Kawasan Ekosistem Leuser: Lahan yang dijajah bukan dijaga



“Ku lihat Ibu Pertiwi, sedang bersusah hati. Air matanya berlinang, mas intan yang kau kenang. Hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan. Kini Ibu sedang lara, merintih dan berdoa.”

Senandung yang dinyanyikan oleh Cikitha Meidy sempat populer di masa saya kecil dulu. Namun, tidak sedikit pun mampu saya pahami baitnya. Ini hanya sebuah lagu guyonan yang kerap kami jadikan tawaan saat dihukum oleh guru atau senandung yang acapkali terdengar sebagai teman bermain.

Menuju masa SMA, lagu itu sesekali terdengar entah dari mana. Lagi, saya berpikir, apa yang dirisaukannya disaat alam kita masih kaya. Beragam foto yang tersebar di media sosial pun memperlihatkan keasrian tanah Indonesia. Dalam caption orang-orang menulis akan hijaunya tanah negeri ini. Orang-orang yang pergi ke hutan berlalu-lalang membawa pulang oleh-oleh. Bukankah itu menandakan bahwa alam kita masih kaya?


Pemandangan hijaunya alam Aceh di atas puncak Geurutee, Kabupaten Aceh Jaya. Ini alam kita yang selalu dibangga-banggakan, namun kita menutup mata apa yang sedang terjadi di dalam hutan Aceh.


Tahun berikutnya, saya mulai melintasi Seulawah sebagai jalur perjalanan menuju rantauan. Pesona yang dihadirkan Seulawah menusuk raga dan jiwa yang kembali segar. Asrinya mengalihkan pandangan. Hadir monyet-monyet yang mengulurkan tangan di pinggir jalan. Waktu berikutnya, saya mencoba melintasi Seulawah dengan menggunakan sepeda motor. Dan merasakan sensasi berada di atas pergunungan yang rindam dengan pandangan kehijauan. Melaju dengan kecepatan yang sangat pelan, alam Aceh benar sangat indah. Selang dua tahun berikutnya, pun dengan mengendarai sepeda motor, merasakan kembali sensasi yang dulu, namun sudah tidak lagi sama.

Dua bulan lalu, perjalanan melintasi hutan kembali saya taklukkan dari Banda Aceh hingga Aceh Singkil. Setiap melintasi hutan, saya menengadahkan sedikit kepala ke luar atau mengulurkan jemari, lalu merasakan sejuknya alam kita. lagi, rasanya sudah tidak seperti yang dulu.
Mungkin ini yang dimaksud dalam setiap bait lagu di atas. Alam kita semakin lelah akibat kekerasan tangan manusia. Bulan 12  tahun 2016, sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Lestari Leuser telah membuat kami tenganga tentang kondisi hutan kita. berulang kali kata “konservasi” diucapkan. Namun saya yang masih awam, tidak banyak yang mampu dipahami. Hingga sebuah argumen dari seorang guru menyadarkan,  “Gunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang untuk sepanjang-panjangnya waktu” satu kalimat yang cukup menusuk diri untuk tidak egois terhadap sumber daya alam.

Kini kata konservasi menjadi sebuah pelengkap kalimat yang tidak seharusnya orang abaikan. Di sini, tanyakan dalam batin Anda, apakah kita mengabaikan “Konservasi” demi kepentingan pribadi?

Kekayaan alam Aceh itu tiada bandingannya dengan harta yang dimiliki oleh seorang milyader. Bahkan seorang milyader pun dapat terpuruk kaku ketika alam sudah tak lagi kaya. 
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) namanya selalu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita, bahwa sebagai orang Aceh yang memiliki mahakarya sangat lengkap dengan keunikan isinya dan bahkan disaat negara lain tidak punya. Sadar atau tidak sadarkah kita.

Awalnya yang terlintas di pikiran saya, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) hanya lah sebuah hutan biasa yang kerap dijadikan tempat guyonan orang-orang, tempat mencari kayu, menebang pohon, membakar lahan, mengoleksi Margasatwa, atau lahan yang dijadikan sebagai sumber ekonomi rumah tangga. Hanya sebatas wacana tersirat tanpa sadar akan bahaya setelahnya.

Alhasil, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sangat lah luas yaitu mencapai 2.255.577 Ha dan terdapat di 13 kabupaten/kota, diantaranya Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Subulussalam, Aceh Singkil, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara berdasarkan SK Menhut Nomor: 190/Kptsll/2001.


Sumber:


Januari 2016, luas hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang tersisa: 1.820.726  Ha. Namun, pada Juni 2016 luas hutan KEL tinggal, 1.816.629 Ha. Artinya, selama enam bulan, hutan KEL hilang 4.097 Ha.” Data diambil dari Bapak Junaidi Hanafiah Wartawan Aceh.

“Januari -  Mei 2017, tutupan hutan yang hilang mencapai 2.686 Ha. Kerusakan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Timur (760 Ha), disusul Kabupaten Aceh Selatan (626 Ha), dan posisi ketiga adalah Kabupaten Nagan Raya (278 Ha),” Ungkap Agung Dwinurcahya selaku Manager Geographic Informasi System (GIS) Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA) dalam sebuah situs Mogabay Indonesia.

Still foto yang diambil dari Film Dokumenter "1880 MDPL" yaitu proses ilegal logging yang terjadi di Aceh Tengah. Meskipun mereka sadar bahwa hidup dan mencari rezeki dalam kawasan hutan lindung, namun alasannya, "Mudah-mudahan Pemerintah bisa mengerti keadaan kita," ucap salah satu warga

Still Foto diambil dari Film Dokumenter "1880 MDPL", pembabat lahan mengaku tanah di hutan lindung lebih subur untuk ditanami tanaman kopi, dan ini alasan utama mereka. Kesalahan fatal adalah menebang pohon, pembakaran lahan, tanpa ada pertimbangan manusiawi. Ulah mereka telah menyebabkan makhluk lain terkena imbasnya, termasuk keluarga maupun saudara mereka sendiri, nantinya.




Data di atas, tidakkah cukup untuk menyadarkan masyarakat bahwa kita sudah kehilangan sebagian alam yang konon katanya cukup berlimpah. Sepanjang perjalanan saya melintasi Barat Selatan, dari Nagan Raya hingga ke Subulussalam yang terlihat hanyalah pemandangan perkebunan sawit yang kian hari kian meluas. Ditambah lagi, titik-titik hasil pembakaran lahan sudah terang-terangan terlihat.

perjalanan menuju Aceh singkil, sepanjang jalan yang terlihat hanya pemandangan perkebunan sawit yang semakin meluas. Dan hampir rata-rata perkembunan kelapa sawit milik investor luar.

(Sumber :Hutan Suaka Margasatwa Rawa Singkil yang dirambah di Jalan Trumon- Bulohseuma. Foto: Chik Rini diambil dari http://www.mongabay.co.id/2015/08/09)


Satu lagi ada yang terlupakan, yakni Margasatwa yang sangat unik dan langka spesiesnya pun menjadi imbas dibalik kerasnya perlakuan manusia. Dulu saya pernah melihat tetangga yang membawa pulang beberapa ekor burung secara bertahap-tahan, “Kalau dijual harganya sangat tinggi, adanya cuma di hutan dalam,” ucapannya tidak membuat saya berpikir kritis, saat itu saya belum paham bahwa Margasatwa itu harus dilindungi, bukan untuk dibawa pulang, dijadikan pajangan, dikoleksi, atau diperjual belikan.

“Tim patroli menemukan 142 kasus perburuan dengan jumlah perangkap satwa yang dimusnahkan sebanyak 205 jerat.” Sumber data dari situs Mogabay Indonesia.

”Beberapa satwa liar seperti Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Orangutan Sumatera dan Gajah Sumatera juga bernasib sangat menyedihkan, populasi Badak Sumatera saat ini tidak mencapai 50 ekor yang masih hidup di alam liar. Sebagian besar Badak Sumatera diburu untuk diambil cula yang merupakan salah satu obat tradisional China,” Sumber Junaidi Hanafiah.


Gajah yang masih hidup di kawasan Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya, tidakkah kita merasa iba melihat spesies mereka kian hari mati terbunuh akibat ulah manusia. atau kita malah tidak sadar bahwa gajah dibutuhkan oleh manusia saat terjadi kondisi tertentu. lalu kenapa kita tidak membiarkan mereka nyaman di rumahnya? ( Foto: Gusti Yubi Aceh)
 

Monyet yang turun ke jalan, gajah dan harimau yang menganggu perkebunan warga. Mereka turun karena rumahnya dijajah oleh manusia. Mungkin selama ini kita masih awam seperti saya saat masih kecil dulu. Namun, Anda-anda yang telah tahu, masihkan berlaku awam seperti orang yang tertutup mata, mulut, dan teliganya di saat “konservasi” hanya dijadikan sebuah wacana.

Baca Juga : Benarkah Hutan Leuser Milik Kita



Kita hidup terlalu egois. Bumi ini tidak hanya milik manusia saja, tetapi milik Sang Pencipta yang dititipkan kepada makhluk hidup untuk saling menjaga bukan menjajah. 40 % dari tanah Aceh adalah Kawasan Ekosistem Leuser. Ini buktinya bahwa semakin canggihnya teknologi, penggunaan kendaraan meningkat, hadirnya industri yang setiap hari membuang limbah, maka cepat atau lambat, 40% secara berlahan akan hilang.

Pada Januari - Juni 2016, Kawasan Ekosistem Leuser telah kehilangan 4097 Ha. (sumber:
http://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2016/10/PETA.jpg )

Ajari anak dan keluarga Anda untuk tidak egois terhadap alam, karena ini sama halnya dengan Anda berterima kasih kepada Tuhan atas kenikmatan yang dirasakan hingga detik ini.  Membuka jendela mobil, lalu menerbangkan sampah dijalanan, itu perilaku yang tidak jauh beda antara kita dengan perusak alam di hutan sana.

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

12 komentar:

  1. Semoga, kita benar benar amanah dalam menjalankan peran sebagai khalifah di bumi ini ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ya.. Kita yang sudah tahu jangan seperti org yang tidak mau tau.. Hehe

      Hapus
  2. Semoga ada solusi untuk isu ini ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bg bai, itu yg sangat diharapkan. Tp nyatanya baik pemerintah, apalagi kita pada takut bertindak.. Hehe

      Hapus
  3. Semoga hutan aceh tetap terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu kita yg harus menjaganya... 😅😅

      Hapus
  4. Jika diambil terus menerus, kan lama-lama juga habis alam ini. Kesusahan ibu pertiwi sekarang benar-benar terjadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak Yelli. terbukti sekarang kan, ibu-ibu pertiwi yang lain pada susah semua

      Hapus
  5. Semoga orang-orang perusak cepat sadar akan pentingnya keseimbangan ekosistem :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga :)
      menunggu hidayah turun kali ya

      Hapus
  6. Penanggulangan masalah kerusakan hutan karena adanya izin illegal yang didapatkan. Dengan begitu para pelaku dengan mudah mempreteli sumberdaya di dalamnya untuk kepentingan pribadi. Salah satu cara ialah kerjasama antar semua lini dan stakeholder agar hutan terjadi dan bencana terhindar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, info yang didapat, pelaku illegal logging di sana (kalau tempat lain kurang tau) ada yang melindungi, jadi mereka tidak takut sama hukuman negara. kalo gini berarti tinggal menunggu hukuman dari Allah saja :)

      Hapus