Literasi untuk Mengubah Pendidikan Aceh


Terlahir sebagai alumni mahasiswa Fakultas Perguruan dan ilmu Pendidikan (FKIP)  di Universitas Syiah Kuala, tentu telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Seorang siswa yang lulus lewat jalur tes SNMPTN yang kerap dijadikan contoh oleh orang tua dan dihadapan siswa didikannya. Pada masa itu, sangat sedikit siswa asal daerah saya yang berhasil menduduki kursi Unsyiah lewat jalur tes. Bukankah ini suatu prestasi?

Seperti orang tua lain pada umumnya. yang menaruh harapan untuk kesuksesan masa depan anak-anak mereka. Bahkan, ada yang rela bekerja keras demi seorang anak agar mampu menyelesaikan pendidikan di Unsyiah. Layaknya teman saya, sosok Ayahnya yang bekerja keras di sawah milik orang lain sebagai kuli demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Nominal yang tidak seberapa, namun inilah harapan mereka. Agar cita-cita dan impian orang tuanya tercapai.

Biaya pendidikan di Perguruan Tinggi tidak lah murah, penyediaan sarana seperti pembelian buku, modul sebagai penunjang pembelajaran, alat-alat praktikum, foto kopi, dan sebagainya, semua itu membutuhkan dana yang tidak sedikit.  Beruntung bagi mahasiswa yang biaya SPP ditanggung oleh beasiswa atau Bidik Misi sehingga dapat mengurangi sedikit beban keluarga. 

Kala itu, kondisi pemerataan beasiswa tidak sebagus hari ini. Masih banyak ditemukan kecurangan dan penyelewengan. Saya sampai berkali-kali mencoba jalur beasiswa berprestasi, dan sekali pun tidak pernah berhasil. Sangat memprihatinkan yang orang tuanya berkedudukan tinggi di suatu instansi malah memperoleh beasiswa Bidik Misi, hingga tertukar oleh mahasiswa yang kurang mampu. 

Dua tahun kelulusan saya, banyak hal yang telah berubah dari Unsyiah. Kampus ini kini mampu memperbarui sistem hingga bersaing mengalahkan Universitas lainnya di seluruh Indonesia.  Bahkan, namanya kian harum di kancah Internasional. Mahasiswa mulai menemukan kemudahan dalam mengakses segala ilmu pengetahuan. Kebutuhan-kebutuhan pendidikan telah tercukupi dengan baik karena sarana dan prasarana yang kian memadai. Keahlian tenaga pengajar pun kian terasah menjadi lebih kompeten.



Pada tahun 2018, berdasarkan data dari Pemeringkatan Universitas Dunia oleh Webometrics merupakan sebuah inisiatif dari Lab Cybermetrics, sebuah kelompok riset milik Consejo Superior de Investigaciones CientΓ­ficas (CSIC), badan penelitian publik terbesar di Spanyol yang melakukan pemeringkatan terhadap lebih dari 21.000 perguruan tinggi seluruh dunia. 

Pada tahun 2018, Unsyiah menduduki peringkat pertama untuk seluruh perguruan tinggi di luar pulau Jawa, dan peringkat ke-5 ditingkat nasional, di bawah Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Gadja Mada (UGM) Jogjakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta Institut Pertanian Bogor (IPB). Tahun lalu, secara keseluruhan, Unsyiah berada di posisi ke-11, namun secara kategori Excellence,  Unsyiah juga berada di rangking 5. 

Sistem di Unsyiah terus mengalami kemajuan, beragam mahasiswa mulai menunjukkan kualitas serta kreatifitas diri agar mampu bersaing di dunia global. Tidak hanya mahasiswa, dosen sekali pun mulai bersaing di bidang penelitian, penulisan jurnal ilmiah, serta pembaharuan metode pembelajaran. Kesuksesan Unsyiah juga tidak luput dari semangat serta kerja keras seluruh civitas akademik Unsyiah.

Prestasi Unsyiah terus menuai hasil dibalik kerja keras selama ini. Muhammad Irsan bersama timnya, Mahasiswa Fakultas Hukum berhasil meraih Juara I lomba Debat Konstitusi MPR Tahun 2018, Agustus lalu mengalahkan Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat. Perjuangan yang tidak mudah, setiap harinya mereka terus belajar dan membaca buku demi mengharumkan nama Unsyiah.

Sistem pendidikan di Unsyiah mulai menjadi sorotan universitas lain. Kampus yang dulunya kumuh, kini mulai mewarnai dunia pendidikan Indonesia. Tentu dibalik semua ini ada hal yang belum menjadi pusat perhatian perangkat pendidik, yakni kurang kepedulian terhadap perolehan wawasan setiap mahasiswanya. Hingga saat ini masih ada mahasiswa yang awam terhadap situasi dunia. Masih ada mahasiswa yang tidak tahu ilmu dasar dari suatu pengetahuan. Sekalipun mereka tidak lagi gagap teknologi, namun masih ada mahasiswa yang tidak tahu tentang kemajuan teknologi serta wawasan seputar negara lain, adat budaya di suatu daerah atau negara, bahkan kebiasaan baik dari suatu tempat yang bisa kita contoh.



Hal-hal terkait di atas tidak semuanya dapat ditemukan dalam proses pembelajaran di Kampus. Maka, setiap mahasiswa butuh informasi tambahan untuk membuka jendela dunia. Salah satunya adalah dengan memperbanyak membaca buku sebagai sumber wawasan serta cara paling akurat dalam memperoleh informasi. Lewat sebuah bacaan, seseorang mampu menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. 

Pada tahun 2016 lalu, berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara soal minat membaca. Bagaimanapun perihal menumbuhkan minat baca perlu diambil tindakan, karena seperti negara Firlandia yang menduduki peringkat pertama dalam dunia pendidikan. Prestasi yang diperoleh oleh negara tersebut tidak lain karena tingginya minat baca oleh masyarakat di negara tersebut.



Perpustakaan Unsyiah juga telah mengambil andil dalam menumbuh kembangkan minat baca dikalangan mahasiswa dengan konsep terbarukan yang ditawarkan. Sarana dan prasarana yang memadai ternyata masih banyak kalangan mahasiswa yang belum memanfaatkan fasilitas tersebut. Hal ini berdasarkan hasil wawancara secara random yang dilakukan penulis untuk melihat minat baca mahasiswa Unsyiah dengan mengajukan pertanyaan, “Sebutkan judul buku yang sudah selesai dibaca dalam bulan ini?” sebagian besar dari mereka tidak dapat menyebutkan karena belum ada buku yang dibaca sejak beberapa bulan terakhir.



Hilangnya minat baca dikalangan mahasiswa harus dijadikan prioritas penting dalam memajukan Unsyiah yaitu menciptakan lulusan yang berkompeten, berwawasan luas, dan seperti Visi dari Unsyiah itu sendiri, “Menjadi Universitas yang inovatif, mandiri, dan terkemuka di Asia Tenggara dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat”.

Menjadi universitas yang memprioritaskan pendidikan tentu ada beragam usaha yang harus ditempuh untuk menghasilkan lulusan terbaik. Salah satunya adalah dengan melihat sejauh mana tingkat kemampuan mahasiswa dalam memahami suatu kondisi, masalah, bahkan peluang untuk maju.

Seperti pernyataan dari Helvy Tiana Rosa, salah seorang Dosen Sastra Indonesia di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang memberi contoh cara menumbuhkan minat baca mahasiswanya adalah dengan menerapkan wajib membaca minimal satu judul buku sebelum konsultasi skripsi/ tugas akhir. Penerapan ini cukup berhasil membuat minat baca mahasiswanya semakin tinggi. buku pilihan tidak dibatasi, fiksi maupun non-fiksi.



Bukankah Unsyiah juga mampu menerapkan hal serupa, misalnya mewajibkan membaca buku minimal 15 menit sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar. Menerapkan wajib membaca minimal tiga buah judul buku selama satu semester, dan sebagainya. Jika hal ini terus dilakukan terus berkesinambungan, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Unsyiah dapat menyusul prestasi seperti universitas-universitas maju lainnya. Dengan ini maka visi dan misi Unsyiah dapat terealisasikan dengan maksimal.










Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

18 komentar:

  1. Keren euy.. Juara 5 nasional..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah.. Semoga tahun depan juara 1 😊😊

      Hapus
  2. Bravo Unsyiah. Karamah Syaikh Abdur Rauf Singkil.

    BalasHapus
  3. Wah kampusnya berprestasi banget apalagi kalau makin melek literasi pasti tambah berkilau yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba.. Bener.
      Literasi penting banget untuk kemajuan pendidikan ya mba

      Hapus
  4. Semoga prestasinya semakin menginspirasi dan semakin melek literasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin...
      Semoga tahun depan semakin melek literasi ya mba..

      Hapus
  5. Berkaca pada diri sendiri, minat baca semakin hari semakin tergeser oleh gadget. Saya sendiri punya lebih dari seribu buku di rumah, dan beberapa di anataranya ada yang belum tamat dibaca. Sungguh perjuangan banget menumbuhkan minat baca lagi setelah beberapa tahun terakhir nggak memberi target pada diri sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, dan butuh dikerasin diri untuk bisa bangkit lagi menumbuhkan minat baca ya..

      Hapus
  6. Barakallah dan selamat berjuang kak, btw kak astinaria ini asli aceh? Boleh dong minta kopi Gayo.nya 😍😍 hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mas, asli Aceh.
      Boleh donk, sini kirim alamatnya :)

      Hapus
  7. Semangat ya Kak ... memang tidak mudah, tappi pasti bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. insyaAllah... harus diawali terlebih dahulu, kalau tidak, ya gak jalan-jalan.. hehe

      Hapus
  8. Aku nih, bulan ini belum ada yang tuntas baca buku kecuali buku dongeng untuk anak2, huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita yang sudah besar saja, masih suka baca buku anak-anak ya mba.. saya juga.. hehe

      Hapus
  9. Membaca buku memang selayaknya dibikin jadwal begitu ya biar jadi terbiasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyapp.. benar sekali mba.. dan harus dipaksa juga

      Hapus