Minang Untuk Pesona Indonesia



“Kita nak makan di mana?” siang itu matahari tersenyum dengan hamparannya. Terik tapi tidak panas. Singapure sedap sekali di pandang. Negara  yang bersih lengkap dengan peraturan sana-sini. Negara ekslusif, sebutku.

Dengan kedua transportasi ini cukup membuat kami kelelahan dan lapar dahaga setelah setengah hari melancong. Menggunakan kereta MRT, cukup lah untuk menghemat dollar, turun lalu lanjutkan dengan transportasi “kaki”. Singapure cukup menggila tentang perihal pejalan kaki. Saya sampai disenggol dua kali di Krinji, maklum lah terbawa suasana di Aceh yang selalu naik motor sana-sini –motor butut tapi berjasa-.

“kita nak makan di mana?” tanyaku lagi. Kaki dan perut rasa-rasa sudah tidak menyatu lagi. Seakan terpisah saat memejam mata. Kira-kira begitulah kata puitisnya. Khak..
“Mau Indonesia?” Adakah di negara ini masih tersimpan Pesona Indonesia. Dari jalan Muscat, mata ini tak berpindah sekali pun selain menatap restauran yang bertulis “Minang” dengan karakter tulisan khas atap rumah Minang.

ini pusat belanja kaki limanya orang Singapure


Masjid Sultan yang terletak diseberang warung Minang

Ini seperti kampungnya wisata halal. Tepat di seberang jalan, Mesjid Sultan cukup menyejukkan pandangan dengan pesona islamnya. Isi perut dulu berhubung waktu salat Ashar belum tiba.

Asik tempatnya, enak buat nangkring sehabis makan

 

Indonesia!!! Makan siang serasa makan di warung minang di Banda Aceh. Daun Ubi tumbuk (daun singkong rebus) tetap pilihan pertama. Asli sedapnya persis serasa di Aceh.

Daun singkong rebus sedap disantap. Dendeng Beladonya saja sampai digigit...
 
Kenyang, guys!! haha.. tapi itu piring orang.
 
Bungkusan dengan menggunakan daun pisang, itu khas banget Indonesia-nya
Bicara tentang warung Minang di Aceh, nih. Aceh itu provinsi yang sangat ramah wisatawannya. Di Aceh, kami sangat welcome terhadap siapa saja yang ingin singgah sebentar, pekerja, atau yang menetap selamanya. Tidak heran, jika warung Minang sudah sangat banyak ditemukan di setiap sudut kota, khususnya di Darussalam, Banda Aceh. Warung Minang sangat laris di sini, tanpa mengenal asal, suku, genre, masakan minang selalu menjadi santapan sedap di setiap harinya.

Pernah nonton atau dengar lagu “Nasi Padang” yang dinyanyikan oleh seorang pria berkebangsaan Norwegia, Audun Kvitland? Setiap baitnya, ia selalu menggambarkan bahwa nasi padang sangat berkesan di lidah dan selalu dirindukan. Negara kita ternyata sangat kaya pesonanya. Terbuktikan kalau masakan Indonesia juga mudah ditemukan di negara luar –khusus Negara Asia-, dan digemari oleh orang-orang luar pula.

Bicara tentang makan, pasti tidak luput dari harga. Harganya cukup menjangkau, di Banda Aceh satu porsi dengan satu lauk selain ayam dan ikan bakar, harganya hanya Rp. 10.000,-. Jikalau di Singapure, seharga SGD 4 sudah lengkap dengan satu botol air mineral. Harganya cukup murah untuk dijangkau, antara SGD 2 sampai dengan SGD 10.
 
Ini baru meja kita, makan biar kenyang aja, plus murah. backpacker!!!

Ada Kak Isni, Kak Yuna, dan Bang Tama, mereka gabung bareng kita pas nge-trip ke Singapure


Warung Minang adalah salah satu pesona Indonesia yang tersimpan di Singapure. Warung ini mampu menarik lidah beberapa orang chines yang telah menetap di sana. Nah, peraciknya pun koki Indonesia yang sudah menetap di Singapure dan keturunan Minang asli. Pantaslah, rasa masakannya sudah tidak diragukan lagi, apalagi halalnya.


Tuh, mereka abang-abang koki sudah membuktikan cintanya terhadap Indonesia lewat pelestarian masakan khas di negara luar. Kita juga bisa! Caranya ayo Vote Aceh dan Indonesia di World Halal Tourism Award 2016. Ini adalah kompetensi Internasional untuk memenangkan Indonesia sebagai wisata halal, dan Aceh tentunya di Abu Dhabi. Caranya vote di link: bit.ly/VOTEIndonesia (vote no. 2 dan 15 untuk Aceh) (vote daerah lainnya pada kategori 1, 3, 4, 6, 7, 8, 10, 11, 13, 14). Yok, dukung Aceh-Indonesia sebagai destinasi wisata halal Internasional.





















Add caption

Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

3 komentar:

  1. Memang lah pejalan Indonesia, kemana2 pasti cari dulu makanan daerah asalnya kaaan. Mantap! :D

    BalasHapus
  2. haha, iya makmur. udah seharian makan nasi lemak terus, jadi kangen sama makanan Indonesia...

    BalasHapus
  3. We need prevent the great mistake during the process, so I hope that the tips shared help us to achieve the best results.

    BalasHapus