Gas Metan yang Tidak Terabaikan Lagi Manfaatnya



Jika kau kurang bersyukur pada hidup ini? Cobalah ke Gampong Jawa, lalu merenung. Sepenggal kalimat dari guru yang membuat saya tersayat.

Di kemudian hari, demi membuktikan perkataannya, kami menelusuri Gampong Jawa yang katanya usai pulang dari sini kita akan berterima kasih kepada kecukupan hidup. Gampong Jawa yang terletak di Kecamatan Kutaraja Kota Banda Aceh adalah sebuah penampungan yang berhadapan langsung dengan Krueng Aceh yang airnya bermuara ke laut sekitar 300 meter dari lokasi. Sejak puluhan tahun lalu, Gampong Jawa telah dijadikan sebagai Tempat Pemroresan Akhir (TPA) berupa sampah maupun lumpur  tinja. Di sini, dalam satu gampong, masyarakat berbaur dengan segala hasil limbah makhluk hidup. Jika pun ditanya keluhan, tidak seorang pun akan berargumen. “Bagi kami, ini kehidupan”.



TPA Gampong Jawa pertama sekali dibangun pada tahun 1994 dengan luas area sebesar 12 Ha. Gempa dan Tsunami pada tahun 2004 telah melenyapkan TPA ini hingga hancur total dan menyapu seluruh sampah yang terdapat di TPA. Akhirnya pada tahun 2008 kembali dilakukan rehabilitasi dan Rekonstruksi hingga dapat difungsikan secara normal kembali. Begitu pula dengan masyarakat yang mulai membangun kembali rumah-rumah mereka akibat hempasan gelombang Tsunami. Tidak hanya penduduk asli yang masih tersisa, sebagian besar yang lainnya adalah masyarakat luar yang memilih berimigrasi ke Ibu Kota dan berpencarian sebagai pemulung pasca gelombang besar di Aceh.

Tahun berikutnya, saya bersama beberapa relawan yang bergabung dalam komunitas Open Comunity, di sini secara sukarela kita mengadakan kegiatan belajar-mengajar kepada anak-anak pemulung, banyak diantara mereka yang hidup krisis ekonomi maupun lingkungan. Demi membantu orang tua mengumpul botol demi botol air mineral bekas, tidak sekolah pun bukan lagi pilihan yang membingungkan. Ini kehidupan yang sudah membiasakan anak-anak di Gampong Jawa untuk melanjutkan hidup. Potret kehidupan masyarakat Gampong Jawa cukup membuat saya bertanya-tanya kemana arah kehidupan mereka selanjutnya.

Rumah masyarakat yang dikelilingi oleh sampah


Masa depan bangsa...
Sepuluh tahun pasca Gempa dan Tsunami, kondisi gampong ini mengalami perubahan secara berlahan, meskipun rumah-rumah kardus masih menceritakan kisah merana sebagian masyarakat. Sepanjang perjalanan menuju ke TPA, kondisi rumah yang bertempel seng atau triplet bekas masih jelas menggambarkan jeritan warga yang butuh kesejahteraan. Bukan untuk Ibu dan Ayah, tetapi masa depan anak-anak yang tidak boleh lagi mengulang kehidupan yang sama.

Ditengah kesulitan, mereka pun harus beradaptasi dengan lingkungan yang tidak harmonis dan jauh dari kenikmatan sehat. Sangat miris. Bila hujan begini tiba, disekitar rumah penuh dengan genangan air, di tengah air mengenang di situ pula mata pencarian mereka. 

 
Air hujan yang terkenang sudah beberapa hari lalu
Satu per-satu botol gelas air mineral di pisahkan dari tutup lalu dibersihkan. Bukan lelaki, melainkan para wanita dan anak-anak yang bekerja. Karena lelaki bekerja di tempat yang lebih berat. Tidak ada yang diam di sini, mereka bergerak sesuai naluri dan kesempatan ditengah sempitnya peluang.

Bila hujan begini tiba, disekitar rumah penuh dengan genangan air, di tengah air mengenang di situ pula mata pencarian mereka. Penggalan kalimat ini sebenarnya mengarah ke kondisi lingkungan di Gampong Jawa. Sampah di TPA sudah tidak terhitung jumlah ton nya. Bila hujan tiba, gas-gas hasil tumbukan sampah juga akan ikut terbawa bersama aliran air hujan. Pernahkah kita membayangkan gas-gas tersebut bisa saja membahayakan nyawa para Ibu dan anak-anak di tengah mengais rupiah.

 Tumbukan sampah yang telah menggunung dapat menghasilkan berbagai jenis gas berbahaya. Contohnya saja gas Hidrogen Sulfida (H2S) yang mengeluarkan bau menyengat, gas Metan (CH4), dan gas Amoniak (NH3). Mungkin bagi kita yang tidak paham akan ketiga gas ini masih menganggap sepele, tetapi bagi saya selaku alumni mahasiswa Kimia, mendengarnya saja sudah sangat menakutkan. Dulu hampir setiap hari kami menggunakan CH4 dan NH3 di laboratorium, pakaian serta peralatan keselamatan harus lengkap. Nah, bagaimana dengan mereka para pemulung dan masyarakat yang tinggal diseputaran TPA yang tidak paham akan bahayanya gas tersebut. Sama, mereka menganggap sepele, kecuali pemerintah mengambil tindakan sebelum masalah kritis jatuh ke tangan pemerintah itu pula.
 
(Sumber foto: www.antaranews.com) Gas Metan yang telah lama tersimpan di tumpukan TPA
Tumpukan sampah yang semakin menggunung akan membahayakan keselamatan masyarakat disekitarnya. Kerusakan lingkungan pun semakin parah jika tidak segera ditanggani. Melihat kondisi di TPA dan jumlah penduduk di kota Banda Aceh semakin meningkat. Maka pemerintah harus memikirkan cara baru. Tidakkah kita merasa bersalah jika terus mengambil manfaat ditengah penderitaan masyarakat Gampong Jawa yang setiap harinya merasakan efek buruk dari hasil sampah masyarakat. Lingkungan mereka tercemar. Udara tidak sehat setiap harinya.

Menyingkapi hal tersebut. Pemerintah Kota Banda Aceh tidak berdiam diri. Pemerintah memanfaatkan gas Metan (CH4) yang berasal dari tumbuhan sampah untuk diulang kembali menjadi bahan baku. Memasuki tahun 2015, Pemerintah Kota Banda Aceh telah menyusun program untuk mengatasi permasalahan di lingkungan masyarakat sekitar TPA yaitu dengan pemanfaatan gas Metan (CH4) sebagai pengganti gas elpiji.

Gas Metan (CH4) yang sebelumnya berasal dari TPA dialirkan ke tempat penampungan atau tabung khusus untuk diproses lebih lanjut. Beberapa tahapan proses dilakukan di Tempat Pemrosesan Akhir sebelum hasil akhir dialirkan ke rumah-rumah warga. Proses pembentukan gas Metan melalui tahapan Metanogenesis. Tumpukan sampah menghasilkan bakteri anaerob yang mengalami beberapa fase pembentukan sehingga hasil akhir berupa gas Metan. Gas inilah yang dialirkan ke penampungan yang terdapat di perumahan masyarakat, tahap terakhir melalui pipa gas Metan dapat dimanfaatkan sebagai pengganti gas elpiji.
 
Tabung penampungan gas Metan yang terdapat di perkampungan warga, dibuka dari pukul 07.00 wib s.d 18.00 wib
Berdasarkan pengakuan Ibu Sri Wahyuni, ia merasa sangat terbantu perekonomian keluarga setelah gas Metan dijadikan bahan bakar pengganti elpiji, “Gas Metan ini ramah lingkungan, api kompor yang dihasilkan pun biru, jika tidak dimanfaatkan bisa bahaya, karena sampah semakin menumpuk,” Ujar Sri salah satu warga yang sudah merasakan manfaat gas Metan.
 
Pipa tempat mengalirnya gas Metan ke kompor gas di salah satu rumah penduduk
 
Api dari penggunaan gas Metan
Ibu Sri mewakili masyarakat lainnya sangat beruntung dan terbantu aktivitasnya selaku Ibu Rumah Tangga. Tidak hanya aliran gas, masyarakat juga difasilitasi dengan dibagikan kompor gas per-rumah. Sebelum pemasangan, mereka diberi penyuluhan oleh pemerintah terkait. Bahkan setiap bulannya penyuluh datang ke masing-masing rumah untuk mengecek kondisi gas setelah pemasangan.

Potret pembangunan di Kota Banda Aceh berlahan-lahan mulai terealisasi. Meskipun ini bagian terkecil, tetapi perlu kita ketahui bahwa bagian terkecil inilah yang nantinya akan membawa pendombrak besar dikemudian hari.

potret pembangunan juga terlihat dari tiga buah rumah bantuan dari pemerintah untuk masyarakat Gampong Jawa





“Dalam seminggu saya bisa menghabiskan 2 tabung gas elpiji 3kg untuk kebutuhan selama jualan nasi. Harga elpiji 3kg antara Rp.30.000 s.d Rp.35.000 per-tabung, kami menunggu gas Metan juga mengalir ke sini, setidaknya akan membantu saya selama berjualan nasi,” Ratna yang belum terbagi manfaatnya.

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar