Seluruh Bank di Aceh Wajib Terapkan Perbankan Syariah



Senin (23/9), Bank Indonesia yang mengandeng Tempodotco (Tempo Media Group) dalam acara Ngobrol @Tempo mengundang para Blogger, penggiat Media Sosial, serta seluruh lembaga perbankan/keuangan Aceh maupun nasional untuk membahas terkait kesiapan Bank Konvensional beralih ke Bank Syariah.

Event yang berlangsung tertib ini mengusung tema “Kesiapan Perbankan Terhadap Qanun Lembaga Keuangan Syariah di Aceh.”  Aceh akan menjadi Provinsi pertama diseluruh Indonesia yang beralih ke sistem perbankan syariah. Beralihnya sistem ini tentu menuai banyak sekali kontroversi di berbagai kalangan.

Namun, saya ada satu keyakinan yang membuat saya optimis terealisasikan peraturan ini saat seorang Profesor berkata, “Dulu, Aceh menerapkan syariat Islam tentang wajib memakai jilbab/kerudung bagi wanita muslim. Tetap ada pro dan kontra. Namun, sekarang bisa di lihat, bahwa Jilbab bagi masyarakat muslimah di Aceh sudah menjadi kewajiban tanpa ada paksaan lagi. Saya yakin, satu atau dua tahun ke depan, masyarakat Aceh juga akan terbiasa dengan Perbankan Syariah ini.”

Selama mengikuti kegiatan tersebut, saya baru paham asal mula munculnya perbankan syariah ini. Ada banyak poin penting yang harus masyarakat tahu kenapa Bank Syariah lebih baik dibandingkan Bank Konvensional. Ditambah lagi, Aceh sudah memiliki Qanun tersendiri dalam pengelolaan perbankan ini.

Apa kata Qanun Aceh?
Kepala Bank Indonesia Provinsi Aceh, Bapak Z. Arifin Lubis dalam presentasinya memaparkan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Aceh, tingkat kemiskinan dan pengangguran serta perputaran uang masyarakat Aceh yang terjadi selama ini hingga tahun 2019. Ada beberapa poin penting yang saya garis bawahi, diantaranya adalah Aceh menjadi provinsi termiskin di Sumatera yang disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi rendah, meskipun nilai inflasi tergolong tinggi. Begitu juga dengan nilai tukar yang melemah, hal ini disebabkan oleh masyarakat kita lebih banyak membeli daripada menjual.

Padahal, Aceh mempunyai Sumber Daya Alam (SDM) yang sangat melimpah. Selain itu, tingginya dana APBA Aceh yang mencapai 17 Triliun dibandingkan daerah lain di Indonesia. Angka ini tergolong sangat besar untuk memajukan perekenomian Aceh menjadi lebih terdepan. Selain APBA, sumber pendanaan Aceh juga berasal dari APBD Kota/Kab, APBK, APBN, bahkan dana Otsus yang hanya dimiliki oleh Provinsi Aceh.

Kalau ditanya apa hubungannya antara perekonomian Aceh dengan Qanun Aceh? Jawabannya sangat sederhana. Berdasarkan hak Istimewa yang didapatkan oleh Aceh. Maka Aceh berhak untuk menetapkan Qanun tersendiri yang berlandaskan kepada Syariat Islam. Begitu pun dengan Ketetapan Qanun nomor 11 tahun 2018, terkait Lembaga Keuangan Syariah (LKS). Dalam Qanun ini, ada beberapa pertimbangan yang telah ditetapkan, diantaranya:

Sumber dari PPT Bapak Z. Arifin Lubis Pada saat Presentasi di Acara tersebut.


Berlandaskan kepada anjuran Alquran dan Sunnah tentang pengelola keuangan berbasis syariah dalam mengurangi riba. Sistem perbankan konvensional yang selama ini diterapkan belum mampu menjawab persoalan perekonomian masyarakat. Dunia mengakui bahwa sistem keuangan berdasarkan Syariat Islam yang non riba ini adalah satu-satunya kunci, sebab Islam menjunjung tinggi konsep keadilan.

Ada beberapa manfaat yang didapatkan dari diberlakukan perbankan syariah ini, diantaranya:

  •  Untuk menghindar Riba
  • Berdasarkan Syariat Islam
  • Keuntungan yang diberikan berdasarkan bagi hasil
  • System bagi hasil lebih adil dan transparan
  •  Memberlakukan saldo tabungan yang rendah
  • Dana nasabah diberlakukan sesuai syariah
  •  Penabung atau nasabah adalah Mitra Bank
  • Dan lain-lain 


Proses perwujudan Qanun Lembaga Keuangan Syariah di Aceh ini didasari oleh tiga aspek, yakni secara Yuridis, Sosiologis  dan Filosofis.

Sumber dari PPT Bapak Z. Arifin Lubis Pada saat Presentasi di Acara tersebut.Add caption


Acara yang berlangsung di Aula Bank Indonesia ini juga menghadirkan narasumber lain yaitu Bapak Aulia Fadly - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bapak Fahmi Subandi- Direktur Operasional BRI Syariah. Hadirnya dua pemateri lainnya semakin memperkuat argumen serta data tentang kesiapan Bank-Bank di Aceh untuk beralih ke sistem perbankan syariah. 

Peran OJK!
“Perkembangan perbankan syariah cuma 1,8% diseluruh dunia dengan jumlah muslim terbesar yakni 12,7%. Aceh tergolong ke dalam tiga besar dalam menerapkan system perbankan syariah setelah DKI Jaya dan Jawa Barat. Seharusnya Aceh bisa menjadi yang pertama, hal ini didasari oleh jumlah muslim terbesar Indonesia ada di Aceh,” Ungkap Bapak Aulia Fadly dalam paparannya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sangat mendukung penuh  penerapan Qanun Aceh ini dan berharap agar di tahun 2020, semua Bank konvensional di Aceh sudah berganti/beralih atau membuka cabang baru menjadi Bank Syariah. Meskipun waktu yang diberikan oleh Pemerintah Aceh sejak ditetapkan pada tanggal 4 Januari 2019 hingga tanggal 4 Januari 2022.

Selain itu, meskipun masyarakat Aceh itu sendiri kurang paham terkait keuangan syariah, namun karena mengatasnamakan syariah, secara kepercayaan Aceh akan lebih berpotensi besar untuk beralih ke perbankan Syariah dibandingkan daerah lain. makanya ini salah satu optimisme pihak Pemerintah Aceh dalam menerapkan Perbankan Syariah.


Begitu pun dengan paparan Narasumber terakhir yang sangat siap untuk mengalihkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) regional Aceh menuju BRI Syariah. Pihak mereka bahkan mendatangkan tim khusus dari pusat agar target Pemerintah Aceh dapat terealisasikan dengan baik dan lancar.

Proses terealisasikan Qanun Aceh terkait LKS ini tidak hanya melibatkan pihak BI, OJK atau Bank saja, melainkan seluruh masyarakat Aceh juga ikut ambil andil dalam menyukseskan Qanun tersebut.

Meskipun hingga hari ini masih terdapat pro dan kontra tentang pelaksanaan Perbankan Syariah di Aceh, namun saya percaya akan satu hal, untuk memulai sesuatu yang baru apalagi berlandaskan agama memang butuh perjuangan keras, dan semua itu tidak bisa langsung menjadi seperti keinginan kita, karena untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah juga butuh proses dan butuh kerjasama semua pihak.

20 komentar:

  1. Semoga penerapan Bank Syariah lebih menyeluruh ya di Aceh sistemnnya terbukti menyejahterakan rakyat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. mohon doanya mba, semoga kami di Aceh bangkit dengan satu tujuan

      Hapus
  2. Semoga lekas mendapat sambutan baik dan diterapkan, jadi bisa dinikmati dengan lebih tenang manfaatnya oleh masyarakat.

    BalasHapus
  3. Semoga benar-benar diterapkan disemua bank, gak cuma di Aceh tapi kalau bisa diseluruh nusantara menerapkan hal yang sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, dan berharap menjadi syariah yang sebenarnya

      Hapus
  4. Semoga Aceh bisa jadi awal baik untuk diterapkannya bank Syariah, sebelum meluaske seluruh Indonesia.

    BalasHapus
  5. Berharap tidak sebatas di Aceh saja, kota-kota yang lain juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga saja kota-kota lain yang diberi hak istimewa untuk tidak takut menerapkan sistem perbankan syariah

      Hapus
  6. Mudah-mudahan wacana ini berjalan lancar, setelah penerapan bank syariah di Aceh berjalan dengan baik, barangkali bisa menjadi contoh bagi kota lainnya di Indonesia.

    BalasHapus
  7. semoga bisa jadi solusi utk masalah keuangan yg selama ini melanda kita. kadang sering bingung, sini riba sana mahal. ah entahlah

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. sama mba
      nyari uang dgn cara halal kan, pas nyimpan di bank udah jadi riba.. wkwkkw

      Hapus
  8. Nah, saya suka banget neh, seharusnya setiap propinsi menetapkan aturan ini, bagaimana pun juga Riba itu haram, Bank harus mau mengikuti aturan

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju... nge-RIBA-nget lah pokoknya..

      Hapus
  9. Semoga kedepannya penerapan bank Syariah bisa diseluruh daerah dan menjadi solusi yang baik buat kita semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ya mba.. saya berharap perbankan syariah ini tidak hanya tampilan di depannya saja

      Hapus
  10. Sistem syariah pada perbankan itu sudah terbukti, namun syiarnya masih perlu digaungkan lagi. Semoga merambah ke kota-kota lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul.. moga Aceh jadi role model utk daerah lain ya

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.