Ia lebih Mulia Dari Peminta-minta Walau Sedikit Pendapatan



Pernah bermain balon gelembung dari sabun? Kamu beli atau buat sendiri? Kalau saya, mah, keseringan mengolah sendiri. Mengolah sendiri lebih puas pakai meskipun tidak sama seperti yang dijual di pasaran, yakni gelembungnya lebih besar dan lebih tahan saat diterbangkan angin. Permainan ini sering saya lakukan saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Karena diajarin abang, makanya saya bisa. Asalkan sabunnya diambil diam-diam. *adengan ini jangan ditiru
Minggu kemarin, saya bersama kedua teman sedang bertugas di lapangan Blang Padang. Seperti biasa, lapangan ini telah menjadi tempat yang paling dinikmati saat weekend, atau hari libur lainnya. Banyak kesibukan yang terlihat dari orang-orang. Dari para penjual makanan, pakaian, bahkan kosmetik pun ada. MIBARA juga ikut meramaikan Blang Padang. Pastinya lapangan ini selalu digunakan sebagai tempat untuk olah raga tanpa mengenal genre, bahkan para ibu-ibu berkacamata high class juga ikut bergabung bermain golf dalam lapangan buatan yang mereka ciptakan sendiri.
Setelah lelah bertugas, akhirnya kami pun memilih istirahat sejenak sambil menikmati macam adegan aktivitas orang-orang. Termasuk Ibu di belakang, sebut saja namanya Aminah –lupa menanyakan nama-. Ibu penghembus gelembung balon sabun.
Aminah asalnya dari Medan yang menikah dengan pria Aceh pasca Tsunami, hingga dikarunia 2 anak. berdagang balon sabun sudah digelutinya kurang lebih lima tahun. Ia dan suaminya saling bergantian, tempat yang dikunjunginya pun berpindah-pindah. 
Sumber foro: http://us.images.detik.com/content/2009/07/09/501/gelembung-sabun04.jpg
Ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam pikiran saya, tetapi segan untuk bertanya. Cukupkah uang untuk kebutuhan sehari-hari di Ibu Kota hanya dari hasil penjualan balon sabun? Kedua anaknya sedang penempuh pendidikan di salah satu SMA di Banda Aceh, begitu pun dengan anak bungsu yang mulai meranjak remaja. Dengan uang yang tidak seberapa, ia berhasil membuat anaknya terus bertahan dalam menimba ilmu di sekolah.
Sulit mewawancarai Aminah –nama samaran-, ia cenderung pendiam. Ekspresi wajahnya pun sulit ditebak. Beberapa pertanyaan yang saya ajukan, hanya sebagian ia jawab dengan lima kata atau lebih. selanjutnya hanya menjawab “iya” atau memilih diam. Sepanjang pertanyaan saya, hanya dua kali saja beliau tersenyum kecil. Sungguh sangat penasaran dibuatnya.
Foto Ibu Aminah yang saya abadikan minggu lalu disela-sela menghembus balon gelembung sabun

“Dalam sehari bisa terjual berapa botol, Bu?” sambil menikmati hembusan balon darinya tanpa berhenti.
“Tergantung.”
“Ibu, disini dari pagi sampai sore, atau setengah hari saja, Bu?”
“Tergantung.” Ia terus menghembus balonnya.
Balon sabun milik bu Aminah dijual dengan harga Rp. 15.000/botol, sudah lengkap dengan wadah –piring plastik putih- dan gagang untuk menghembusnya. Banyak koleksi warna dari setiap botol: merah, hijau, kuning, putih. Dan pertanyaan saya selanjutnya, “Bu, warna dalam sabun itu, pakai pewarna apa ya, pewarna makanan, pakaian, atau tekstil?” dan ia hanya membalas pertanyaan saya dengan senyum kedua.
Karena sayang untuk dilewatkan, alhasil kami pun mengabadikan balon sabun yang terbang tersebut sebagai background dalam foto. Gratis dan si Ibu pun semakin semangat menerbangkan balonnya ke arah kami.
menghimbur diri sendiri ditengah penugasan




Pernahkah terpikir olehmu, berapa banyak tarikan napas yang ia keluarkan untuk menghembus balon? Jika ia bekerja dari pagi hingga petang, tidakkah terasa sesak dada dan lelah mulutnya. Apalagi setiap hari. Saya, lima kali hembusan saja sudah pegal mulut rasanya, apalagi beliau. Sungguh takjub pada kesungguhan beliau.
Ini rezeki halal. Usaha dan kerja keras yang ia dan suaminya geluti dari cara yang halal. Mereka memilih berjualan balon sabun dibandingkan mengemis. Rezeki sudah ada yang atur, Allah SWT, jadi untuk apa harus takut? Ini motivasinya, mungkin.
Aku padamu, Ibu Aminah. Semoga selalu semangat dalam mencari rezeki halal. Jangan pernah menyerah oleh kerasnya waktu. Hidup memang keras dalam mengejar rezeki, tetapi berakhir dengan meminta-minta akan melunturkan harga diri dan kehormatan kita sebagai muslim.

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

4 komentar:

  1. aku padamu juga, bu Aminah. Balonnya tanpa diminta terus diterbangkan ke arah kita yg keumarok ambil foto ya,, aih mak..

    BalasHapus
  2. Haha... betul tu helka, kayak semacam apa gitu kita kan ditemani balon2 terbang..

    BalasHapus
  3. Haha... udah macam apa aja kita ya, ditemanin balon2 terbang... so sweat meunan..

    BalasHapus
  4. Ada yg mau pesan?inini serius loh.Namun itu balon bukan di hembus pake mulut..Perenalkan nama saya jonipletok
    Untuk di aceh dan sekitarnya dan di pulau jawa sayalah orng pertaa pembuat balon sabun berlubang 5 ataupun enam
    Bsa langsung di taya ke semua yg juaan balon sabun apakah mereka kenal saya..Sebut namaku jonipletok mereka sudah tau semua.Minat grosir 8000/botol hubungi 082361056730

    BalasHapus