Laptop Pilihan Dari Masa Ke Masa


Saya masih ingat sekali tahun pertama mengenal teknologi berlayar lebar ini. Saat itu, saya masih duduk di kelas SMP. Komputer mulai masuk ke kota kami. Sekolah-sekolah mulai ada pengadaan komputer dan mempekerjakan guru khusus IT. Begitu pun dengan kami, Ibu dan Bapak juga memanggil guru les untuk mengajari kami komputer. Saat pelajaran IT di Sekolah, saya termasuk siswa yang sudah pandai mengotak-atiknya. Syukur lah orang tua cepat sadar dengan perkembangan dunia.

Seminggu tiga kali lebih dari cukup ilmu yang diajarkan guru les komputer. Ilmu IT yang dimilikinya cukup baik. Setelah bereformasi ke komputer, Bapak membelikan laptop dengan harga yang lumanyan mahal. Laptop pertama kami merk Dell, sangat berat dan tebal, saya lupa tipenya.  Dari komputer beralih ke laptop, kami belajar begitu cepat.

Tiba saatnya saya harus merantau ke Ibu Kota untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Awal perkuliahan, orang tua masih belum mempercayakan saya untuk memiliki laptop sendiri. Jika ada tugas, saya harus meminjam laptop Abang yang saat itu juga sedang kuliah di Universitas yang sama dengan saya.

Berbagi laptop berdua, sungguh sangat rempong apalagi kami tidak tinggal serumah. Kadang, saya  lebih memilih untuk ke Warnet (Warung Internet) untuk menyelesaikan tugas kuliah. Baru lah di tahun ke dua kuliah, setelah mendapatkan beasiswa pendidikan, saya memutuskan untuk membeli Notebook.

Ketahanan yang luar biasa, hampir tujuh tahun saya menggunakannya aman tanpa hambatan. Namun, karena ingin memiliki yang lebih besar, saya meminta kepada Ibu untuk menggantikan dengan yang layar 14 inci. Notebook sebelumnya, saya kembalikan ke kampung halaman untuk dijadikan mainan oleh keponakan. Satu minggu setelah dimainkan, akhirnya padam total, haha…

Ganti Laptop Lagi, nih!
Laptop Asus 14 inci, inilah awal mula karier saya di bidang kepenulisan. Saat itu, saya berjanji akan menggunakan laptop ini sebagai sumber penghasilan. Alhamdulillah, uang kembali sesuai dengan harga laptop yang 100% didapatkan dari nge-blog dan menulis artikel majalah.


Asus 14 inci Tipe X543M ini emang bukan Asus mahal. Spesifikasinya pun masih terbatas dengan kapasitas RAM 2 GB. Bahkan software Adobe Premier Pro saja belum mampu ditariknya. Saya mulai tergoda dengan Asus keluaran terbaru yaitu Vivobook yang berkapasitas tinggi. Cocok banget digunakan oleh seorang video editor.

Lagi dan lagi, saya mulai tergoda. Melirik sana-sini rasanya tidak mungkin untuk mengganti laptop baru. Ditambah lagi gaji yang masih UMR, hidup di kota yang serba mahal ini lumanyan berat untuk mencukupi kemewahan, dan sejak lulus kuliah saya sudah memberhentikan subsidi dari orang tua. Alasannya ingin merasakan hidup mandiri dari hasil keringat dan perjuangan selama di rantau.

Saat Asus Segera Pamit
Memasuki usia 4 tahun, keyboard laptop saya mulai bermasalah. Saya akui bahwa ini adalah kesalahan sendiri karena tidak penuh kasih-sayang dalam merawatnya. Mengganti keyboard laptop di tempat servis komputer akan memakan biaya sekitar Rp. 400.000,- akhirnya sama mencoba melirik toko online. Dengan harga Rp. 120.000,- keyboard laptop ini kembali aktif digunakan.

Laptop hanyalah barang elektronik. Bagaimana pun dipulihkan, tetap saja masalahnya akan datang lagi. Saya punya teman yang menggunakan laptopnya lebih di atas 5 tahun. Menurut saya wajar, doi gunakan laptop hanya untuk skripsi dan sesekali dihidupkan untuk menonton atau mendengar musik. Beda, dong, dengan saya yang menggunakannya setiap hari, dimatikan hanya saat tidur saja.

Jadi, aktif pemakaian itu juga mempengaruhi usia barang elektronik, ya. Terutama laptop, nih! Menurut saya sudah wajar ia lelah. Apalagi Asus yang saya beli bukan barang mahal dan bagus. Saat itu, karena tergoda ingin memiliki yang layar besar, agar leluasa dalam mengetik.

Tahun 2019, saya mencoba mencari laptop dengan spesifikasi yang lebih tinggi di atas laptop Asus sebelumnya. Tetap targetnya adalah Asus lagi, namun terhambat di budget yang mengharuskan saya untuk membayar kontrakan. Ada-ada saja, ya.

Laptop Baru di Tahun 2019
Lenovo Ideapad 330  dengan yang didukung oleh spesifikasi VGA AMD A9 (Radeon R3), RAM 4 GB, Kualitas tampilan display yang dihasilkan bahkan mencapai 1366 x 768 HD, saya bisa menikmati setiap detail tampilan di layar dengan jelas. Bahkan, hingga bagian terkecil sekalipun.


Ada lagi, sistem audio laptop Lenovo berukuran 14 inci ini sudah menggunakan 2 x 2W speaker with Dolby Audio. Dengan begitu, kualitas suara yang dihasilkan pun tidak akan mengecewakan. Meskipun saya menaikan volumenya hingga paling tinggi, suara yang dikeluarkan dari laptop ini tidak akan pecah atau terdistorsi. Baterai laptop Lenovo IdeaPad 330S-14IKB ini sendiri bisa bertahan hingga 7 jam. Kapasitas penyimpanan pada laptop Lenovo IdeaPad 330 juga cukup besar, yaitu 500GB. Jadi laptop ini sudah dijamin berkecepatan tinggi dan anti lemot. Generasi ini termasuk yang paling baru dan paling canggih di kelasnya. Dan saya suka warnanya!

Laptop bagi saya bukan saja elektronik pelengkap, melainkan sudah menjadi barang wajib yang harus ada. Bahkan untuk traveling sekalipun, laptop tetap dijadikan barang wajib yang harus dibawa. Kenapa? Karena sumber penghasilan saya ada di sini!

Sekian kisah saya bersama si laptop, berharap bisa segera menggenggam Vivobook dengan RAM 12 GB, agar pekerjaan baru saya sebagai video editor berjalan dengan lancar. Bantu doa ya, teman. Aamiin.

2 komentar:

  1. Bagi tipsnya dong kak, gimana cara balik uang beli laptop asusnya, hahahhaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rajin nulis, rajin posting, ntar dengan sendirinya InsyaAllah dapat kok, hehe
      dilirik atau melirik

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.