Jangan Bilang Ini Rindu #PrayForPijay



Tahun 2014 silam adalah kali pertama saya menginjak kaki di Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya hanya terlewatkan begitu saja saat pulang kampung. Di Kecamatan Meureudu, orang tua ku bilang, kami punya saudara di sini, tetapi sudah lama tidak terdengar kabar. Rumah pun hilang alamat. Saat konflik kita merantau ke Kota Langsa, sejak itulah kita kehilangan beberapa sanak saudara, termasuk saudara yang di Pidie jaya. 

Mendengar cerita Ibu, sempat terpikir untuk mencari kembali saudara yang hilang selama saya KKN di sana dua tahun lalu. Tetapi niat itu terurungkan begitu saja, selama 30 hari di Gampong Hagu Kecamatan Panteraja, selama itu pula kami menjalin saudara baru dengan masyarakat di sana. Sesampai di Hagu, tak lagi pun teringat untuk mencari saudara yang telah hilang. Saya dan teman sekelompok KKN mulai disibukkan mengejar program-program kerja yang telah disusun sebelumnya. Sejak terbit matahari hingga pukul 00.00 kita masih beriteraksi sesama masyarakat Gampong maupun anak-anak.



 Pengabdian yang cukup singkat ini telah membawa rasa kekeluargaan erat terjalin. Kami layaknya keluarga mereka sendiri yang setiap hari dipenuhi perhatian. Segala keluh-kesah selama KKN, mereka lah orang pertama yang tahu. juga kehadiran anak-anak yang tidak luput dari pandangan. Setiap harinya rumah kami dipenuhi tawa-canda anak-anak. mereka rela tidak sekolah asalkan bersama kami  -jangan diikuti, ya-. Hingga saat ini, saya masih ingat satu per satu nama mereka. Tawanya. Juga tangis ketika hendak pamit.


Nadia, si kecil yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) bersama anak-anak lainnya. Sebelum dan sepulang sekolah, mereka selalu melapor ke rumah KKN. Nih, si Nadia bangun tidur langsung ke rumah antar kue buat kakak KKN. Kenapa Nadia jadi pengantar kue pagi? Ceritanya nih, awalnya kita coba rasa kue buatannya Ibu Nadia, akhirnya ketagihan dan beberapa hari berikutnya kita selalu pesan untuk disisakan kue. Eh, taunya Nadia kegirangan dan meminta agar dia saja yang mengantar kue ke rumah KKN. Haha, kita juga sering digratiskan atau beli 3 dapat lima.

Tetangga lain pun begitu. Acapkali kami diantar lauk-pauk. Ditraktir bakso dan mieso hampir setiap malam. Kami dimuliakan bagaikan raja dan ratu. Bahkan Pak geuchiknya sering meminjamkan sepeda motor, katanya biar gak rugi sudah sampai ke Pidie Jaya tapi tidak jalan-jalan. Jika sepeda motor tidak memungkinkan, Pak Geuchik rela mengantarkan kami dengan mobil pick up untuk keperluan KKN atau sekedar jalan-jalan. 



Bagi kami, Pidie Jaya adalah kampung kedua. Yang setiap saat merindukan masa-masa bersama masyarakat. Anak-anak yang selalu tertawa, sepulang mengaji malam, acapkali kita diajak melewati kuburan seluas 2 hektare. Adrenalin benar-benar terpacu ditambah suara aneh dari anak-anak dan jalan yang gelap. Masa itu, pengabdian yang paling indah.

Malam sebelum kami pamit pulang, anak-anak sudah menyiapkan kado terindah. Kadonya unik, di kota-kota kami tidak pernah mendapatkan hadiah yang seunik itu. Hanya mereka yang kreatif dan ini kali pertama saya mendapat surprice yang sangat luar biasa manfaatnya. Dan isinya adalah sabun mandi, deterjen seribuan, shampo sachet, odol, pewangin pakaian, dan beberapa bungkusan sachet lainnya.

Hadiah pemberian anak-anak. isinya luar biasa bedanya!!

Pagi sebelum kita dijemput L300, mereka mendatangi kami dengan deraian air mata tersedu-sedu. Kami tidak dilepas, tidak pun diizinkan pulang. Koper ditahan erat sama eratnya dengan pelukan mereka. Apapun yang terjadi, hari itu kita harus berpisah.

Tanggal 7 Desember 2016, Gempa bumi berskala 6.5 richer telah mengguncang Pidie Jaya dan sekitarnya. Di Banda Aceh gempa menandakan masuknya waktu Subuh. Saat itu, muadzin di masjid tempat saya tinggal sedang Azan. Gempa meluluhlantakan Rumah, ruko, masjid, meunasah, dan jalan di Pidie Jaya. Guncanga ini kurang lebih telah merengut 100 korban jiwa meninggal, dan puluhan lainnya luka-luka. Dikehidupan berikutnya, mereka harus membangun kembali luka yang membekas.

Saat mendengar kabar, hati kami pun ikut terguncang. Saudara kita se-agama dan se-tanah air menangis. Saat itu, aku hanya bisa mendoakan dan menyisihkan koin seadanya.rindu akan kabarnya anak-anak di  Hagu. Mental mereka termenung menyisakkan trauma mendalam. Seketika lenyap, tidak hanya harta melainkan senyum dan tawa.

Pagi itu, saya hanya bisa duduk diam. Termenung dalam perasaan gundah. Beberapa kali mencoba kontak ke Hagu, tidak ada jawaban. Hanya satu kontak yang masih tersisa di HP. Besoknya baru terdengar kabar dari teman KKN yang terjun langsung ke lokasi kejadian. Allah masih menyelamatkan Hagu, hanya beberapa rumah saja yang retak dan Meunasah. Namun, kondisi kejiwaan anak-anak tidak nampak oleh mata. Hingga hari ini mereka masih menyimpan trauma. Meskipun terlelap, hati dan pikiran mereka tidak tidur. Kalian di sana, anak-anak terhebat, walaupun tanpa kehadiran kami, kakak KKN, terus jalanin hidup untuk lebih baik. Terus tertawa dan jangan lupa bahagia.


Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar