Cara Milenial Dalam Melestarikan Budaya Aceh


Aku terlahir sebagai generasi milenial. Orang-orang berkata, generasi milenial itu doyannya narsis terus di media sosial. Katanya, generasi milenial kerjaannya cuma upload status sampai-sampai lingkungan sosialnya nggak terurus. Katanya lagi, generasi milenial juga susah diajak kerja di bawah tekanan, maunya instan dan suka gonta-ganti profesi.

Generasi milenial memang banyak menghabiskan waktu bersama smartphone. Sering lalai sendiri kala asik dengan editan vlog atau video. Nggak peduli sekitar kalau lagi fokusnya menulis di blog, atau sering lupa waktu saat sedang bincang-bincang sesama milenial.

Meskipun banyak orang yang pesimis terhadap kemampuan milenial. Tetapi kami tetap optimis dan yakin. Kami terlahir begitu spesial sehingga mampu menggerakkan suatu perubahan. Seperti kata Merry Riana, generasi milenial itu adalah macannya Asia!


Saat Aku Mulai Melek Internet…
Dahulu rutinitas setiap hari minggu selalu diisi dengan pagi nyuci kain, siang angkat kain, sore nyetrika kain. Bahkan setiap libur sekolah pun, hanya inilah rutinitasku di rumah. Terasa hampa rasanya aktifitas ini saat aku mulai melek internet.

Sejak merantau ke Ibu Kota, di sini aku mulai menciptakan kebahagian baru bersama teman-teman di komunitas. Ya, menjelajahi budaya Aceh hingga ke berbagai objek wisata. Menambah pengalaman baru, bertemu dengan banyak orang yang juga memiliki semangat tinggi dalam membangun Aceh, berdiskusi serta merencanakan suatu “perubahan” nyata. Hasil dari semua ini kami bagikan di jejaring media sosial. Lagi-lagi, kecanggihan teknologi dan internet lah yang membantu kami dalam memperkenalkan kekhasan Aceh hingga dilirik oleh mata dunia.

Berawal dari tahun 2015, ada banyak objek budaya dan wisata alam yang telah aku bagikan di media sosial maupun blog. Bahkan beberapa foto tentang budaya Aceh juga di-repost oleh akun ternama. Tulisan-tulisan kami juga dibeli oleh perusahaan travel nasional. Isinya semua tentang Aceh. Aku bangga karena terlahir sebagai anak milenial Aceh yang kaya akan khasanah budaya, juga keindahan alam yang hakiki.


Aceh dan Sejarahnya...
Nah, ngobrol tentang budaya Aceh, inilah beberapa hasil jelajah budaya yang telah aku abadikan di dalam sebuah tulisan (Blog);
  • Dipinggir pantai Krueng Raya, ada situs sejarah Benteng Indra Patra. Konon benteng Indra Patra semakin termansyur namanya sejak para milenial menyebarluaskan foto-foto situs budaya ini ke jagad Media Sosial.
  • Ada juga Kerajaan Lamuri di Bukit Lamreh, Aceh Besar. Ini adalah kerajaan tertua di Aceh yang telah berumur lebih kurang 700 tahun. Saat berkunjung ke sana pada bulan Februari 2016, seorang penjaga mengatakan bahwa tempat ini masih sangat asing terdengar  dikalangan masyarakat Aceh. Kami termasuk milenial yang beruntung karena berhasil menemukan kerajaan ini.
  • Di Pulau Aceh, ada menara Mercusuar yang konon namanya mulai terkenal hingga ke pelancong mancanegara.
  • Di Pulau Rubiah, Sabang, ada Karantina Haji pertama di Indonesia. Tempat jamaah haji Indonesia singgah sebelum menuju Arab Saudi.

  • Di Kota Langsa ada banyak bangunan-bangunan situs budaya peninggalan Belanda, seperti Kota Juang yang kini telah dijadikan Museum Sejarah Kota Langsa.
  • Singkil lama yang hilang disapu gelombang dahsyar sekitar tahun 1890-an, kota yang hilang kini yang bersisa hanyalah jejak peradaban sumur tua, pecahan keramik, dan bata merah. Rumah Gadang di Desa Ujung, bukti sejarah yang tersisa lahirnya Singkil Baru. Bukti sejarah berupa Istana yang didirikan oleh Raja Singkil, Datuk Abdu rauf, sekitar tahun1904.

Melestarikan Budaya Aceh Lewat Internet   
Anak-anak generasi alfa merupakan generasi milenial yang sesungguhnya. Kami terlahir pada abad ke-21 yang membuat karakter teknologi ini begitu lekat dengan kehidupan kami. Di usia remaja, aku sudah terpapar langsung dengan teknologi, kecanggihan smartphone serta kemudahan dalam mengakses internet.

Berdasarkan data di atas yang diperoleh dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2018. Jumlah pengguna internet pun lebih di dominasi oleh kaum milenial. Data ini menunjukkan bahwa milenial lebih aktif menggunakan teknologi serta keseringan milenial dalam mengakses internet.

Sebagai milenial yang melek internet dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, seharusnya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk perubahan diri sendiri dan memberi efek positif kepada bangsa. Simak yang dikatakan Leo Tolstory, seorang sastrawan Rusia, “Banyak yang tahu bahwa orang lain harus berubah. Tetapi sedikit yang tahu, bahwa diri mereka lah  yang seharusnya berubah.”

