Ija Kroeng dari Mainstream sampai Anti Mainstream



Aceh punya banyak tradisi, Ija Kroeng salah satunya. Sejak dulu Ija Kroeng (kain sarung) selalu digunakan oleh semua kalangan, perempuan maupun laki-laki. Meskipun di daerah perkotaan banyak yang sudah menggantikan Ija Kroeng dengan celana (khusus laki-laki), tapi hingga saat ini Ija Kroeng masih dibudayakan di daerah perkampungan atau pun pendesaan. Ija Kroeng memikat hati mereka untuk menjadi teman setia dalam aktivitas sehari-hari. Masih gadis atau pun lansia.
Tahun lalu saya ditugaskan untuk mengabdi di sebuah desa terpencil, yang merupakan program KKN dari kampus. Tradisi Ija Kroeng masih sangat kental di sana, buktinya terlihat jelas saat gadis-gadis desa berbuat apapun, di dalam maupun ke luar rumah, mengaji ke balai pengajian (Balee Beut dalam bahasa aceh-nya), bahkan ke pasar untuk berbelanja pun tak pernah terlepas dari Ija Kroeng.
Jauh hari sebelum berangkat, teman yang pernah ke tempat yang akan kami mengabdi mengatakan, jangan lupa bawa Ija Kroeng. Spontan saya menjawabnya, “ Masih ada ya, orang pakai Ija Kroeng. Hari gini? Masih gadis?”
Tentu, tradisi Ija Kroeng masih melekat dibenak mereka sebagai pakaian yang elegan untuk dipakai dalam kebutuhan apapun. Tidak hanya untuk dipakai, Ija Kroeng juga kaya manfaat, misalnya ketika para ibu-ibu menggunakan Ija Kroeng sebagai ayunan untuk menina-bobokkan si bayi, sarung untuk mandi, pengganti alas tidur, sebagai gendongan jualan, atau sebagai pelengkap kebutuhan lainnya, mulai dari yang mainstream sampai anti mainstream.
Kegunaan Ija Kroeng anti mainstream juga kami gunakan sebagai pelengkap alun-alun fotografer. Foto ini diabadikan saat Rihlah atau rekreasi organisasi yang berkunjung ke Pantai Pasir Putih, Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar. Di sini Ija Kroeng beralih menjadi multifungsi. Ija Kroeng sebagai kain salat para lelaki maupun wanita, juga melindungi diri dari  panas yang membakar kulit di siang hari, bahkan pengganti tirai-tirai kain seperti ala-ala tirai merah jambu di pantai Queen Bay Pulo Kapuk.
Ija Kroeng Anti Mainstream, modeling: Fardelyn Hacky

 Jika perlengkapan fotografer didapatkan dengan harga mahal, tapi pelengkap yang satu ini pasti lah semua orang memilikinya, meskipun ia anak kos-kosan. Pengalaman pribadi dan melihat kebiasaan teman, Ija Kroeng juga mereka gunakan sebagai pengganti selimut, bahkan pengganti gorden di kamar kos-kosan. 
Mahasiswa Arsitektur sedang melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan memakai Ija Kroeng.                                   Gambar diambil pukul 00.00

Di kos saya, teman sekamar menggunakan Ija Kroeng sebagai pelindung anti mainstream. Tugas kampus yang acapkali menumpuk, hingga membuatnya harus begadang sepanjang siang hingga malam hari. Menyelesaikan tugas seperti ini bisa menghabiskan waktu 2 sampai 3 hari berturut-turut. Kekuatan super dan dituntut untuk berpikir kreatif tidak hanya dituangkan dalam pembuatan rancangan arsitekturnya, tapi ide kreatif itu juga dimanfaatkan melindungi diri dari nyamuk. Nyamuk begitu, mati satu keluar 1000 serangan lainnya. Dulunya, saya juga sering menggunakan Ija Kroeng untuk bermain pet-pet (sembunyi-sembunyi) di malam hari. Gayanya ala-ala ninja gitu.

Begini cara pakai Ija Kroeng untuk main Pet-Pet zaman kecil saya dulu

Memperingati #sithonIjaKroeng dalam mengangkat kembali brand lokal Aceh yang sempat memudar di beberapa tempat. Ija kroeng kembali memperkenalkan dan mengepakkan sayap untuk menghadirkan kembali kebiasaan memakai Ija Kroeng. Produk satu ini patut dikembangkan dengan konsepnya bergaya Internasional. Menyingkap Inspirasi Ija Kroeng Brand Lokal Bergaya Internasional
Brand lokal ini sedari dulu selalu memberi kesan bagi pemakainya maupun penggunaan Ija Kroeng untuk kepentingan lain. Kita sebagai pewaris budaya Aceh, patut bangga terhadap trend lokal satu ini, dan terus mewarisinya hingga ke anak-cucu, agar Ija Kroeng tidak hilang dalam peradaban dunia. Ija Kroeng T 1 S dan Wisata Lamreh

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

2 komentar:

  1. di kampung kemarin, masih adakah wanita kampung yang mandi sungai pake sarung ? :D

    BalasHapus
  2. Ada bang, tapi di kampung tetangga.. hehe
    keren kali mereka, nyuci pun ada yg masih di sungai..

    BalasHapus