Sie Reuboh Menjadi Pelengkap Kuliner Idul adha di Aceh, Lengkap Dengan Resepnya



Kedengannya konyol, saya sebagai penduduk asli Aceh baru tahu tentang kuliner “The Lagend” ini beberapa tahun lalu. Kira-kira sekitar tahun 2015, awal mulanya saya mendengar dari teman sejawat di komunitas Blogger di Banda Aceh.

Sie Reuboh atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Daging Rebus. Pada awalnya saya berpikir bahwa Sie Reuboh ini adalah daging yang direbus dengan air biasa. Rasa daging yang masih kental, juga aroma asli yang  membuat khayalan saya bermain. Oh, tidak! sepertinya saya tidak yakin untuk mencobanya.

Pada dasarnya, saya bukan penikmat kuliner yang berbahan dasar daging, kecuali telur dan seafood. Kuliner favorit saya itu adalah apapun yang diolah dari bahan dasar sayur-sayuran. Apalagi kalau  ada terong, bayam, sawi, daun singkong, kangkung, brokoli, cukup dengan ini saja saya akan bertahan hidup dengan kamu, #eakk…

Sejarahnya begini!
Nah, Sie Reuboh ini sudah menjadi kuliner andalan masyarakat Aceh disetiap perayaan apapun, termasuk hari raya umat Muslim, seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Kuliner unik yang berasal dari Aceh Besar ini diwariskan secara turun-temurun, hingga menjadi menu wajib disetiap perayaan apapun.

Semakin majunya pariwisata Aceh, Sie Reuboh kini dapat kamu nikmati di warung atau restoran Aceh. Jadi, kalau kamu penasaran, bisa langsung cuss menikmatinya. Eits, harus di warung atau restoran Aceh ya!
 
Dari makanan Meugang hingga Peunajoh Prang, Sie Reuboh sudah menjadi ritual setiap Meugang di Aceh. Meugang ini diperingati oleh masyarakat Aceh satu atau dua hari menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Ritual Meugang dilakukan setiap masyarakat Aceh dengan membeli dan memakan masakan berbahan daging. Salah satunya adalah Sie Reuboh ini, nih!

Tanpa Sie Reuboh, peringati hari besar tampak hampa. Seperti saya tanpa kamu, wkwk... 


Cari tahu resepnya, yuk!
Teman, ternyata bahan-bahan untuk masak Sie Reuboh nggak seperti yang ada di khayalan saya, haha….
·        Daging dipotong kecil-kecil atau sesuai selera
·        150 gr bawang merah, dirajang kasar
·        10 siung bawang putih, dirajang halus
·        2 ruas jari jahe digeprek
·        2 btg sereh, dirajang halus
·        5 lbr daun jeruk
·        10 Cabe rawit (sesuai selera) blender kasar
·        5 buah cabe besar, diblender kasar
·        1/2 sdt kunyit bubuk
·        600 liter air
·        60 ml cuka apel
·        Garam secukupnya

Cara penyajiannya, gampang banget! Saya yakin, sepertinya saya bisa memasaknya untuk kamu, haha..
Cuci daging sampai bersih, lalu beri garam  secukupnya dan sisihkan
Siapkan kuali (teman, pakai kuali tanah lebih mantap rasanya) lalu campurkan daging dengan semua bahan/ bumbu di atas. Aduk rata.
Masak dengan api sedang hingga dagingnya empuk. Nah, tambahkan air lebih banyak, ya,  karena Sie Reuboh ini berkuah. Tunggu hingga dagingnya empuk, dan…siap dilahap.

Walaupun cara memasaknya sangat sederhana, tapi karena campurannya berasal dari rempah-rempah, maka rasa dan aromanya pun tentu berbeda tanpa menghilangkan rasa khas daging.

Rasa Sie Reuboh yang gurih, pedas, dan keasam-asaman membuatnya lezat disantap bersama nasi atau disajikan langsung. Selain rasanya yang khas, Sie Reuboh juga tahan lama atau bisa disimpan berhari-hari tanpa takut basi. Kalau sudah dingin tinggal dipanaskan lagi saja, dan tetap masih enak dimakan, kok.

Setiap kuliner khas Aceh selalu dilengkapi dengan banyak sekali jenis rempah-rempah. Makanya teman, rempah-rempah ini sudah menjadi menu wajib disetiap masakan Aceh. Untuk mendapatkan rempah-rempah ini, kamu bisa membelinya dengan mudah di pasar tradisional, murah meriah lah, pokoknya.

Tanpa Sie Reuboh, perayaan Idul Adha tampak kurang lengkap, nih. Apalagi untuk masyarakat di Aceh Besar, nggak boleh absen. Tetapi, kalau kamu berlebaran di rumah saya di kampung, maaf ya, sampai lebaran idul Fitri tahun ini, kami nggak pernah memasaknya, hehe…

Saya berdomisili di Kota Langsa, bagian Aceh Timur. Kota terujung sebelum memasuki wilayah Sumatera. Jadi, untuk budaya khas Aceh asli memang tidak lagi sekental daerah lain di Aceh. Bahkan untuk penduduk asli Aceh saja bisa dihitung. Adat istiadat, budaya, kebiasaan, bahkan kehidupan sehari-hari sudah bercampur dengan budaya daerah lain. 

Semenjak merantau ke Ibu Kota kurang lebih 10 tahun ini, wawasan saya seputar khasanah Aceh pun semakin meluas, wisata, adat istiadat, bahkan sampai kulinernya. 

Yuk, Idul Adha di Aceh, biar kamu bisa merasakan sendiri berwisata Islami. 

2 komentar:

  1. Mau meugang, sie reuboh seakan jadi menu wajib yang selalu ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali, bentar lagi meugang kita yah

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.