Pengalaman Pertama Tidur di Hotel Paling Horor di Aceh


Teman, ada yang ngikutin kisah KKN Desa penari? Kalau belum, berarti kamu termasuk ke golongan penakut. Eh, nggak apa-apa, sih, penakut. Asal nggak takut mengejar kamu, #eak, haha…

SimpleMan benar-benar berhasil membawa netizen kepo di segala linimasi media sosial. Bayangkan saja, dalam dua pekan ini, laman Facebook, Twitter, Instagram, sampai Youtube masih tranding membahas kisah KKN Desa Penari dari segala sudut pandang para content creator. Ada yang dijadikan parodi sampai ada yang turun langsung ke Desa untuk membuktikan kebenaran dan merasakan horornya.

Sebenarnya sederhana, sih, KKN Desa Penari ini kurang lebih mengisahkan tentang sebuah tempat yang didatangi oleh para KKN (Kuliah Kerja Nyata) untuk mengabdi di desa tersebut selama 6 minggu. Nah, kisah horor ini bermula lah dari sini. Menurut saya. Namun, yang buat tampak “wow” itu adalah kehebatan marketing dan branding yang diluncurkan oleh pihak produser KKN Desa Penari.

Teman, ngomong-ngomong soal tempat horor, nih! Saya juga pernah punya kisah menarik tentang suatu tempat, yaitu sebuah hotel yang terletak di Kota Industri, Lhoksemawe. Meskipun kota ini bukan korban Gempa dan Tsunami Aceh, namun bangunan tua tersebut cukup membuat saya sulit untuk memejamkan mata hingga larut malam.

Kisah Awal Bermula dari…
Satu minggu sebelumnya, saya mendapat undangan dari pusat untuk melaksanakan perjalanan dinas ke Lhoksemawe. Saya sangat bersyukur, karena selama berturut-turut acara serupa selalu dilaksanakan di Banda Aceh. Kali ini saya bahagia karena bisa keluar daerah dan menikmati menginap di hotel terbaik di kota lain.

Dua hari sebelum menuju ke Hotel tujuan, kebiasaan saya adalah menjelajahi terlebih dahulu laman Google untuk mencari tahu tentang hotel yang akan disinggahi nantinya. Daebak! Tidak ada satu pun tulisan yang me-review tentang kondisi sebenarnya hotel tersebut hingga saat ini. Yang ada hanyalah bertebaran foto kamar yang cukup bagus.

Kesan Horor Lewat Pintu Utama….
Sekitar pukul 15.00 wib, saya beserta seorang teman tiba di hotel ini. Dalam surat edaran, panitia menyebutkan bahwa jadwal registrasi dimulai pada pukul 14.00 s.d 15.00 wib. Alhasil, sangking ontime-nya panitia, registrasi dibuka pada pukul 17.00 wib. Hebat!

Pukul 18.30 wib, beberapa menit menuju waktunya shalat Magrib. Kunci kamar baru dibagikan oleh panitia. Saya ditawarkan untuk join kamar dengan seorang wanita berparas adem. Awalnya, sudah mencoba menghindar karena ingin memanfaatkan suasana kamar hotel untuk konsentrasi menulis blog. Namun, setelah melalui satu hari bermalam di sini, saya sadar ternyata butuh teman, haha…


Kamar 205, di sini kisah Horor Bermula…
Ini hotel bintang 3, katanya! Tetapi yang terjadi adalah hotel door lock yang tidak berfungsi. Lemari yang terbuat dari triplet dan beberapa helai sudah terlepas. Pintu kamar yang tidak lagi aman. Dari pintu masuk, nasib hotel ini sulit untuk digambarkan, teman!


Satu langkah lebih maju, mata saya terus mengamati setiap sisi sudut kamar hingga kamar mandi. Mulai dari bawah, karpet merah yang telah usang menjadi pelengkap bumbu-bumbu horor di senja itu. Jendela kamar dan gorden layaknya rumah pada zaman sinetron “Si Doel”. Mulai dari TV tabung hingga meja riasan dan lampu klasik yang bikin aduhai. Dan yang lebih aduhai lagi saat menatap ke atas dinding, saya jadi bertanya, “Apakah AC di zaman dulu warnanya coklat?

Barang di dalam kamar ini diperkirakan masih utuh sejak tahun 1990-an. Pemilik hotel bilang, “Ini hotel terbaik di tahun 1992!”

Dilanda penasaran yang amat dalam setelah melihat kondisi kamar. Saya sempat dilanda bingung bagaimana cara menghidupkan lampu yang remang-remang ini. TV yang letak tombol powernya entah di mana, atau AC yang nggak bisa disetel tombol suhunya.

