Cerita Leuser: Berteman dengan Alam, Bersahabat dengan Tumbuhan



Cerita-cerita tentang Leuser. Saya pun baru mengenal lebih dekat sekitar dua tahun lalu. Yang saya tahu, Aceh punya hutan. Leuser namanya. Kata guru saya dulu, hutan Aceh adalah paru-paru dunia. Kita harus menjaga dan melindunginya agar rumah tidak banjir dan lingkungan tetap terjaga keasriannya, jangan sampai alam mengamuk dan menggulung kita dengan bencananya. Hutan itu baik, dia mengeluarkan oksigen dalam jumlah banyak untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup agar bisa bernapas lega. Hingga kita dapat hidup sehat tanpa harus membeli oksigen buatan. Hanya sebatas itu pengetahuan saya.

Di perkuliahan, saya mengenal sebuah komunitas. Tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa yang cinta alam. Mereka suka bermain dan bercerita tentang Leuser. Juga tantangan yang didapatkan dalam Leuser yang mampu menguji adrenalin. Camping, tracking, dan menikmati arung jeram di sungai Leuser. Aktivitas seperti ini bukanlah permainan langka bagi anak-anak pecinta alam. Bersama teman-teman, mereka merasa sangat bangga karena Aceh mempunyai hutan Leuser yang kaya akan keindahan alamnya.

Sumber foto: Rizki Amelia
Seseorang yang baru saya kenal beberapa bulan lalu. Dia Sekretaris Desa di Bener Meriah di salah satu kampung. Aku tanyakan perihal yang sama. Tanggapannya tentang Leuser, “Hutan kami aman hingga hari ini. Masyarakat kami tidak ada yang merusak hutan. Sebagian dari mereka yang bermata pencarian di kebun, tidak menganggu area hutan. Kami hidup baik dengan hewan lindung di sekitar Leuser. Namun terkadang ada saja masuk orang luar ke dalam hutan untuk melakukan penambangan liar, dan kami tidak kenal itu siapa.”

Mahasiswa Megister Biologi yang pernah meneliti tentang kehidupan di Leuser di kawasan Keutambe pada tahun 2015 lalu. Baginya hutan Leuser adalah paru-paru dunia. Dan banyak sekali keanekaragaman hayati suaka margasatwa. Ilmuwan-ilmuwan dunia selalu meminta Indonesia untuk melindungi hutan Leuser, karena di dalamnya terdapat beranekaragaman ekosistem yang sangat kompleks. Hutan Leuser lebih kaya dibandingkan hutan Kalimantan dan tempat lainnya. Makanya banyak ilmuwan dari beragam negara yang melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Leuser. Mereka bisa sampai berbulan-bulan menelitinya, hewan atau tumbuh-tumbuhan.

Sumber Foto: Rizki Amelia ( ini foto kak Rizki Amelia bersama teman-temannya saat melakukan penelitian)


Bapak saya bilang. Capek-capek kita jaga hutan, dirawat dan dilestarikan. Kita udah-uduh kampanye Save World. Anak cucu kita didik untuk tidak merusak alam. Namun, Bapak kecewa saat orang di negeri tetangga terus meminta Indonesia menjaga hutan, sedang mereka berlomba-lomba dalam membangun perekonomian serba canggih. Gedung-gedung menjulang tinggi. Teknologi beragam bentuk diciptakan. Kata Bapak, Kita telah dibudakkan sama akal ghazwul fikri dari mereka. di sisi ini Bapak sangat kecewa.

Sumber foto: Rizki Amelia

Sumber foto: Rizki Amelia

Perempuan yang berdomisili di Aceh Barat Daya, dia pernah membuat beberapa artikel tentang kekayaan alam Aceh yang dikumpulkan menjadi sebuah majalah penelitian. Dia cukup menyanjung kekayaan alam kita. impian terbesarnya sama seperti saya, yakni mengunjungi Taman Wisata Gunung Leuser. Namun, raut wajahnya menyedihkan saat ia harus menceritakan kondisi Leuser kita saat ini. Banyak yang rusak. Kerusakan ini disebabkan oleh tangan manusia. Karena semakin majunya teknologi, pertumbuhan pun semakin pesat. Perekonomian mengalami peningkatan sehingga hutan sering menjadi sasaran sebagai mata pencarian warga. Ada yang digundulin untuk ditanam sawit, kopi, pembangunan rumah, dan dijadikan sebagai tempat wisata.

Sumber foto: Rizki Amelia

Ucapan dari sosok anak kecil yang sedang menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Dasar cukup menohok akal sehat saya. “Guru selalu menasehati kami untuk tidak buang sampah sembarangan. Tidak boleh mencemari dan merusak lingkungan. Nanti datang banjir dan Tsunami lagi. Kami takut kalau Tsunami datang lagi, tetapi untuk membuang sampah di tong sampah itu berat. Kami sering melihat orang dewasa membuang sampah di jalanan, di lempar gitu aja di tempat umum. Di TV pun gitu bilangnya, banyak sampah-sampah di sungai orang dewasa yang buangnya, bukan kami anak kecil, dan akhirnya kami pun menirunya.”

Beberapa pertanyaan di atas saya lontarkan ke ragam orang dengan latar belakang pendidikan berbeda Setiap argumen mereka adalah pandangan terhadap kondisi hutan di Aceh. Melestarikan Leuser ada pro dan kontra, ada yang mau dan tidak, bahkan ada yang tidak peduli tentang kondisi Leuser. Namun, di balik apapun beragamnya argumen seseorang, kita patut bersyukur atas keunikan dan kekayaan yang tersimpan di Taman Nasional Gunung Leuser.


Banyak orang yang tidak tahu dan tak mau mencari tahu tentang sisi menakjubnya dari sebuah Leuser. Sebagian hanya mengira bahwa Leuser adalah sebatas hutan belantara. Seorang Profesor yang mengajar di MIPA Kimia Unsyiah pernah mengatakan kepada saya, “Kalian tahu apa hebatnya Hutan kita? Dari sini bermula saya dan ilmuwan lainnya bisa menemukan obat untuk menyembuhkan orang sakit. Saya sangat berterima kasih kepada hutan Aceh, karena di sana saya menemukan beragam bentuk tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan utama penelitian. Jadi, hutan Aceh bukan sekedar hutan biasa. 

Ada yang Unik di Leuser

1.   Taman Nasional Gunung Leuser merupakan laboratorium alam yang sangat kaya, dan memiliki jumlah habitat sebagian besar fauna, mamalia, burung, reptil, ampibia, ikan, dan invertebrata. Di dalamnya bahkan terdapat 380 spesies burung dan 205 spesies mamalia. Beberapa fauna termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi seperti orang utan Sumatera (Pongo abelii), harimau Sumatera (Panthera tigris), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus) dan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), (Sumber data dari https://travel.detik.com/).

Sumber foto: Rizki Amelia
Sumber foto: Rizki Amelia
 
Sumber foto: Rizki Amelia

Sumber foto: Rizki Amelia

Sumber foto: Rizki Amelia
Sumber foto: Rizki Amelia ( Jenis Jamur Ganoderma sp)
Sumber foto: Rizki Amelia

2.   Menyediakan suplai air yang sangat banyak yang cukup dimanfaatkan oleh masyarakat di seluruh Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. 

Sumber foto: Rizki Amelia
Sumber foto: Rizki Amelia
Sumber foto: Rizki Amelia

3.    Cagar alam yang kaya. Leuser menyediakan Cagar Alam Gunung Leuser, Kappi Cagar Alam, Cagar Alam Kluet, Sikundur-Langkat Wildlife Reserve, Ketambe Research Station, Singkil Barat, dan Dolok Sembilin.

Sumber foto: Rizki Amelia (Tumbuhan Paku Rane)
Sumber foto: Rizki Amelia
Sumber foto: Rizki Amelia

Maka rawat dan jaga ia sebagai bentuk terima kasih kita kepada Tuhan (Allah SWT) yang telah menganugerahkan kekayaan alam yang tiada bandingan. Harapan saya dan kita semua adalah tidak ingin bencana terulang kembali seperti banjir bandang yang pernah terjadi di Kabupaten Garut, Sumatera Barat tahun 2016, di Sulawesi Utara, dan beberapa tempat lainnya.  Sudah jelas jika bencana terjadi kita harus menangung kerusakan, hilangnya nyawa anggota keluarga kita atau harta benda yang lenyap. Juga hilangnya keanekaragaman alam yang sangat kompleks. Sebagai bentuk keadilan sosial, bukankah sesama makhluk hidup kita tidak boleh mempertahankan ego dan sombong. 



Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).





astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

18 komentar:

  1. Tulisannya sangat menarik dan menginspirasi. Sudah seharusnya kita sadar Bahwa dengan menjaga kelestarian hutan, kemudian sadar terhadap pembuangan sampah yang tidak sembarangan (pada tempatnya) hidup kita akan aman dan selamat dari bencana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika kita ingin penerus kita sadar, kita sendiri sebenarnya yang harus sadar dulu.. hehe karena pada dasarnya anak-anak itu meniru org yang lebih dewasa kan? hehehe

      Hapus
  2. Sis bunga yg ada bentolan hitam sangat menarik karena baru lihat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sis, saya juga baru lihat, tapi sayangnya gak tau apa nama bunga itu.. Hehe

      Hapus
  3. Mantap gan...

    BalasHapus
  4. Memang harus ke sana kita untuk kenal lebih dekat Leuser :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali bg Ibnu, biar kita tau keadaan sebenarnya, jadi gak asal dengar kabar dari orang saja kan?.. Wkwk

      Hapus
  5. Udah lama banget pengen main ke Taman Nasional Gunung Leuseur. Pengwn juga mendaki hingga ke puncaknya. Apadaya belum rejeki bisa ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau jadi main, ajak-ajak saya ya mba.. hehe

      Hapus
  6. Aku mau sahabat Ama manusia aja deh meski ada sakit hatinya. Kalo Sama hutan, beraaat dan .jauuuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha,,, tapi terkadang manusia itu lebih jahat wkwk

      Hapus
  7. memang seiring dengan perkembangan jaman, keberadaan hutan sekarang semakin terancam ya. semoga nanti generasi kita bisa selalu menjaga kelestarian hutan yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.... kayaknya makin lama makin cuek kita dengan kelestarian alam..

      Hapus
  8. Asyik juga yaaa buat ngecamp atau sekedar hunting foto.foto... terutama di daerah dekat sungainya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget,lihat fotonya aja bikin ngiler ya kan bg.. haha

      Hapus
  9. Masyaallahh aku penasaran sama floranya, hum cantik-cantik yaa.

    BalasHapus