Karantina Haji yang Dulu Pernah Terkenal di Sabang



Pesona Pulau Weh ini semakin termansyur namanya dikalangan wisatawan lokal maupun mancanegara. Seiring maraknya tawaran pariwisata serta minat pengunjung terus bertambah, Pulau Sabang juga ikut terseret namanya hingga ke dunia luar. Turis terus berdatangan, uniknya banyak diantara mereka bukan untuk berlibur satu atau dua hari saja, bahkan ada yang menetap selama satu bulan atau lebih, beberapa malah memilih menyewa tanah milik masyarakat setempat untuk dibangun villa/resort pribadi.

Sabang, tidak hanya dikenal sebagai kota pariwisata alam, tetapi kota terujung ini juga menyimpan beragam kenangan sejarah masa lalu yang ditandai dengan beberapa bukti peninggalannya, seperti bangunan-bangunan yang masih utuh pada masa penjajahan dahulu, terowongan Jepang, Benteng Baterai A di Cot Ba’u, Meriam, Kompleks Makam Kolonial di Desa Kota Atas, Bangunan sisa karantina haji di Pulau Rubiah, dan banyak lainnya yang belum terekspos ke luar.

Pelabuhan Pulau Rubiah, di sini terdapat beberapa warung yang menyediakan menu makanan lengkap. Jadwal operasinya dari pukul 08.00 wib s.d 18.00 wib.
Kedatangan saya ke kota Sabang Agustus lalu cukup menghilangkan rasa penasaran tentang bukti-bukti peninggalan sejarah tempo dulu. Terakhir ke Sabang pada tahun 2012 silam, itu waktu yang sudah sangat lama dan kala itu saya tidak sempat menjelajahi seisi kota ini. Konon katanya kota Sabang ini semakin bagus pariwisatanya, rasa penasaran saya pun akhirnya terwujud.

Bersama seorang teman, kami berangkat ke Sabang dengan menggunakan kapal lambat. kebetulan hari Senin jumlah penumpang tidak ramai seperti hari-hari weekend atau moment tertentu. Menghabiskan waktu selama 4 hari di sana cukup membuat kami sangat puas menikmati bacpacker santai ini. 

Esoknya di hari Selasa, pagi hingga siang adalah waktu khusus yang kami habiskan untuk bersantai-santai ke Pulau Rubiah. Pukul 08.00 Wib, kami menuju Rubiah dengan menggunakan boat. Jarak tempuh sekitar 10 menit. Udara segar dan air laut yang sangat hijau menambah romantisnya cuaca saat itu.

Tiba di Rubiah, kami langsung menikmati snokeling. Tidak hanya menikmati permainan laut, konon katanya sate gurita di sini sangat lezat dibandingkan dengan tempat-tempat lain di area Sabang. Satu per satu tusuk sate menyisakan sisa bumbu kacang, perbincangan saya pun tiba-tiba beralih ke Sabang tempo dulu, sejarah dan bukti peninggalannya ingin saya lihat dengan kasat mata yang jelas. Akhirnya Bang Gam –Guide- pun mengajak saya naik ke atas untuk melihat salah satu peninggalan sejarah masa kolonial Belanda dahulu.

Jalan pinggir pantai menuju ke Karantina Haji

Makam Ummi Sarah Rubiah yakni merupakan orang pertama yang tinggal di Pulau Rubiah ini. Beliau yang selalu menjaganya.
Karantina haji ini merupakan asrama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda yang digunakan sebagai tempat persinggahan terakhir kapal jamaah haji yang hendak pergi ke Jeddah.

Rasa-rasanya saya tidak mampu lagi beranjak pulang dari Rubiah ini.


Berhubung si teman tidak sanggup lagi berjalan, alhasil hanya saya dan seorang guide yang menuju ke karantina haji megah ini. Dari pantai bibir Rubiah, saya harus menaiki beberapa anak tangga. Jaraknya tidak terlalu jauh yakni sekitar 5 menit, hanya saja jalur menuju ke karantina haji ini sudah mulai ditutupi oleh rumput serta ranting pohon.

Jalan menuju Karantina Haji yang mulai tertutupi rumput dan ranting pohon.


Menurutnya, pada tahun 1920-an bangunan mulai digunakan sebagai tempat karantina haji jamaah Indonesia, dengan menggunakan kapal laut, setiap jamaah haji harus singgah di Pulau Rubiah ini untuk dikarantina yang bentujuan untuk memastikan tidak membawa pergi dan pulang wabah kolera yang sangat ditakuti pada saat itu.






Melihat kondisi bangunannya saat ini sungguh di luar ekspetasi pikiran saya. Kemegahan yang tergiang-giang dahulu kini hanya sisa bangunan dengan atap yang mulai berjatuhan. Pintu satu per satu copot, jendela pun demikian. Sedikit pun tanpa tersentuh perawatan.







Karantina haji ini pernah mengalami renovasi sebelumnya setelah bangunan aslinya hanya meninggalkan jejak pondasi saja. “Setelah dibangun, Pemerintah Daerah tidak pernah lagi merawatnya”, ucap Bang Gam. Bahkan beberapa resort yang dulunya pernah berfungsi, kini hanya menyisakan atap yang mulai runtuh, dinding kayu pun membusuk. 


Resort milik Pemda yang tidak berfungsi lagi. menurut cerita, dulunya resort ini pernah ramai penginapnya karena letaknya yang sangat strategis. Mungkin penyebab salah satunya adalah listrik.





Jika suatu hari Pulau Rubiah berubah, Pulau ini akan jadi  Boracay Island-nya Aceh. Pulau termegah di dunia, keramahan masyarakat, budaya islam yang kental, juga menawarkan wisata alam, wisata bahari, dan wisata sejarah. Semoga! 






Saya kurang paham dengan batu nisan yang tersusun rapi di depan bangunan Karantina Haji ini, di sini tertulis nama dan tahun. Semoga segera dapat jawabannya.






Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar