Museum Tsunami Bukti Keteguhan Rakyat Aceh


Banda Aceh adalah kota  yang paling besar terkena dampak dari Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 silam. Gempa berkekuatan 9,3 skala Richer yang berpusat di 160 km sebelah barat Aceh dengan kedalaman 10 km ini telah menelan korban lebih dari 300 ribu jiwa, dan merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.
Sumber Foto: Maura K. Makmur (Pintu utama masuk menuju sejarah Tsunami)

Bukti peristiwa maha dahyat ini kemudian diabadikan di dalam Museum Tsunami yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda No. 3, Sukaramai, Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Museum ini bersebelahan dengan lapangan Blang Padang atau sekitar 500 meter dari Masjid Raya Baiturrahman.
Sumber Foto: Astina R (Saat menemani pengunjung dari Medan)

Museum yang dirancang oleh Bapak Ridwan Kamil –Walikota Bandung- ini dibangun atas bantuan beberapa lembaga, diantaranya Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) NAD-Nias sebagai penyandang anggaran bangunan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) sebagai penyandang anggaran perencanaan, studi isi, dan penyediaan koleksi museum serta pedoman pengelolaan museum, Pemerintah Aceh sebagai penyedia lahan dan pengelola museum, dan Pemerintah Kota Banda Aceh sebagai penyedia sarana dan prasarana lingkungan museum dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Museum tsunami dibangun pada tahun 2006 di atas lahan kurang lebih 10.000 persegi. Bangunan yang dirancang dengan konsep rumoh Aceh as Escape Hill menggabungkan konsep Rumoh Aceh dengan bukit tempat penyelematan diri saat tsunami serta gabungan interior dinding dari gerakan tarian Saman. Museum ini terdiri dari empat lantai yang dinding lengkungnya ditutupi  relief geometri dengan konsep yang berbeda-beda serta bernuansa islam. Lantai dasar Anda dapat menemukan kolam terbuka dengan dikelilingi oleh bebatuan bulan yang bertulis nama-nama negara yang turut membantu Aceh saat tsunami melanda. 

Filosofi dibalik bangunan ini melambangkan keberagaman budaya Aceh yang terlihat dari ornamen dekoratif elemen kulit luar bangunan, ornamen ini juga melambangkan tarian saman Aceh. Di lantai 3 Anda juga dapat menemukan beberapa falisitas lainnya seperti ruang sejarah, ruang edukasi, mushalla, souvenir, dan bioskop mini atau ruang yang disediakan bagi pengunjung yang ingin menonton film dokumenter gempa dan tsunami Aceh.
Sumber Foto: https://ikbalfanika.files.wordpress.com/2013/11/museum.jpg (Diakses pada tanggal 15 Maret 2018()
Hampir setiap harinya, museum ini ramai dikunjungi oleh berbagai wisatawan domestik maupun non-domestik. Museum yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Februari 2009 tersebut memiliki filosofi tersendiri dari setiap design bangunannya, antara lain:

Space of Fear (Lorong Tsunami)
Lorong Tsunami adalah akses awal untuk menuju ke dalam bangunannya. Lorong gelap ini selalu membuat pengunjung merinding saat melintasinya. Suara bacaan ayat Al-quran sejenek  membuat kita mengenang bagaimana gempa dan tsunami terjadi di Aceh dan di sisi kiri-kanan dinding terdapat air yang mengalir serta suara gemuruh jelas mendeskripsikan rasa takut masyarakat Aceh saat bencana tersebut terjadi. Lorong tsunami dengan panjang 30 meter dan ketinggian hingga 19-23 meter melambangkan tingginya gelombang tsunami yang menghantam tanah Aceh 2004 silam.

Space of Memory (Ruang Kenangan)
Setelah melewati lorong Tsunami, selanjutnya Anda akan langsung menjumpai ruang kenangan. Di ruang ini Anda dapat melihat 40 gambar kenangan Tsunami  Aceh yang ditampilkan lewat 26 monitor. Jumlah monitor melambangkan tanggal terjadinya bencana Aceh.

Design ruang ini seakan-akan membuat Anda berada di tengah laut dengan dinding-dinding kaca sekeliling ruangan. Gambar yang dihadirkan di setiap monitor mengingatkan kembali tentang bagaimana bencana itu terjadi.
Sumber foto: https://steemit-production-imageproxy-thumbnail.s3.amazonaws.com/ (diakses pada tanggal 15 Maret 2018)


Space of Sorrow (Ruang Sumur Doa)
Ruang berbentuk silinder dengan cahaya remang ini memiliki ketinggian 30 meter yang memajangkan kurang lebih 2.000 nama-nama korban Tsunami Aceh. Selain itu ruang ini juga mengambarkan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta, Allah azza wa jalla yang dilambangkan denga kaligrafi bertulis tulisan Allah yang terletak di atas cerobong. Filosofi ruang ini melambangkan bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada Sang Pencipta.

Sumber Foto: http://www2.jawapos.com/jppic/10714_9008_oke-Museum-Tsunami-Aceh-Boy.jpg ( Diakses pada tanggal 15 Maret 2018)

Space of Confuse (lorong Cerobong)
Lorong ini di design dengan lantai yang berkelok dan tidak rata yang melambangkan situasi masyarakat Aceh pada saat tsunami terjadi. Situasi saat itu mengambarkan kebingungan masyarakat Aceh akan nasib yang menimpa mereka, kebingungan saat mencari keluarga yang hilang, kebingungan karena kehilangan arah tujuan dan harta benda yang tertelan Tsunami.

Melewati lorong cerobong, Anda dapat melihat cahaya yang melambangkan harapan masyarakat Aceh untuk bangkit kembali dari keterpurukan. Saat itu masyarakat sangat mengharapkan bantuan dunia untuk memulihkan kembali fisik Aceh dan psikologi masyarakat Aceh. Inilah jembatan harapan yang di atasnya terpajang 54 bendera dari 54 negara yang ikut memulihkan Aceh kembali. Di setiap bendera bertulis kata “damai” dengan bahasa masing-masing bendera yang melambangkan pesan damai untuk Aceh setelah konflik yang berkepanjangan dan Gempa dan Tsunami Aceh.

Seiring berjalannya waktu, kini Aceh dan masyarakatnya telah bangkit dari keterpurukan masa silam. Pembangunan fisik Kota Banda Aceh sedang mengalami kemajuan pesat serta psikologi masyarakat Aceh yang terus berbenah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah (Sang Penciptanya).

Sumber Foto: Maura K. Makmur (Bagian Luar dari Museum Tsunami yang sering digunakan sebagai panggung pentas seni)

Sumber Foto: Maura K. Makmur


* Tulisan ini pernah dipublikasi di sebuah website www.visitaceh.id

Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

10 komentar:

  1. MasyaaAllaah indah nian museum iniiii, kapaan aku bisaa kesanaaa yaaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya doain semoga bisa segera ke sini ya kak.. Aamiin

      Hapus
  2. Museum tsunami jadi pengingat tak hanya warga aceh ya tapi mungkin manusia seluruh dunia bahwa ada kekuatan Maha Dahsyat di jagat ini yaitu Allah SWt sehingga kita tak patut sombong apalagi sampai berpaling dariNya.

    BalasHapus
  3. wah, aku udah lama denger tentang musium ini, tapi aku baru tahu kalo yang merancangnya Kang Emil. Keren ya, kapan-kapan ajak aku dong kak ke Aceh.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Oke mba. Ntar kabarin saja kalo ke Aceh..

      Hapus
  4. Jadi pengen ke Aceh, kemudian visit ke musium tsunami. Semoga ada jalan menuju Aceh yng indah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Saya bantu doa juga ya mba

      Hapus
  5. Cocok untuk refleksi dan muhasabah... paling tidak kita mengerti sejarah tersebut pada anak.anak ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. Renungan paling nyata ini bg

      Hapus