Kejadian Unik ini Mungkin Pernah Kamu Lakukan Saat Liburan


Hari ini, untuk kedua kalinya saya kembali menampakkan wajah di kota yang terkenal dengan budayanya, Daerah IstimewaYogyakarta. Dulu sekali, saya pernah punya mimpi untuk melanjutkan studi ke kota rindang ini. Namun, seiring permintaan tuntutan, niat tersebut terpaksa diurung dan memilih untuk bekerja di Ibu Kota Aceh.
Meskipun begitu, Yogyakarta tetap menjadi kota pilihan untuk dinikmati keistimewaannya. Pagi ini, Saya berangkat ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta Api Prameks. Dari stasiun Solo Balapan ke stasiun Tugu Yogyakarta hanya dikenakan tarif sebesar Rp. 8.000/orang. Tapi jangan ditanya ongkos pesawat dari Aceh ke Solo, Anda bisa cek sendiri. Hehe..
Tujuan utama ke Yogyakarta adalah untuk mengikuti Festival Film Puskat (FFP) di Studio Audio Visual Puskat, Sleman. Selama tiga hari di sana, saya menghabiskan waktu untuk menambah wawasan seputar perfilman di Indonesia. Banyak orang-orang hebat yang saya temui, mereka adalah sineas-sineas hebat dibalik film keren yang selama ini Anda tonton.
BW. Purbanegara saat mengisi kelas malam di FFP 2018

Di sini, saya tidak banyak membahas seputar perfilman di Indonesia, tetapi lebih kepada wong ndeso-nya saya yang melakukan hal-hal unik selama di Yogyakarta. Di simak dengan hati-hati, ya, mungkin suatu saat, Anda akan mengulangi hal yang sama seperti saya:

Terlihat Berani, Nyatanya Penakut
Sore itu, sekitar pukul 18.00 wib, saya tiba di Studio Audio Visual Puskat, Sleman. Karena kekhawatiran berlebihan dari si Abang, jadinya ia yang mengantarkan saya dari Solo ke Yogyakarta, kira-kira sekitar dua jam perjalanan lamanya.

Tepi sungai Boyong letaknya Tepat di depan kamar saya (source: Instagram : @Puskat_pictures )


Suasana studio cukup romantis sebagai tempat shooting film horor sehingga membuat Abang saya langsung menyuruh balik lagi ke Solo. Setelah diyakinkan oleh penjaga studio dan Ketua Yayasan yang kebetulan sedang berada di tempat, Abang saya semakin tidak yakin.

Luas banget studionya dengan alam yang sejuk (source: Instagram : @Puskat_pictures )

Kata si Abang “Jangan pura-pura berani, ya, na! Besok pagi saja ke sini lagi naik kereta api, kalau tetap juga sepi begini, sorenya langsung balik saja ke Solo!”
Membujuknya tidak juga berhasil, akhirnya saya menyerah dan kembali ke Solo pada malam itu juga. Padahal gak seram-seram amat lah tempatnya, memang sih lokasinya yang super luas dan banyak pohon. Namanya juga studio seni. Melihat mas-mas yang gondrong membuat si Abang tambah menjadi-jadi.Hmm...
Kamar tempat saya dan sineas menginap

Selama tiga malam di sini, untuk menghindari kejadian aneh-aneh, sepanjang malam televisi selalu saya hidupkan di kamar. Padahal ini tempat aman-aman saja, nuansanya saja yang terlihat natural dan seperti di alam terbuka, dan sebenarnya suasana ini bikin ngangenin. Rasanya ingin balik lagi ke sana, tetapi cuma untuk meditasi saja.





Makanannya Lama-Lama Geli di Perut
Khususnya bagi kita orang Aceh yang terkenal suka makan pedas, tentu makan di daerah Jawa ini butuh penyesuaian yang lama. Meskipun di Aceh ada makanan Jawa-nya, namun untuk cita rasa sudah disesuaikan dengan selera masyarakat Aceh.
Satu hari di sana, masih bisa toleransi makan pagi-siang-malam dengan menu yang super manis. Hari berikutnya, saya mulai kewalahan, “Oh, Tuhan. Adakah Go-Send yang bisa ngirim makanan dari Aceh ke Yogya. Atau Jini Oh Jini yang bisa nyulap makanan ini hingga ada rasa lain selain manis!”

Provinsi yang Masih Menggunakan Sistem Kerajaan
Pemilihan Gubernur Yogyakarta dipilih secara umum oleh rakyat tetapi berdasarkan urutan silsilah keluarga dari kraton Yogyakarta. Inilah satu-satunya provinsi yang masih menggunakan sistem kerajaan. Kekentalan budaya yang dimiliki oleh Yogyakarta dapat Anda temui di setiap sudut kotanya, mulai dari bangunan (rumah, toko, perkantoran), penulisan nama jalan dan toko dari bahasa sangsekerta (awalnya saya sempat bingung, itu bahasa apaan ya! terbelit-belit gitu), pakaian sehari-hari masyarakat masih banyak yang menggunakan gaya tradisional, makanan tradisional, hingga jenis souvenir yang sangat kental kekhasan budayanya. Sangat jelas, jika ke Yogyakarta, Anda sampai bingung harus membawa pulang oleh-oleh yang mana, karena jenisnya sangat beragam. Saya sampai bingung mau membeli oleh-oleh yang murah, terlihat mewah, namun berkesan. Karena semuanya pingin di borong, tetapi isi dompet memburuk.
Pasar Malioboro




Taman Sari, Yogyakarta. Mumpung lihat Babang Bule berdiri, langsung di jepret aja deh. Yang kenal dengan Bulenya, boleh di taq ya !!!





Kota Pelajar yang Super Ramai
Jika dilihat aktivitas kesehariannya, Kota Yogyakarta ini aktivitasnya hampir sama seperti Kota Banda Aceh. sama-sama super sibuk. Salah satu penyebabnya adalah karena ini kota pelajar tempat berkumpulnya banyak mahasiswa dari luar daerah. Nah, untuk hari libur panjang atau peringatan hari Idul Fitri, Yogyakarta hampir sama seperti Banda Aceh, sepi, sunyi, senyap. Kalau pagi, bisa tidur-tiduran di jalan raya.
Ssstt... yang membedakannya ada di dunia hiburan. Jika di Yogyakarta, Anda akan mudah menemui beragam tempat hiburan malam seperti diskotik. Kalau di Aceh, jangan coba-coba, bisa langsung di gulung tikar oleh masyarakatnya.

Kota yang Cocok buat Ngadem
Wuiihh... kota yang terkenal dengan kuliner Gudegnya ini, ternyata merupakan kota yang cocok buat ngadem. Jangan heran, pada saat saya menginap di studio Puskat, saya sempat bergumam dalam hati, “Kok gak ada AC? Kipas angin lah minimal!” nyatanya, tanpa pendingin ruangan, jam 02.00 malam, saya mulai kecarian selimut karena dinginnya luar biasa. Hmm.. maklumlah, sudah terbiasa di Aceh, sering kepanas-panasan. Hehe
Satu lagi peraturan yang membuat saya kagum luar biasa untuk kota budaya ini, yakni setiap warga diwajibkan untuk menanam pohon di halaman rumah dan di setiap toko juga. Dan ini adalah peraturan pemerintah yang wajib dilaksanakan. Mantap oooiiii....

Nge-Gojek seakan Penduduk Asli
Kata orang, kalau kita pergi melancong sendiri, hati-hati jangan sampai menunjukkan wajah meusangak-sangak (terkesima sampai mulut terbuka), karena itu bisa membahayakan keselamatan. Kejahatan bisa terjadi di mana saja asal ada kesempatan. 
Dari Studio Puskat saya pesan Gojek menuju Taman Sari, lalu ke Pasar Malioboro untuk nyegarin mata dengan oleh-oleh (cuma untuk dilihat-lihat saja, kantong sekarat). Mumpung punya waktu setengah hari, maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sendiri pun jadi. Si Bapak Gojeknya ngajak ngobrol, yauda saya cuma “ngeh-ngeh saja” pura-pura paham apa yang diceritakannya.
Kembali ke studio, si Abang Gojek rupanya tidak sebegitu hafal jalan menuju Sleman. Si Dia tanyain ke saya, “Mba, Ntar naik jembatan, kan?” jawabanku semua “iya” padahal dalam hati sudah super was-was. Sedikit lagi sampai tujuan, si Abang Gojeknya beberapa kali salah masuk jalan, di situ baru saya bilang, “Maaf Mas, saya bukan orang asli sini!”

Aha... jadi di atas adalah beberapa peristiwa yang sulit dilupakan. Nah, buat Anda yang hanya duduk diam di tempat, so pasti kenangan-kenangan baru tidak akan pernah terciptakan.
Hmm.. saya mau kasih tips buat teman-teman yang suka travelling, yaitu jangan pernah takut untuk bepergian. Anda harus berani. Berfikir berlebihan yang negatif malah akan membuat Anda tidak bisa menikmati perjalanan. Waspada sekitar tetap ada karena hal itu untuk menghindari terjadinya kehilangan aset pribadi, termasuk diri kita sendiri.

Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

1 komentar: