Benarkah Hutan Leuser Milik Kita? #CareLeuser



Dua bulan lalu, saya mengetahui satu hal yang membuat akal sehat tak naik pikir. Lewat tontonan itu secara nyata mereka memperlihatkan aksi penebangan pohon secara ilegal. Tertawanya kegirangan setelah berhasil menebang pohon. 

Berdasarkan  Informasi yang saya dapat ternyata aksi trsebut juga diketahui oleh banyak pihak lainnya dan mereka cuma diam, termasuk pemilik wewenang. Dan katanya lagi bahwa si pelaku dilindungi oleh pihak tertinggi di daerah setempat. Memang situ hutan milik kalian saja?  
***            

Beberapa minggi lalu, saya bersama komunitas lainnya #CareLeuser mengikuti workshop di Hotel Grand Arabia yang diselenggarakan oleh USAID Lestari. Acara yang berlangsung selama dua hari itu cukup membuat kami tersadar akan permasalahan besar yang telah dan akan dihadapi Nanggroe terkait hutan Leuser. 

Permasalahan baru bisa saja terjadi, lambat atau cepat jika tidak dicegah sedari sekarang.  Dalam konteks seperti ini, pelaku wajib disadarkan dengan mengambil berbagai langkah tindakan. Tentu tindakan dari pemilik wewenang lebih diutamakan dari apapun. Kami pun begitu, mampu berbuat sebatas kemampuan dari hal yang paling segelintir.

Hutan kita, hutan Leuser indah sekali. Saya sering mendengar dan membaca kabar dari teman, keanekaragaman hayati yang Leuser hadirkan tidak akan mampu dikembalikan jika telah rusak. Destinasinya mampu menyelamatkan rakyat, fisik maupun jasmani. Pesonanya berdampak nyata. Indah sekali hutan kita jika semua makhluk hidup saling menjaga dan melindungi. Mungkin sampai ratusan tahun pun kita tetap tenang tanpa merepotkan diri dengan masalah-masalah perubahan iklim dan peristiwa alam lainnya.

Sumber:  http://www.pedomanwisata.com
Sumber: http://www.lestari-indonesia.org/wp-content/uploads/2016/02/IMG_5926-641x344.jpg

Lewat film dokumenter karyanya Leonardo Dicaprio “Before The Flood” mengisahkan beragam peristiwa yang telah hutan berikan kepada  kita ketika perubahan iklim dijadikan kabar fiktif belaka. Sepenggal cerita yang dikisahkan dalam film tersebut jelas terlihat bahwa kesadaran masyarakat muncul setelah efek itu terpampang nyata menusuk hidupnya. Dan apakah kita harus menerima dampak dahulu kemudian baru sadar?

Menjaga hutan itu kewajiban bukan keharusan. Maka tunaikan kewajiban. Lakukan dari hal yang terkecil, semisalnya jangan membuang sampah ke selokan/parit atau sungai, biasakan hidup bermartabat tanpa harus menyakiti fauna dan flaura. Jika tidak, jangankan untuk menyelematkan tujuh keturunan, kita pun belum tentu sampai memiliki keturunan. 

Saya ternganga ketika melihat data yang dipaparkan oleh Pak Junaidi Hanafiah dalam presentasinya, “Januari 2016, luas hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang tersisa: 1.820.726  hektare. Namun, pada Juni 2016 luas hutan KEL tinggal, 1.816.629 hektare. Artinya, selama enam bulan, hutan KEL hilang 4.097 hektar.” Miris sekali sudah nasib hutan Leuser kita.


Dalam enam bulan saja kita sudah kehilangan hutan seluas 4.097 hektar. Kita, masihkah menyalahkan Tuhan ketika bencana datang? banjir, longsor,dan bencana alam lainnya. Beranikah Anda mendatangi penambang liar dan para agen pelakon ilegal loging untuk meminta pertanggung-jawaban atas perbuatannya. 

Saat bencana datang, pekerja penambang liar yang berasal dari daerah setempat pun pasti mendapatkan dampak buruknya. Mereka bersama keluarga harus menerima nasib. Rumahnya roboh terkena longsor. Banjir merusak hasil panen. Gajah-gajah turun ke Desa. Lalu, adakah asuransi jiwa yang Anda peroleh dari para agent ilegal loging ketika musibah menghantam kita dan keluarga? Ketika itu terjadi, tamat lah hidup kita.

Logikanya, Anda bekerja keras untuk menghidupkan keluarga. Mencukupi ekonomi. Menyekolahkan anak-anak Anda, serta kebutuhan lainnya. Ketika bencana datang memporak-porandakan semua harta yang Anda miliki, termasuk istri, anak-anak, mungkin cucu Anda. Bukankah sama saja nihil hasil kerja keras Anda. Yang memperoleh manfaatnya sudah pasti para pelakon yang membudakkan Anda.

Sejak tahun 2015, Presiden Joko Widodo sudah mencanangkan peraturan baru terkait pengadaan Pendamping Desa yang akan diturunkan ke masing-masing Desa/Gampong. Pendamping Desa ini diberikan tugas yang bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat Desa/Gampong dalam menyampaikan anspirasinya. Masyarakat dapat mengusungkan kepada pihak Pendamping Desa terkait kesejahteraan Hutan Leuser agar dapat dimasukkan ke dalam RAB (Rancangan Anggaran Biaya) Desa atau RPJMDes (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa). Jadi, pembangunan desa tidak hanya difokuskan kepada pembangunan infrastruktur Desa saja seperti pembangunan gedung-gedung yang dianggap tidak terlalu penting, terkhusus Desa/Gampong yang terletak disekitar Hutan Leuser.

Teruntuk bagi kita yang tinggal jauh dari Hutan Leuser, tidak salahnya melakukan hal yang serupa demi menyelematkan Hutan Leuser. Kita orang Aceh, Hutan Leuser sebagian besar di Aceh dan milik Aceh, kalau bukan kita yang menyelamatkannya, kepada siapa lagi harus diharapkan. Yok, sama-sama membangun dan melindungi tanpa harus saling menyakiti sesama makhluk hidup.
***

“Berdasarkan data Walhi Aceh, Pada 2015, Provinsi Aceh rugi hingga Rp10 triliun akibat bencana alam. Kerugian itu terjadi karena pemerintah harus memperbaiki fasilitas yang rusak akibat bencana, termasuk membantu membangun rumah masyarakat”, Sumber data dari pemaparan Pak Junaidi Hanafiah dalam workshop Media Social Gathering.

Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar