Krueng PDAM Jantho, Sepotong Pesona Aceh



Beberapa bulan yang lalu, kami pernah merencanakan pertualangan ekstrem, berkat usulan dari Dekmat –teman seatap organisasi-, namun gagal dengan pertimbangan musim hujan, air krueng akan berkeruh dan jalan tempuh yang dikawatirkan.

Sebutkan satu kata untuk gambar ini?

Alhasil, tepat minggu lalu, rencana telah terealisasikan. Bersama keenam teman perempuan dan kedua teman laki-laki –biasanya kaum hawa selalu menjadi minoritas, tetapi kali ini kebalikan-, kami menempuh perjalanan dari tempat tinggal masing-masing dan berkumpul di SPBU Aneuk Galong, Aceh besar. 

perjalanan ke Jantho kami lalui dengan melewati jalan tikus, karena jalan Banda Aceh-Medan sudah terlalu biasa, haha. Dekmat dan Arif, kedua guide ini luar biasa profesionalnya hari itu sebagai kaum minoritas. 30 menit kemudian, kami tiba di gerbang tugu kota Jantho.

Masih ada satu tahap perjalanan yang harus ditempuh, yaitu jalan anti-mainstream. Beberapa kali saya pergi ke Jantho, seperti ke Bukit Jalin, kami selalu melewati pusat kotanya, tetapi kali ini, guide membawa kami melalui jalan tikus, lagi. Kalian memang mampu.
Jalan kecil beraspal ini sunyi dari arus kendaraan, melewati perkampungan dan sesekali bertemu dengan indahnya bukit dan sawah yang terbentang luas nan hijau. Lama sudah tidak melihat padi se-hijau dan sesubur ini. Cantik sekali pesona alam Aceh kita, teman.
Hingga di penghujung jalan beraspal, perjalanan masih terus berlanjut. Jalan ke Krueng PDAM Jantho dapat ditempuh dengan melewati Greenland –tempat wisata buatan yang dilengkapi dengan permainan outbond-, waahh, pertualangan kali ini benar-benar diluar akal sehat saya, jalan kecil dengan bertebaran batu kerikil hingga membuat kami beberapa kali terpeleset. Juga bebatuan besar dan lubang di jalan terus menghiasi perjalanan menuju tempat tujuan.

Ini benar-benar pertualang, seperti dalam film Sherina, bedanya kami mengendarai motor. Hutan dan jalannya benar alami, sangat natural.
 “Helka, sampai kapan perjalanan ini akan berakhir?” tanyaku setelah beberapa kali terpeleset.
Sebenarnya jarak tempuh tidak lah terlalu jauh, hanya saja kondisi jalan yang berbatuan dan tidak merata, juga tanjakan yang dipenuhi  batu-batu, inilah yang membuat perjalanan terasa jauh dan letih.

Kurang lebih 30 menit waktu yang dibutuhkan dari gerbang jantho menuju gerbang PDAM, pagar utama menuju krueng mata air. Dan masih dibutuhkan sekitar 100 meter lagi jarak tempuh untuk tiba di krueng-nya. Bisa dikatangan pertualangan kali ini membutuhkan 3 tahapan langkah untuk mencapai tujuan utama. Untuk mencapai suatu target dibutuhkan lika-liku perjuangan, kataku.

Istirahat sejenak selagi menunggu seorang traveller yang menyusul di belakang. Dekka very-daebak. Sesulit perjalanan ini ia mampu mengarungi tanpa terpeleset sedikit pun. Dan saya saja, beberapa terpeleset dan slow emotion saat kendaraan terbaing ke samping. Alhasil knalpot motor berubah drastis menjadi suara knalpot pedagang ikan, “uuungkett.... ungkeettt,” begitu lelucon mereka.

Salah satu yang menyita perhatian saya adalah pada perputaran roda air. Setiap satu kali putaran, triliun molekul air melepas dan saling mengikat kembali. Aroma kesejukan pun mulai terasa, dinginnya air bagai es batu. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk istirahat, makan siang dan shalat sembari menunggu Dekka tiba.
semerbak merdunya disetiap hempasan perputaran roda

Lanjut lagi kita, guys...!!!

jalan menuju ke pipa jembatan harus ditempuh dengan berjalan kaki, hati-hati terpeleset untuk kesekian kalinya.. hahaha

proses turun dibutuhkan kerjasama tim, biarkan kedua guide menjadi fotografer.

Jalan pertama yang harus ditempuh yaitu dengan melewati pipa besi tempat air mengalir, pipa ini yang dijadikan jembatan untuk tiba di krueng nya. Lagi-lagi saya cakap, alamnya sangat natural. Jempatan pipa ini sangat panjang, nah cocok banget buat dijadikan walpaper saat berpose-pose atau pun selfie.
Pose-pose dulu di jembatan, sesekali tengok ke bawah lumanyan serem.. fotografer Dekmat

Sepanjang jembatan, kita sudah disuguhkan oleh kesejukan alam, aliran air yang mengalir diselah-selah batu, dan suara atmosfer alam sungguh menghayutkan.
Jreng.... kami sudah tiba, di sini!!! Destinasi alam Jantho berburu jejak si mata air. Yok, kawan, yang ingin merasakan tubuh beku seperti terendam dalam es, ke sini saja. Meskipun kami tiba di siang hari, namun sedikit pun tanpa terasa panas, sekayak berada di musim dingin.
Wuiissshhh... sejuknya!! ledies lagi terapi di turunan air. pijat gratis.. haha

Nih, guide kami, Dekmat dan Arip.  Tetap pose-pose walau sudah beku kedinginan...

Kuasa Allah untuk selalu kita syukuri. Keindahan yang tiada tara dan tidak akan terbandingi oleh apapun, secanggih apapun teknologi yang dikerahkan untuk membuat alam buatan, percayalah tidak akan pernah sama dengan ciptaan-Nya.
Giliran ledies disebelahnya. semacam kolam ada pembatas antara tempat pria dan wanita. pembatasnya batu. its oke, tetap aman.

Anda akan lapar, baiknya sediakan makanan yang berkarbohidrat dan protein tinggi, atau cemilan ringan. Berada terus menerus di dalam air akan membuat perut terasa lapar, ini disebabkan karena dehidrasi, merendam tubuh ke dalam air akan menurunkan suhu tubuh yang disebabkan oleh perubahan suhu udara sebelum dan sesudah berendam, kemudian tubuh akan kembali menormalkan sehingga dibutuhkan bahan energi yang besar yaitu dengan dikirimkan signal rasa lapar. produksi hormon dalam tubuh berhenti bekerja, kalori yang dikeluarkan lebih banyak dibandingkan berendam/berenang dalam air hangat. Inilah yang menyebabkan rasa lapar. 

Ah, Lega rasanya...
Terima kasih Dekmat dan Arip sudah membawa kami mengarungi pertualangan ini, sangat berkesan dan penuh pengalaman juga kenangan manis. Teman se-traveller, Nawra yang selalu menjadi teman diajak berpertualang sana-sini, Helka yang diam-diam hobby kita sama –sama-sama suka wet-wet, katanya selagi masih muda dan sendiri-, Ira si ibu perawat yang kurang piknik, Dekka memang mampu yang ternyata juga mengalami slow emotion ke samping, Kak nelly yang dulunya traveller Cina menjadi traveller Aceh, dan Masyithah aneuk asoe lhok.

Kita Kembali, sampai jumpa di Wet-wet Nanggroe berikutnya...


*Selagi muda dan sendiri, berpertualang lah.
*Berbaik, bemurah senyum, dan berlobi-lobi lah sama penduduk setempat, artinya menandakan kesopanan dan menghargai mereka sebagai penjaga tempat wisata.


Note:

-Krueng : Sungai

- Asoe Lhok : Penduduk setempat



astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar