Bertapak Mengejar Mimpi ke Mercusuar






Pulo Aceh adalah sebuah destinasi yang paling saya idam-idamkan sekian lama. Kerap mendengar cerita dari teman, mereka yang pulang-pergi terus mengompor saya untuk ke sana. Dan akhirnya saya beranikan diri mengambil keputusan di tengah harap-cemas menunggu panggilan kerja.

Siang itu, saya chat Dekka. Mengajaknya untuk ke Pulo Aceh, anggap saja ini sebagai hiburan untuk menghilangkan sedikit kejenuhan akan rutinitas dalam mempersiapkan sebuah event besar.

Pukul 14.00 wib kami berangkat menuju Pulo Aceh bersama rombongan Camping Education. Saya dan Dekka langsung duduk di atas atas kapal nelayan – transportasi menuju Pulo Aceh- meskipun katanya berbahaya bagi perempuan. Kenekatan kami membuahkan hasil, kami berhasil mendapatkan spot gambar yang sangat indah di sepanjang perjalanan. 

Sebenarnya, Pulo Aceh menyediakan banyak sekali destinasi yang sangat indah, yang tidak bisa diungkapkan bagi Anda yang belum ke sini. Bahkan sepanjang menyeberangi lautan, rasa takjub itu tidak terusik sedikit pun oleh keindahan alam Aceh.

Sunrise di desa Rinon. kerbaunya lagi mandi pagi :)

Kecil Tapi Menghanyutkan...



Pulo Aceh merupakan pulau terpencil yang masih termasuk ke bagian Kabupaten Aceh Besar. Meskipun ini hanya sebuah pulau kecil nan terpencil, sejuta keindahan tersimpan di dalamnya dan sejarah perjuangan hingga Aceh merdeka dari penjajah pun tergambar jelas dari bangunan peninggalan. Banyak orang-orang tidak menyadari bahwa Pulo Aceh adalah salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan akan perjuangan pahlawan Aceh dahulu.


Apa yang Ada di sana?

Ketika kamu searching lewat Google, yang pertama keluar sudah pasti sebuah menara yang menjulang tinggi dan terletak di pingir laut lepas. Mercusuar adalah sebuah menara yang berwarna Merah dan Putih dengan ketinggian mencapai 85 meter. Menara ini berada di sebuah komplek seluas 20 hektare di pemukiman Peukan Bada, Kecamatan Pulo Aceh. 

Mersucuar dibangun oleh Belanda pada tahun 1875 oleh Willem’s Toren yang  diadopsi dari nama sang raja dan lebih dikenal dengan Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk, merupakan seorang penguasa Luxemburg  pada masa itu. Menara yang memiliki 8 tingkat ini kini telah dijadikan sebagai salah satu bukti peninggalan sejarah yang mampu menarik wisatawan berkunjung ke Pulo Aceh.


Menempuh perjalanan menuju Mercusuar butuh perjuangan berat, jalur yang ditempuh setapak demi setapak cukup menguras energi, dan akan terasa berat bagi Anda yang jarang berolah-raga atau tracking. Nah, sebelum Anda memutuskan untuk ke sini, baiknya siapkan amunisi terlebih dahulu dengan sarapan sehat, stamina yang kuat, dan energi cukup. Juga optimis.

Saat tracking menuju Mercusuar, saya dan Dekka menjadi peserta terakhir. Syukurnya ada panitia yang setia menemani. Dekka hampir menyerah, “Dekka mau pingsan!”

Alih-alih menyemangati Dekka, alhasil saya sendiri yang hampir pingsan, dan Dekka melaju cepat ke depan, katanya semangat dari saya sudah nge-buat kakinya susah untuk direm. Sementara di tengah perjalanan, sisa saya sendiri bersama seorang panitia “sedikit misterius”, sedang beberapa panitia lainnya masih tertinggal, Dekka sudah di depan seorang diri.

Suatu kejadian mistis yang membuat saya sulit melupakan kenangan masa itu. Hutan yang dipenuhi pohon-pohon besar, sunyi tak berpenghuni kecuali sesekali terlintas seakan-akan seseorang duduk di atas pohon, berpakaian putih berambut panjang. Mungkin ini hanya rasa takut sehingga semua pikiran dipermainkan oleh “ego”. Saya bersama seorang panitia terus melaju tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Saya mencoba membuka percakapan agar suasana tidak bertambah mencekam, namun ia hanya menjawab, “Jalan saja, sebentar lagi sampai.”

Akhirnya tiba juga setelah berkali-kali melontar pertanyaan yang sama dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Kita tiba di Mercusuar, istirahat 5 menit, langsung tancap gas  ke atas menara Mercusuar dengan menaiki 174 anak tangga. Ini adalah tempat perenungan yang keren. Dari atas, pikiran saya langsung main ketika seorang teman menceritakan bagaimana perjuangan Aceh dahulu saat melawan penjajahan. Seakan-akan di depan mata saya terbayang banyak kapal-kapal perang beserta prajuritnya yang sedang berlalu-lalang. Di sebelah sana, beberapa petak perkebunan yang digunakan warga untuk bertahan hidup. 

Kurang lebih satu jam aksi ini bermain di kepala saya dan sekejab buyar setelah panitia berteriak, “Ayo, turun!”




Di sini Anda Juga Bisa Bermalam



Selain menikmati aroma laut dari ketinggian Mersucuar, kamu juga bisa bermalam di sini, meskipun jumlah kamar yang ditawarkan tidak banyak layaknya hotel atau penginapan lainnya, tetapi cukup membuat kita nyaman. Kamu yang ingin bermalam di sini, baiknya booking terlebih dahulu.


Waktu yang disediakan sangat singkat, niat hendak mewawancarai salah seorang penjaga jadi terurungkan. Hal seperti ini yang kerap buat saya tidak puas saat berkunjung ke tempat atau destinasi baru. Berharap suatu hari bisa ke sini lagi dan nge-puas-puasin diri berlama-lama merasakan pesona Aceh dari Mercusuar Willem’s Toren.


Bangunan tua bukti peninggalan masa penjajahan Belanda dahulu ( Photo by: Dekka)

Ada banyak cerita unik yang saya alami saat berkunjung ke Pulo Aceh, so... wait for me in the next story, guys...

 
Kami akan kembali lagi, semoga na kesempatan jak lom keuno :)



astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

4 komentar:

  1. Ya ampun tempatnya keren banget Tina :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. Cobalah bg bai ke sini. Takjub pastinya..

      Hapus
  2. Balasan
    1. hehe... Alhamdulillah ya bg, Cantik sekali nanggroe kita :)

      Hapus