Tidak Ada Mahasiswa Abadi!!



Beberapa tahun yang lalu, saya sangat mengimpikan untuk bisa meneruskan pendidikan di kampus paling diminati oleh seluruh pelajar Aceh, Universitas Syiah Kuala. Kampus ini yang telah mengantarkan saya melupakan segala hal yang berhubungan dengan kelalaian. Sejak awal masuk Sekolah Menengah Atas, target saya hanya satu, yaitu meluluhkan panitia kampus lewat jalur undangan –sekarang disebut SMNPTN-. Setiap harinya saya isi waktu dengan belajar, malamnya ikut les hingga jam 22.00 wib. Akhirat saja tidak segila ini saya mengejarnya. Bahkan –dahulu- saya lebih memilih ikut les malam dibanding pergi mengaji di balee beut (Balai pengajian). 

Sepanjang semester saya belajar untuk menggapai peringkat 1. Alhasil di tahun berikutnya saya berhasil mengalahkan si teman untuk mendapatkan peringkat 1. Memasuki kelas IX, mempertahankan apa yang sudah didapat memang berat, tetapi segala cara saya lakukan, tujuannya tetap satu. Siswa dengan peringkat tertinggi akan memperoleh undangan di kampus Universitas Syiah Kuala. Kampus yang paling diminati dan dibanggakan pada saat kita kembali ke kampung halaman –begitu orang-orang menyebutnya-.

Tuhan berkehendak, dua tahun sekolah kami harus membanyar denda dikarenakan kakak leting yang sudah lulus namun menyiakan kesempatan. Dan alangkah kecewanya sampai-sampai Ujian Nasional pun sudah tidak diharapkan lagi kelulusannya. Nasehat abang, masih terbuka jalan berikutnya disaat jalan yang satu telah gagal. SNMPTN dan UMB menanti –sekarang namanya SBMPTN-. 

Beberapa bulan memasuki pendaftaran SNMPTN, saya pun memilih ikut bimbel di salah satu bimbingan belajar terbaik di kota Banda Aceh, target saya tetap satu, meluluhkan panitia hingga lulus di Unsyiah. Perjuangan yang panjang, akhirnya saya lulus di salah satu jurusan favorit, yaitu jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP) di Fakultas Pertanian. Saya cukup menikmati status ini, mahasiswa Unsyiah. 

Lagi dan lagi, bukan atas kehendak sendiri. Ibu menginginkan saya untuk kuliah di keguruan untuk meneruskan profesinya, sedangkan bapak meminta saya mengikuti jejak abang kedua, kedokteran umum. Sedari dulu, saya termasuk anak yang sulit membantah atau pun menolak keinginan orang tua. Baiklah saya ikutin kemauan mereka, saya kembali bertarung untuk memperebutkan IPK tertinggi agar bisa pindah fakultas.  

Memasuki tahun kedua, disaat orang-orang menikmati masa liburnya, di saat teman-teman berbuka puasa bersama keluarga, saya harus rela berurusan dengan kampus guna melengkapi syarat sebagai mahasiswa pindahan yang ribetnya tidak dapat terhias oleh kata-kata.

Fakultas baru saya, FKIP Pendidikan Kimia. Teman baru, juga kursi dan meja baru. Kimia, karena saya menyukainya, dan kenapa guru? karena saya mencoba menyukainya demi berbakti kepada Ibu, wanita yang telah mengorbankan gajinya untuk SPP dan kebutuhan sehari-hari saya selama di rantauan.
 
(Sumber foto: http://www.fkip.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2014/10/10629397_476038932535960_8489457010336348874_o.jpg)
Lanjut cerita, memasuki saatnya saya menyusun Tugas Akhir (Skripsi) hingga akhirnya pada ramadhan kedua tahun 2014, jadwal sidang pun sudah keluar. Namun lagi dan lagi, mungkin karena Unsyiah terlalu mencitai saya. Saya terbentur masalah karena perubahan sistem akademik. Dan terpaksa harus menjalankan dua semester demi meng-online-kan mata kuliah tanpa harus kuliah. 
 
(Sumber foto: https://bemfkur.files.wordpress.com/2010/07/untitled.jpg)
Belajar dari pengalaman, lewat tulisan ini saya akan berbagi tips agar kamu, calon mahasiswa baru yang berniat untuk pindah, tidak merasakan hal yang sama seperti saya:
1.  Pikirkan niat awal, terapkan 5W + 1H sebagai alasan kamu pindah kampus, fakultas, atau jurusan/prodi. Jika alasan kamu sudah lurus, maka laksanakan poin di bawah ini,
2.   Menjadi mahasiswa pindahan itu tidak gampang, keribetan hidup sudah dimulai saat proses awal. Kamu harus rela menunggu dan menjalani proses pemindahan, pengurusan berkas keluar-masuk, izin/rekom keluar dari fakultas asal, tes psikologi yang buat kamu kewalahan gilanya menjawab soal, wawancara, dan pastinya fakultas/jurusan tujuan mau menerima kamu.
3.  Jika kamu beruntung, maka kamu aman, jika tidak berarti kamu harus menjalankan proses panjang seperti saya, perhatikan jumlah sks yang akan diambil –untuk mahasiswa pindahan biasanya hanya boleh mengambil 18 sks saat memasuki semester pertama di jurusan tujuan-, kalau lebih, alamat deh kamu bakal seperti saya, oleh sebab itu perhatikan dan pahami betul-betul syarat pindah, pastinya jangan menyerah apapun yang terjadi.
4.      Setiap tahun kampus terus berbenah untuk menjadi yang lebih baik, dalam pembenahan tentunya ada hal yang harus dikorbankan. Nah, Kamu harus gesit dan jeli terhadap semua perubahan, perkembangan, dan peraturan baru yang keluar dari setiap jurusan, fakultas, dan kampus. Jika tidak, alamat deh kamu bakal seperti saya, karena saat itu saya kurang “peka” terhadap suatu perubahan.
 
(sumber foto: http://3.bp.blogspot.com/-SQ5yZOWk4To/VdXxuaocXvI/AAAAAAAAABg/wyZnn_7dKlw/s640/akreditasi.png)

5.    Menjadi mahasiswa pindahan harus punya mental kuat, di saat teman-teman kamu sudah pulang kampung, merasakan indahnya liburan, sedangkan kamu di sini masih dalam proses mengejar dosen ketika ada nilai mata kuliah yang belum keluar. Namanya juga nekad di awal, berarti harus nekad sampai akhir, dong!
6.  Satu lagi, bakal ada yang namanya beberapa beasiswa yang tidak diperbolehkan diambil oleh mahasiswa pindahan, so pikirkan 5W + 1H alasan kamu memilih pindah!
7.    Jika sudah nekad ingin membahagiakan orang tua, pastinya jangan mengeluh di tengah jalan dan menyalahnya mereka. Nikmati saja garis hidup yang sedang dijalankan. Jangan kayak orang-orang, hidup saya, saya yang atur, begitu pun kamu.

Bukankah seharusnya saya sudah selesai satu tahun yang lalu? Nah itu dia, saya mahasiswa pindahan yang gagal beruntung melewati saringan karena perubahan akademik. Seperti saya bilang, mental harus kuat, nekad jangan di awal saja, intinya peka!. 

Apapun yang sudah terlewati jangan pernah menyesal, buktinya dengan adanya masalah ini, saya gagal menjadi pengangguran satu tahun yang lalu, saya masih berada di Banda Aceh mencoba hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya selama kuliah, memperluas jaringan setidaknya siap wisuda nanti tidak 100% pengangguran, bisa travelling jelajah Aceh, juga hal baru yaitu berhasil memproduksi film dokumenter sejak dulu menjadi impian saya. Dan yang paling membahagiakan lagi, hasil sidang saya memperoleh nilai A. Beginilah cara Unsyiah mengajarkan hidup kepada mahasiswa, karena hidup tidak semudah membalikkan lembar skripsi. Kuliah itu mengajarkan mahasiswa untuk lebih mandiri, bukan semakin manja berkeluh-kesah. Kuliah itu juga mengajarkan agar lulusannya nanti bisa berdamai dengan perang pekerjaan. Katanya ingin sukses, tunjukan dong usahanya.

Tulisan ini diikut lombakan dalam lomba blog Unsyiah


astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar