Demi Menemukan Filosofi Rela Menelusuri Penjual Miniatur



Ada satu orang yang sangat suka jalan-jalan. Namun, satu orangnya lagi lebih suka berdiam di rumah. Ada juga yang tidak suka keduanya, hmm.. berarti doi adalah golongan langka. Golongan ketiga ini patut dipertanyakan!

Ulasan blog saya hari ini yakni membahas seputar orang-orang yang berada di golongan satu, yang berjiwa ksatria, tahan banting, tahan cuaca ekstrem, dan tahan dibaperin.  Kami adalah golongan perkasa dan penikmat kenidupan, #Eakk.  

Syukur sekali saya dilahirkan oleh Ibu yang suka jalan-jalan. Bahkan di usianya yang sudah lebih 60 tahun, Ibu tidak pernah mengeluh acapkali diajak traveling. Cuma saat ini kondisi kesehatannya semakin menurun, sebagai anak yang baik, kami lebih membiarkan Ibu istirahat di rumah, walaupun kalau diajak langsung mau ikut.

Sebenarnya, saya lebih sering traveling sendiri atau bareng Kak Tria (kakak perempuan). Karena dilahirkan dari rahim yang sama, kita punya hobi yang sama, tetapi tidak pernah sama dalam hal borong-memborong oleh-oleh. 

Kak Tria yang sangat fashionable ini, ke mana pun berlayar, sejauh apapun, ke kutup utara atau ke Goa Sarang pun, tetap oleh-olehnya adalah baju, jilbab, kalung, tas, pokoknya yang berhubungan dengan fashion. Walaupun di Goa Sarang hanya ada laut dan Goa, haha...

Beda dengan saya. Liburan tanpa membawa pulang oleh-oleh khas daerah seperti icon negara dan rumah adat, rasanya hampa. Seperti hidup tanpa kamu. Oleh-oleh kuliner, bisa habis dalam sekejab. Oleh-oleh pakaian, nggak setiap hari bisa di lihat. Tetapi, kalau oleh-olehnya miniatur, beuh setiap bangun tidur dan tidur lagi, itu terus yang dipentengin. Selain untuk koleksi, sebenarnya ada pesan tersirat yang bisa kamu petik, nih, dari setiap icon atau rumah adat.

Ini Alasan Saya Suka Koleksi miniatur Icon Negara atau Rumah Adat...
Rumah adat adalah sebuah bangunan yang memiliki ciri khas suatu daerah. Kepala Museum Rumah Adat Aceh (Rumoh Aceh) pernah berkata langsung, “Jika kamu ingin melihat dan mengenal watak serta kehidupan masyarakat di suatu daerah, maka tempat pertama yang harus kamu kunjungi adalah rumah adatnya.”

Filosofi...
Teman, disetiap icon negara atau rumah adat itu selalu menyimpan filosifi. Contoh, rumah adat Betawi atau Rumah Kebaya yang menyimpan makna dibalik bentuk atap yang menyerupai pelana, lipatan tersebut berbentuk seperti lipatan kain kebaya, seperti ciri khas pakaian orang Betawi.

Contoh lain lagi, Rumoh Aceh (rumah adat aceh) yang merupakan ekspresi keyakinan kepada Tuhan dan alam. Orientasi rumah yang berbentuk memanjang dari Timur ke Barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang berada di arah Barat, mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajines dengan Ka’bah yang berada di Mekkah. Selain itu, jumlah tiang penyangga yang berjumlah genap, jumlah ruangan selalu ganjil, dan anak tangga yang juga berjumlah ganjil.

Ada juga motif agama, motif flora dan fauna, dan lainnya yang menunjukkan besarnya keyakinan masyarakat Aceh terhadap agama yang dianut (Islam) dan mencintai keanekaragaman flora dan fauna.
 
Teman, dari filosofi yang saya gambarkan di atas, kamu bisa membayangkan bagaimana keseharian maupun adat istiadat suatu daerah yang dilihat dari rumah adatnya sendiri. Makanya, untuk inilah alasan saya suka sekali berburu oleh-oleh rumah adat, atau kalau ke luar negeri, icon negara harus selalu jadi oleh-oleh pertama untuk dibawa pulang.

Pernah kecewa juga, sih, saat traveling, saat itu saya pergi ke Singapore bersama teman-teman yang baru dikenal. Untuk pertama sekali, tentu saya harus mengikuti semua arahan mereka sebagai penunjuk jalan. Tapi, di awal saya sudah bilang, “Nanti kita lewat pasar oleh-oleh, kan? Aku mau beli oleh-oleh, nih!”

Sedih rasanya, traveling yang tidak mengasyikkan itu adalah saat harus kejar-kejaran dengan waktu, dan saran saya, sebaiknya kalau kamu mau traveling, carilah teman yang sekufu atau mau gila barengan.

Namun, kekecewaan ini sedikit terobati saat ada teman yang berlibur ke Singapore, “Mau dibawa oleh-oleh apa, bro?” hihi, senangnya.

Selain beberapa icon negara dan rumah adat, ada satu lagi yang paling berkesan, nih, yaitu berburu Rumah Adat Toraja. Siang itu saya dapat kabar bahwa Film Dokumenter kami menang dan diminta untuk menghadiri even wisata hingga malam penganugerahan di Toraja, Sulawesi Selatan. Paket wisata selama tiga hari, lengkap dengan dengan dihadirkannya atraksi budaya Toraja, tentu saya tidak akan menolak ajakan itu.

Salah satu koleksi rumah adat dan icon negara yang disimpan di kontrakan
Satu hari sebelumnya, saya sudah siap untuk berangkat, sudah mengurus izin orang tua, komunitas, bahkan sampai pekerjaan. Tiket juga hampir di booking. Tetapi terjadi suatu adegan yang menguras emosional dan kesabaran. Patner satu tim meminta agar doi saja yang ke sana, katanya doi ingin sekali bepergian jauh untuk mewujudkan impian dari orang tuanya.

Dengan sengenap keikhlasan, saya relakan doi berangkat untuk menikmati 3 hari asiknya berwisata di Toraja. Permintaan saya Cuma satu, “Bawa pulang rumah adat Toraja!”

Luar biasa baiknya si doi, hampir setengah hari menghabiskan waktu di pasar untuk mencarikan oleh-oleh permintaan saya. Sampai Video Call berkali-kali, “Jangan yang ada Salibnya, ya!” lumanyan susah tau nyarinya. Maaf ya, teman, saya merepotkanmu.

Beberapa koleksi icon Negara dan rumah adat ini ada yang sudah saya bawa pulang di kampung untuk dipajang, ada juga yang segaja saya tinggal di kontrakan. Setiap melihat itu, berharap bisa jalan-jalan lebih banyak lagi, doain, ya, Aamiin.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.