Hei, Kamu! Jangan Panggil Aku Gila



Walau gila, ia juga manusia. Sama seperti Anda dan saya. Hanya saja kesempatan dan persentase kenormalannya lebih sedikit dibandingkan kita.  Mereka tidak gila, tetapi hanyalah kenormalan berbatas waktu.
Saya lebih suka menyebutnya, pria berbatas waktu. Hingga usia 23 tahun ini, dua kali sudah merasakan berinteraksi dengan mereka, manua berbatas waktu. Ingat cerita masa kecil dahulu. Dibelakang rumah nenek terdapat gubuk kecil yang hanya memiliki dua ruang, yaitu dapur dan tempat tidur. Menurut saya, nenek berambut putih itu tidak gila, ia hanya perempuan tua kesepian seorang diri tanpa anak maupun cucu. Mereka memanggilnya gila karena fashion dan bicaranya yang acapkali menasehati bahkan memarahi anak-anak yang sikapnya kurang sopan santun dalam bergaul, ditambah lagi, nenek berambut putih dan panjang itu sangat berani menghabiskan masa tuanya dalam gubuk reok dikelilingi pohon pisang, tebu, dan jenis tanaman hutan lainnya di seputaran rumah.
Di malam hari ia selalu mengurai rambutnya yang panjang, seluruhnya putih, belum lagi kulit nenek juga putih. Setiap malam, seusai pulang mengaji di Balee Beut (Balai Pengajian), mereka selalu menghampiri nenek ke rumahnya, lalu lari terberit-berit ketakutan. Ahh, dasar. Bocak itu segaja datang untuk mencari sensasi. Dan beberapa kali saat pulang ke kampung, saya juga ikut melakukan hal yang sama pula.
Selanjutnya cerita saya bersama pria berbatas waktu lainnya. saat itu saya sedang semangatnya mengejar IPK, diselah-selah kesibukan mengejar tugas kuliah, hadirlah peristiwa yang cukup menggemparkan. Wuihh, seseorang yang kena dekat dengan saya, akibat ulahnya, alhasil harus menjalani rehabilitasi akibat kecanduan ganja dan narkoba. Keluarganya pun kewalahan hingga berakhir dengan pengobatan ala kampung.
Sumber: http://cdnimage.terbitsport.com/imagebank/gallery/large/20150611_012337_harianterbit_dipasung_%28ilustrasi%29.jpg
Satu kenangan yang sangat membekas selama proses penyembuhan tersebut, yaitu tentang dirinya yang mengaku sebagai ulama besar, yaitu seorang kiai yang wajib dihormati oleh siapa pun yang hendak bertemu atau pun berjumpa langsung dengannya. Bermacam dalil, hadist, juga peraturan yang keluar dari wacananya entah dari mana sumber. Pastinya sumber yang mengaur. Tetapi dibalik itu semua, ada satu hal yang harus kita terapkan seumur hidup, baik itu laki-laki maupun perempuan.
Kembali ke masa lalunya yang amat jarang dalam beribadah, pergaulan bersama teman sebaya di kampung telah menjerumuskan ia ke jalan yang salah. Menyikapi pergaulan yang kian terbakar api, salah satu keluarga mengajaknya merantau ke Ibu Kota, alhasil berbulan-bulan di kota, ia berubah secepat derasnya air terjun. Youp, ia berubah menjadi seseorang yang membuat orang-orang meler kala bertemu, tercengang, namun hati mereka berbisik, Astagfirullah...
“Secepat itukah si Amang bertemu teman baru?” Tanya si A
“Ah, mana ada, itu kebiasaan sudah ada sejak dulu,” Bantah di B
“Betul, hanya saja tingkat kehebatannya meningkat, temannya orang kota!!” Tanggap si C
Mulailah berkicau mulut orang-orang yang kian menimbulkan tanda tanya, “Eh, kau kenal dengan si Amang?”
“Kenal-kenal dikit, kenapa?”
“Aah, si Amang kecanduan, obat penenangnya habis, mengamuklah dia di kampung orang.”
“Prihatin melihat keluarganya, padahal sudah baik diajak ke kota untuk hidup lebih bagus, eh malah bertingkah itu si Amang.”
“Ho’oh, kacian-kacian-kacian.” Merepet-merepet lah orang-orang yang biasanya ngerumpi di pondok depan kios, kini beralih di halaman rumah si Amang.
 Bermacam cara keluarga mengobati Amang agar dapat kembali normal seperti semua. Ibu hanya tersedu-sedu saat melihat anak lelakinya yang terpasung di kamar belakang.
Hingga akhirnya pengobatan tetap berlanjut walau si Amang tidak lagi teriak mengusik tetangga. Namun, bukan si Amang namanya jika hanya diam. Inilah efek dari kerusakan saraf otak akibat terlalu banyak bermain candu. Karena normal utuh seperti semula tidaklah mungkin.
Si Amang, sang pemuda yang hingga hari  ini pun masih terkenang namanya jika sesekali namanya tersebut. Malah terkenalnya itu akibat ceramah yang telah mengusik para lelaki maupun perempuan. Youps, si Amang sang Ulama dadakan yang mengeluarkan hadist fatwa tanpa sumber dan analisa.
“Hai, awak inong, nyan aurat beuk ka pampang bak awak agam,” siapa saja yang ia jumpai, tidak pernah lupa untuk menengur bahkan menasehati si wanita tua-muda untuk menutup auratnya. Bahkan dengan ranting pohon yang ditemui, ia mengejar wanita yang tidak memakai jilbab atau bercelana ketat/
“Pubuet manteung dalam waroeng, kajeut jak seumanyang jumat. Manteung kaduek sit ngeh!!” dan lelaki tua-muda pun kebagian cepretan amarah si Amang karena lalai bermain hingga lupa saatnya jumatan.
Bahkan si Amang manusia setengah gila pun tau, bahwa aurat harus ditutup. Bahwa shalat jumat wajib bagi lelaki, dan bergosipnya para ibu-ibu akan mendatangkan efek buruk bagi penggosip dan yang digosipkan. Benar, ia gila. Tapi gila itu telah banyak menyadarkan si gadis yang mula tidak berjilbab, hingga takut memamerkan rambutnya. Begitu pun kala tiba saatnya salat jumat, warung ditutup.
Maka, jangan anggap sepele dan meremehkan orang gila, karena dibalik gilanya telah menyimpan berbagai macam kepintaran bahkan kecerdasan yang tak disangka-sangka. Sekali lagi, mereka juga manusia, hanya saja waktu normalnya telah terbatas.


Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar