinya, yaitu pembangunan Ka’bah di atas tanah wakaf.


Asal Mula Hadirnya Tanah Wakaf...
Menurut sumber yang dilansir, Mundzir Qahar, pemanfaatan tanah wakaf ini telah dimulai sejak zaman islam, yaitu pada masa kenabian Muhammad di Madinah yang ditandai dengan pembangunan Masjid Quba’. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi hijrah ke Madinah. Kemudian disusul dengan pembangunan Masjid Nabawi yang dibangun di atas tanah anak yatim dari Bani Najjar. Pada saat itu, Rasulullah membelinya dengan harga delapan ratus dirham yang diwakafkan untuk pembangunan masjid.

Pada tahun ketiga Hijriah, Rasulullah SAW pernah mewakafkan kembali sebanyak tujuh kebun kurma yang terletak di Madinah, diantaranya kebun A’raf Shafiyah, Dalal, Barqah dan kebun lainnya. Menurut pendapat sebagian ulama mengatakan bahwa yang pertama kali melaksanakan syariat Wakaf ialah Umar bin Khatab. Pendapat ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Ibnu Umar ra. Ia berkata:

“Bahwa sahabat Umar ra, memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian Umar ra, menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk, umar berkata: “Hai Rasulullah SAW, saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, saya belum mendapat harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah SAW bersabda: “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan.



Ibnu Umar berkata: “Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah Ibnu sabil, dan tamu, dan tidak dilarang bagi yang mengelola (nazhir) wakaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta.”

Sistem tanah wakaf terus berkembang pada masa kenabian Muhammad Saw. Bahkan Rasulullah sendiri terus melakukan hal ini dengan dalil untuk kepentingan dan kesejahteraan umat Islam. Bahkan pada masa kepemimpinan Harun Ar-Rasyid, pengelolaan tanah wakaf ini terus berkembang dan mengalami kemajuan pesan.

Di beberapa Negara maju lainnya juga mulai menerapkan sistem pengelolaan tanah wakaf, seperti Mesir, Syam, Turki, Andalusia, dan Maroko. Termasuk dalam daftar kekayaan wakaf pada saat itu adalah perumahan rakyat dan komplek pertokoan di berbagai ibu kota Negara Islam yang terbentang dari ujung Barat di Maroko hingga ke ujung Timur di New Delhi dan Lahore.

Pemahaman tentang tanah wakaf tidak hanya berkutat pada pemberian jenis lahan atau tanah saja, melainkan telah berkembang ke dalam jenis lainnya, seperti uang atau logam mulia.

Menariknya, di Indonesia sendiri telah mengatur tentang pembuatan hukum wakaf ini, yakni yang tertuang dalam UU No. 41 Tahun 2004. Terdapat 61 pasal yang mengatur tentang wakaf, salah satunya menerangkan bahwa Wakaf adalah perbuatan hukum Wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut Syariah. Adapun Nazhir dapat berupa perorangan, organisasi atau badan hukum.

Pada pasal ke-15 menerangkan bahwa jenis harta benda wakaf meliputi benda tidak bergerak, benda bergerak selain uang, dan benda bergerak berupa uang. Nah, untuk benda bergerak tersebut dapat berupa kapal, pesawat terbang, kendaraan bermotor, mesin atau peralatan industri, logam atau batu mulia, serta benda lainnya yang tergolong ke dalam benda bergeran dan memiliki manfaat jangka panjang. Bahkan untuk surat berharga sekali pun dapat diwakafkan.


Manfaat Tanah Wakaf…
Bicara soal manfaat tanah wakaf, kita dapat melihat atau merasakan sendiri manfaat dari wakaf milik Habib Bugak Asyi (khusus rakyat Aceh). Namun, selain itu ada pula manfaat lainnya yang sangat dibutuhkan bagi kesejahteraan masyarakat, diantaranya:
1. Membantu fakir miskin yang kesulitan tempat tinggal. Bahkan untuk Negara Indonesia saat ini, masih banyak penduduk yang belum memiliki rumah. Tentu konsep tanah wakaf ini sangat bermanfaat.
2.    Biaya Pendidikan
Indonesia masih tergolong ke dalam Negara berkembang, yang tidak semua rakyat dapat mengenyam pendidikan yang layak. Maka, wakaf ini dapat menjadi salah satu solusinya.
3.    Sarana dan Prasarana Pendidikan
4.    Rumah Sakit
Biaya pengobatan yang tergolong mahal, tentu tidak semua rakyat mampu membayarnya. Ini salah satu cara yang dapat diterapkan untuk menolong rakyat.
5.    Hotel atau apartment
Pembangunan hotel dapat dilihat dari Hotel milik Habib Bugak Asyi yang sampai hari ini diperoleh manfaatnya oleh rakyat Aceh.
6.    Toko atau Pusat Bisnis
Seperti yang telah diterapkan oleh Rasulullah Saw. Hasil dari panen kurma dari dulu hingga sekarang telah dimanfaatkan untuk kesejahterakan umat muslim.

Adapun yang paling utama dari semua ini adalah mengalirnya pahala yang tiada putus-putusnya. Seperti yang tertulis dalam Hadist Riwayat Muslim, "Rasulullah bersabda, Jika seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang manfaat, dan anak (sholeh) yang mendoakan orangtuanya."

Bagaimana Cara Mewakafkannya…..
Jika sistem wakaf ini dapat kembali diterapkan seperti pada zaman kenabian Muhammad Saw, maka pilar kebangkitan umat muslim sudah tidak perlu diragukan lagi.

Melalui ini Literasi Zakat Wakaf, Kementerian Agama Republik Indonesia kembali mengajak umat muslim agar mau mewakafkan harta bendanya demi kepentingan rakyat. Namun, ada hal yang harus diingat bahwa wakaf tidak dianjurkan apabila  menyengsarakan diri sendiri maupun keluarga karena ekonomi yang rendah. Pada dasarnya tingkatan Wakaf tentu berbeda dengan sedekah maupun infak.

Di zaman era digital ini, ada banyak cara untuk memudahkan kita dalam berwakaf, seperti program yang telah diluncurkan oleh Kemenag RI, yakni pada tanggal 22 Juli 2018, Kemenag bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan sejumlah Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi meluncurkan program “Kampung Zakat” yang berlokasi di Desa Talaga Jaya, Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara. Untuk info lebih lanjut, kamu dapat mengunjungi situs disini.

Sahabat muslim Indonesia, beringan-tangan lah dalam membantu sesama saudara muslim. Sesungguhnya ada Allah yang Maha melihat dan mencatat semua amal ibadah kita. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang telah dinanti di Syurga-Nya Allah. Aamiin,


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.