Perubahan dalam diri bisa ditumbuhkan lewat rasa kagum. Mengangumi seseorang itu ibarat sebuah foto, bisa dilihat tapi tidak bisa disentuh. Tetapi, Mengangumi sebuah nilai, tanpa disentuh pun ia akan datang dengan sendirinya dan membuat diri kita ikut berubah.  Seperti aku yang mengagumi budaya Aceh. Rasa kagum itu tumbuh hingga aku begitu mencintai segalanya yang bernama “Budaya”.

Menjaga, melestarikan, serta mempromosikan budaya juga bagian dari bukti kekaguman dan kecintaan milenial kepada Aceh. Saat pahlawan Aceh memperjuangkan Tanah Rencong dari tangan penjajah, kami memang belum terlahir ke dunia ini, tetapi untuk menghargai perjuangan pahlawan, mengenang jasa serta menerapkan nilai-nilai budaya indatu tentu itu bisa kami lakukan.

Cara unik, kreatif, dan inovatif inilah yang kami lakukan saat ini. Memposting “info” di berbagai linimasi media sosial, seperti instagram, Youtube, Facebook, Twitter, bahkan Blogger, juga bagian dari bentuk terima kasih milenial kepada para pahlawan, karena berkat mereka, Aceh kaya akan suku, adat istiadat, serta bahasa yang berbeda-beda disetiap daerahnya.

Tidak berhenti di sini saja, tangan-tangan “jahil” milenial ini nyatanya telah berhasil memperkenalkan budaya Aceh hingga ke mancanegara. Sebut saja Tarian Saman yang telah diakui oleh Unesco.  Penarinya adalah para milenial. Setiap pertunjukan, selalu ada tangan-tangan “jahil” ini yang mempostingkannya di berbagai linimasi media sosial. Bahkan bisa ribuan kali di repost lalu di tonton oleh jutaan masyarakat dunia.

Kelihaian yang kami miliki dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi serta kemajuan internet juga berbuah manis dalam menghasilkan  film-film dokumenter karya sineas Aceh dari Aceh Documentary, contohnya film Dalae, Inoeng Silat, Hilangnya Rawa Tripa, Dodaidi, Benteng Adat Laut, Gasing Gayo, Pelangi di Tepian Samudra, dan masih banyak film budaya lainnya.

Aktivitas Milenial Saat Ada Internet…
Data dari APJII di bawah menunjukkan bahwa sebanyak 18,9% masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk membuka media sosial. Jika dilihat dari pandangan positif milenial yang katanya doyan upload foto atau update status di media sosial, sebenarnya cukup memberi dampak besar dalam mengabarkan Aceh ke mata dunia.

Karya-karya yang aku sebutkan di atas nyatanya telah ditonton oleh banyak orang luar bahkan mancanegara lewat festival film. Vlog maupun video yang tayang di Channel Youtube milenial juga tidak kalah hebatnya. Setiap tulisan yang kami posting pun menuai banyak pujian tentang hebatnya kebudayaan Aceh.

Aceh sangat kaya akan suku, adat, dan bahasa yang berbeda-beda. Menurut sumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Aceh, “Provinsi Aceh terdiri dari 23 Kabupaten/Kota, diantaranya 18 Kabupaten dan 5 Kota Administratif. Dari Jumlah Kabupaten tersebut, Aceh memiliki kebudayaan, adat istiadat dan bahasa daerah yang bebeda-beda, lebih kurang 12 buah bahasa Daerah. Masyarakat Aceh sehari-harinya menggunakan bahasa tersendiri di tiap-tiap daerah, kecuali dalam kegiatan formil mareka berbahasa Indonesia, bahasa-bahasa daerah tersebut antara lain : Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Bahasa Alas, Bahasa Tamieng, Bahasa Aneuk Jame (bahasa Jamee) sering orang Aceh menyebut bahasa Baiko, Bahasa kluet, Bahasa Singkil, Pakpak, Polopan, Bahasa Haloban, Bahasa Seumelu.

Keberagaman budaya yang dimiliki Aceh membuat milenial ini tidak pernah kekurangan bahan untuk menerbitkan karya serta memperkenalkannya di media sosial. Inilah contoh milenial-milenial yang berpikir kritis terhadap isu-isu sosial. Sharing is Cool adalah cara kami dalam melestarikan budaya Aceh.
 

6 komentar:

  1. Aceh ini budayanya cukup asing bagiku yang asli Kalimantan ini. Dengan adanya blogger yang berbagi ttg budaya2 tradisional begini, aku jadi lebih melek dengan kebudayaan dan adat istiadat Aceh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah Mba, akan sering dibagikan di blog saya, hehe

      Hapus
  2. Beda masa beda prestasinya. Masing2 punya kelebihan. Btw aku juga milenial (gda hubungannya!)

    BalasHapus
  3. Budaya Aceh itu unik, hanya saja perlu usaha mengenalkan pada masyarakat Indonesia keunikannya. Minimal membuat milenial Aceh sadar budaya, salah satunya dengan menuliskannya di blog..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener mas... makin semangat nih utk menulis tentang aceh

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.