Beyond Expectation: Ini Alasan Kenapa Mahasiswa Betah Lama-lama di Perpustakaan Unsyiah


Ada yang indah, tapi jaraknya begitu jauh untuk dimiliki. Ada yang dekat, namun tidak mampu melengkapi kesempurnaan. Maka saya cuma bisa untuk berkata bahwa itu hanya sebatas Beyond Expectation belaka.  
  
Saya sering bilang kepada teman, “Hei, bermimpilah setinggi-tingginya. Meskipun kamu jatuh. Maka kamu akan jatuh diantara bintang.” Lalu saya ditertawakan.

Masa sekolah dulu, di kota kecil ini. Menemukan buku bagus yang bisa dibaca gratis, tidak ada. Yang ada hanyalah buku pelajaran sekolah yang dibagikan di awal semester. Tinggal beberapa buku usang yang sudah menjadi lalapan rayap. Lalu, saya berharap bisa mengemis di Perpustakaan milik pemerintah. Nihil. 

Tak lama, toko buku pun hadir. Dan tak lama pula, gerainya tutup. Yah! Kurasa mereka bangkrut. Inilah gambaran seujung biji jagung tentang kota ini.

Salah satu Expectation saya ketika memilih kuliah di Unsyiah Kuala adalah biar seperti orang-orang. Menutup hari di perpustakaan hingga sunrise kembali membangunkan mimpi singkat itu. Menikmati atmosfer alam ditaman buatan, hijau lantai dan dindingnya berhias tanaman Golden Moneywork dengan sedikit sentuhan Morning Glory yang membuat suasana tampak sejuk. Ah..ini hanya Beyond Expectation.

Kenapa saya suka dengan suasana ini? Yah.. karena seorang introvert membutuhkan itu. Sunyi, tenang, sepi. Karena tiga hal ini adalah gambaran hidup bagi mereka untuk tampil lebih kreatif dan keluar dengan inovatif.  

Semasa kuliah dulu, disetiap jeda waktu. Perpustakaan Unsyiah kerap dijadikan tempat yang asyik untuk diajak ngobrol. Diskusi bersama buku di sudut sana, seorang diri. Tanpa bising suara orang atau mondar-mandir suara hentakan kaki yang cukup menganggu. Yah..paling sudut!

Di sudut sana pula, kadang saya berekspetasi layaknya seorang Harry Poter atau Nek Lampir yang mengayuhkan tongkat ajaib, dan menyulap ruang perpustakaan ini. Khayalan ini semakin diperkuat saat saya sesekali menyusup masuk ke ruang baca yang menyediakan buku-buku arsitektur. Kala itu sekitar tahun 2011.

Apa kata orang? Tapi inilah manusia. Setiap yang bernyawa pasti tampil dengan kelebihan masing-masing. Pribadi unik yang kadang tidak masuk akal. Introvert atau ekstrovert, kami punya cara dalam belajar, bahkan dalam membuat laporan laboratorium sekali pun.

Etss..tunggu! saya ingin menyinggung sedikit, kenapa perpustakaan itu harus tampil sesuai kebutuhan mahasiswa? Karena ini!

Seperti saya bilang di atas, seorang introvert dan ekstrovert memiliki tipe belajar yang berbeda. Umumnya seorang introvert hanya self-learning, suka menyendiri dalam belajar seperti menulis dan membaca ketimbang bertinteraksi dalam bekelompok. Dalam pembelajaran, seorang introvert biasa mencari cara sendiri untuk belajar, terkadang pergi ke pustaka sendiri atau ke taman sendiri untuk belajar.

Tipe belajar orang ekstrovert  memiliki kepribadian sosial yang tinggi dan mereka suka berdiskusi atau suka tanya jawab dalam pembelajaran. Disamping itu gaya belajar ekstrovert cenderung seperti gaya belajar kinestetik yaitu dengan melibatkan gaya gerak interaksi, seperti  belajar kelompok, olahraga, menari, memainkan musik, percobaan laboratorium, dan lainnya. Gaya belajar ini efektif untuk orang tipe ekstrovert yang menyukai gerak dan gambaran imajinasi berdasarkan gerakan.

Selain tipe belajar, kedua karakter ini juga memiliki tempat nyaman yang berbeda untuk belajar. Jika prinsip ini diaplikasikan pada pemilihan warna ruangan. Seorang introvert sangat menghindari warna dinding yang bernuansa terang, mencolok yang berasal dari warna merah, kuning kontras, dan ungu terang. Mereka lebih cocok berada di ruangan dengan cat bernuansa lembut dan menenangkan, seperti krem, putih, biru muda, dan hijau muda.   

Seorang introvert juga membutuhkan ruang khusus untuk dirinya sendiri. Ia tidak senang jika personal space tersebut dicampuri orang lain. Reading Lounge Male and Female yang terletak di lantai 2, hari itu saya menemui seorang mahasiswa sendirian di sini, sepertinya dia introvert. Pemilihan warna ruangan dan jauh dari keributan membuat seorang introvert lebih nyaman dalam berpikir, dan dia akan merasa terganggu ketika orang lain masuk mengajak bicara.




Personal space identik dengan tempat yang sangat nyaman bagi seseorang. Oleh karena itu, untuk menciptakan personal space bagi introvert, harus didukung oleh keharmonisan suasana ruangan. Nah, warna-warna yang serasi dan tak terlalu kontras bisa menjadi pilihan utama. 

Sebaliknya, orang-orang ekstrovert menghilangkan segala batasan dan lebur menyatu dengan sekelilingnya. Perbedaan ini dapat menjadi tuntunan sederhana ketika memilih warna dinding yang sesuai. Lihatlah Ruang Diskusi Laki-laki dan Perempuan yang berada di lantai 1 dan 2, pihak perpustakaan seakan memahami karakter seorang ekstrovert yang suka keramaian. Dan ini terlihat dari sofa yang berwarna ungu dan orange kontras.



Dengan memilih warna yang cocok dengan kepribadian, ruang belajar dapat berfungsi sebagai ruang untuk menyegarkan tubuh dan pikiran. Nah, sepertinya pihak UPT. Perpustakaan Unsyiah sudah memikirkan ini sebelum merombak semua ruangan ini hingga melebihi ekspetasi.
 
Bagaimana dengan rumah kontrakan? Kos-kosan? Oh, tidak. Kamu bisa melihat bagaimana perjuangan mahasiswa di rantau yang hanya memiliki kamar ukuran 3 x 3cm dan ditempati oleh dua orang bahkan lebih. Dengan kondisi yang tidak nyaman. Kecuali jika mahasiswa dari kalangan atas yang bisa menyewa kontrakan sesuai keinginannya.

Panasnya kota Banda Aceh ini yang acapkali mati lampu, gerah, keringatan, sumpek, ribut. Diantara kegalauan itu cuma bisa mengaih selembar kerta untuk menahan keringat keluar pori-pori saat listrik yang acapkali tak hidup setelah berjam-jam lamanya. Aceh lon!

Kondisi seperti ini membuat diri saya seakan-akan dilahap orang moster gila, yang lagi-lagi menghayal bisa seperti tokoh Elsa dalam Film Frozen, dan bernyanyi sambil menari-nari, “Let it go..Let it go...!” haha...

Saya tidak lahir dengan bakat menulis, tetapi bakat ini mulai saya asah sejak kuliah, dan di ruang perpustakan di sudut sana. Tempat yang dipaksa untuk berkonsentrasi dengan kondisi wi-fi yang terbilang jauh lebih buruk dibandingkan sekarang. Jika sudah semakin ramai, saya berlari ke warung kopi atau cafe yang jarang disinggahi orang. 

Ada satu hal yang buat saya rasanya ingin kembali ke sini. Ya... Ruang Bioskop, yang mampu menampung kapasitas hingga 50 orang. Dulu saya pernah ditawarkan untuk memutar film dokumenter di Perpustakaan ini oleh Pak Ari (Kepala Pusat Seni Unsyiah –saat itu) dalam kegiatan Harmoni Kampus @Lib. Namun, karena tidak memiliki ruang khusus, rencana itu terpaksa diurungkan. Kini, Perpustakaan tampil di luar ekspetasi saya. Sangat memukau. 


Ada banyak learning yang akan di dapatkan di ruang ini. Ini adalah salah satu kesiapan Perpustakaan Unsyiah di Era Industri 4.0.

Suasana perpustakaan yang saya inginkan dulu sekarang sudah menjadi nyata. Bukan lagi khayalan belaka. Namun, sudah dirasakan oleh semua mahasiswa Unsyiah Library Fiesta. Ini di luar ekspetasi saya.

Satu diantara banyak tulisan yang telah dimuat di Warta Unsyiah
Perpustakaan sangat berarti bagi saya, karena di ruang ini saya berhasil menulis dan memuatnya banyak karya di media cetak, online, koran nasional, termasuk majalah Warta Unsyiah yang sering membutuhkan tulisan saya kala itu. 

10 komentar:

  1. Perpustakaan tak akan pernah luntur meskipun era digital telah dimulai. Mari terus membaca dan belajar di perpustakaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul bg, dan harus dilestarikan dengan cara digital pula.. Biar mampu bertahan

      Hapus
  2. Iya, perpustakaan itu memang jadi tempat nyaman tersendiri untuk dikunjungi. Berlama-lama, dengan aroma bukunya dan ketenangannya. Apalagi dengan hadirnya teknologi penunjang seperti ini, semoga bisa terealisasi di perpustakaan daerah lain. Atau paling tidak, bisa ada buku bacaan untuk yang tidak punya perpustakaan.

    BalasHapus
  3. Keren banget perpustakaan kampusnya, Mbak, ruangan diskusi laki-laki dan perempuannya terpisah. Perpus di kampus saya juga besar, dan yang paling saya suka dari perpustakaan adalah suasananya yang tenang. Suasana perpus itu cocoklah untuk merenung, menulis laporan penelitian hingga tulisan lainnya

    BalasHapus
  4. Tempatnya nyaman, ya. Terutama ruang bioskop. Keren pastinya

    BalasHapus
  5. Kisah masa kecilnya dg buku mirip sepertiku mbak. Akses terhadap buku susah. Jd pas nemu tempat yg oke bgt buat baca, aku sgt bahagia.

    BalasHapus
  6. Perpustakaannya keliatannya asyik banget neh ... eh, foto-fotonya yang banyak dong

    BalasHapus
  7. Jadi penasaran tampak asli dari perpustakaannya

    BalasHapus
  8. Wah foto rak buku di perpustakannya dung, penasaran aku hehe

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.