Gerah! Akhirnya saya memilih untuk mandi. Setelah handuk hotel usai dikeringkan oleh pihak hotel. Satu jam lebih menunggu handuk diantar. Tragisnya shower hanya menyediakan air panas. Wastafel bocor, dan bathtub yang sudah berkarat, sampai teman dari kamar lain pun bilang, “Abis siap mandi bukannya bersih, tapi kena tetanus!” haha…

Ruang Kosong yang Horor…
Sebelum acara pembukaan di mulai, panitia memberi tahu bahwa waktu shalat telah tiba. After shalat, acara baru dibuka. Panitia mengarahkan kami untuk melewati jalur yang berbeda dengan kaum laki-laki, meskipun tujuannya adalah di mushala/langgar yang sama.

Pada zaman dulu, sepertinya ruang-ruang kosong ini dijadikan sebagai kantor staf pengelola hotel. Di dalamnya ada banyak barang dan benda rongsokan yang dipenuhi sarang laba-laba, lengkap dengan debu yang tebal. Kasur, meja, kursi, komputer zaman, kertas, buku, apa aja lah. Sepanjang lorong ini, ruang kosong sebelah kiri dan kanan cukup membuat bulu kuduk ini terangsang. Membayangkan saja sudah seperti di Jurnalisa. Ini sore hari, belum lagi kalau melewati lorong ini di malam hari. Menjerit-jering lah pastinya ibu-ibu ini! 

Lampu yang Horor...
Lampu itu menjadi pelengkap suasana horor, betul nggak? Redup, remang-remang, hidup-mati, ini adalah kondisi bahwa film horor akan segera di mulai. Dan hotel ini sangat mendukung untuk dijadikan tempat uji nyali para Jurnalisa.

Ada banyak ruang kosong yang tidak terpakai lagi. Di dalamnya dipenuhi oleh sarang laba-laba, yang katanya rumah jin. Tingkat kepadatan debu sudah tidak diragukan lagi.

Di lantai dua, lorong-lorong kamar menambah suasana semakin menakutkan. Sunyi tanpa ada suara seorang pun bicara. Bulu kuduk ini tidak diam seperti biasanya. Meskipun suasana tampak horor, sorotan mata saya tetap mencoba menangkap beberapa hal aneh yang ada di sekitar.


Kamu bisa melihat, bahwa foto ini diambil dengan tangan gemetaran. Terbukti ternyata hotel ini mampu mengeluarkan jiwa penakut saya!

Tangga Utama Yang Horor…
Langkah pertama menaikkan kaki ke anak tangga. Perasaan saya biasa saja. Tidak ada yang aneh. Saya dan teman juga merasakan hal yang sama. Tetap larut dalam tawa. Menertawakan event terkacau yang pernah kami ikutin selama ini. Dan ghibah pun di mulai, meskipun sangat singkat, haha…

Naik-turun tangga malah membuat jiwa penakut saya teruji. Apalagi saat mencoba seorang diri dan di malam hari. Mencoba untuk biasa saja, nyatanya jiwa penakut ini kian meronta-ronta. Ah, ini gara-gara karpet merah!

Harga Kamar Bikin Horor…
Sempat menertawakan penyelenggarakan event, karena inilah hotel pertama yang terburuk sepanjang masa mengikuti event bergengsi. Hmm… mungkin mereka sedang menghemat dana. Nyatanya kamar sesederhana dan sehoror ini harganya Rp. 400.000/malam, wow! ini namanya hotel sekelas wisma dan sehoror villa.

Tetapi saya tetap berterima kasih kepada panitia, karena lewat pengalaman ini, saya jadi punya ide untuk dituliskan di blog. Terima kasih Bapak/Ibu panitia penyelenggara event.

6 komentar:

  1. Suasananya yg terlihat cukup sepi (di foto) sangat menunjukkan kesan horor. Duh, entah bagaimana rasanya jika saya yg ke sana. Boleh jadi saya mendapat perenungan yg sangat dalam ttg dunia perhororan. Apakah review hotel saya juga berkesan horor? Entahlah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha.. ayo dicoba saja, sesekali menguji adrenalin itu perlu kok, haha

      Hapus
  2. Seringkali perjalanan dinas itu satu kamar cukup untuk berdua dengan rekan. Namun engan alasan penyerapan dana, pilih kamar masing-masing... Jadi sendirian, menikmati kamar yang besar ^_^

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah tapi aman kan selama menginap ngga digangguin hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah aman mba, walaupun suasananya ngeri-ngeri sedap.. haha

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.