Kenikmatan Hakiki Yang Didapat Saat Perayaan Pesta Pernikahan



Resepsi pernikahan atau walimah merupakan bagian dari tradisi yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Perintah untuk menggelar acara resepsi ini disampaikan Rasulullah ketika putrinya, Fatimah RA dipinang oleh Ali Bin Abi Thalib RA. Dalam sabdanya Rasulullah menyampaikan,”Sesungguhnya pada perkawinan harus diadakan walimah".

Namun, seiring perkembangan zaman, resepsi pernikahan atau walimah mulai diselenggarakan penuh dengan kemewahan. Padahal menurut Syech as-Sayyid Nada, ada dua hal yang dianjurkan dalam menyelenggarakan walimahan. Pertama, niat walimah adalah sebagai sunnah Rasululllah SAW dan memberi makan orang-orang. Kedua, membuat dan menyediakan hidangan yang disesuaikan dengan kemampuan.

Tidak ada pemaksaan untuk bermewah-mewah jika tidak mampu. Jangan sampai memaksakan diri sampai rela meminjam uang dari Bank/rentenir atau menggadaikan harta benda demi sebuah pesta pernikahan. Tetapi  jika kamu mampu dan berlimpahan harta, kembali lagi ke diri masing-masing asalkan niat yang lurus bukan untuk memamerkan kemewahan (riya’).

Tradisi Datang ke Pesta Pernikahan
Ngomongin tentang pesta pernikahan. Ada lagi, nih, yang bikin lucu plus geli-geli diperut. Di pesta mana pun, pada dasarnya pemilik acara yang selalu tampil cantik hingga rela menjahit gaun baru, make up sekelas artis, atau sebagainya, ya. Tetapi yang buat saya geli adalah saat doi bukan keluarga inti maupun sahabat mempelai, cuma diminta tolong untuk jaga hidangan atau bertamu sebentar, fashionnya ngalah-ngalahin pemilik acara, hadeuh!!


Namun, inilah yang berkembang dikalangan masyarakat sekarang. Padahal saat cuaca lagi panas-panasnya, berdandan layaknya artis yang akan show malah bikin make-up luntur, atau kulit gatal-gatal karena gerah dan keringatan. Beda dengan pesta pernikahan yang diselenggarakan di gedung atau convention Hall yang mewah, begitu turun mobil, cuss langsung masuk ke gedung tanpa terpapar panas matahari. Eh, tapi tetap mubazir, kan?

Hal Gokil yang Bisa kamu Lakukan Saat Tetangga Pesta
Ada satu ciri khas di Aceh yang nggak boleh hilang di tempat pesta, yaitu Kuah Beulangong,  Keumamah (Ikan Kayu) dan ayam tangkap. Dari dulu hingga sekarang, dua menu ini sudah wajib ada di pesta. Sampai kakak ipar saya pernah ngidam Kuah Beulangong karena sudah terlalu lama tinggal di Solo. Apalagi menikmatinya, melihat langsung saja sudah nggak pernah. Gokilnya doi minta pulang ke Aceh hanya untuk mencium bau Kuah Beulangong, haha…



Untuk setiap menu pelengkap lain, itu tergantung pihak penyelenggara. Misalnya keluarga ada yang keturunan bule, menunya di mixing ala barat atau keturunan India, pun begitu. Pokoknya menu pelengkap itu tergantung pihak acara.

Oia, saya punya cerita lucu saat menghadiri pesta pernikahan. Kondisi sebagai mahasiswa dan anak rantauan, biasanya hal seperti ini emang kerap dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa super nekat. Namanya juga mahasiswa, nggak ada istilah malu-malu kecuali malu-maluin.

Hari itu, saya bersama rekan baru saja pulang dari rumah sakit umum. Antrian yang cukup panjang membuat kami kelelahan. Saat tiba di rumah, langsung tepar. “Bro, ada pesta tuh di tempat tetangga, makan ke sana, yuk!”

Doi langsung menerima ajakan saya. Sampai di sana dengan pakaian kucek, wajah kelelahan, sedangkan tamu lain hadir dengan penampilan fashion super lengkap. Sepertinya ada yang curiga dengan kami. Apalagi kami bukan penduduk di sana, hanya menumpang menjadi warga setempat selama satu minggu saja.

Dengan mengisi amplop Rp.10.000,- kami makan dengan lahap dan mencoba berbagai menu enak. “Eh, jangan pulang dulu, cicipin itu dulu!” ajak si doi.

Setelah mencicipi semuanya, sambil memengang cemilan pencuci mulut, kami berdiri tepat di depan pelaminan mempelai, seakan mereka adalah seseorang yang kami kenal. Trik ini mampu mengurangi sedikit kecurigaan apabila ada orang yang sedang mengamati kamu.

Begitu pun di rumah saya, saya ikhlas mengizinkan apabila ada orang yang nggak dikenal nyelip masuk sekadar numpang makan. Sejatinya, kita tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi padanya, dan rasa ikhlas ini malah akan menambah rezeki buat pemilik acara pesta pernikahan. Dibalik harta yang kita punya, ada sebagian yang bukan hak kita. Apalagi saat ada acara begini, kapan lagi bisa berbagi kebahagian dengan masyarakat.

Selama ini saya tidak pernah melihat tuan rumah melarang tamu yang nggak dikenal untuk menghadiri pesta pernikahan. Alhamdulillah adat di Aceh selalu memuliakan tamu, dan inilah yang menjadi kebanggaan adat kami di aceh dengan slogan peumulia Jamee adat geutanyoe.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.