Kohler, terbunuh lagi!


 
Dulu, pertama sekali menginjak kaki di kota ini. Tempat pertama diajak oleh abang saya yaitu Masjid Raya Baiturrahman, katanya tidak sah ke Banda Aceh jika belum ke Masjid ini. Dalam satu karangan saja, kita sudah banyak mengetahui bagaimana kemenangan di Aceh ini hadir.
Karena baru pertama kali ke kota ini setelah tsunami, kemana pun pergi, saya selalu ngekor abang masuk kantong bajunya. Maklum lah masih bau kencur, belum pernah pisah dari orang tua.
Kami parkir di parkiran belakang tempat wudhu wanita, pintu masuk ini langsung membuat mata saya terpana, “Pohon apa ini, Bang?”
“Tunggu di situ ya, abang mau ke sana sebentar,” ia menyuruh saya untuk menunggunya tepat di bawah pohon besar itu. Akar-akarnya menjulur hingga keluar ke atas tanah. Indah sekali, padahal hari itu cuaca sangat panas, tetapi sedikit pun saya tidak merasakannya, kesejukan dihadirkan oleh pohon ini. Orang-orang disekeliling saya pun begitu. Mereka cukup menikmati angin sepoi-sepoi bak seperti di pantai saat senja.
Dari sini, saya memandang orang-orang keluar masuk masjid. Wajah cerah penuh senyum dibaluti indahnya air wudhu. Anak-anak berlarian memuncakkan tawa. Beberapa penawar foto menebar senyum, berharap ada yang membalas dengan sepuluh ribu. Penjajak jajanan pun begitu. Di bawah pohon, berkali-kali saya bergumam, “Indah sekali negeri ini.”
“Yok, salat. Tuh di sana tempat wudhu wanita,” tanpa sadar si abang sudah di samping. Tiba waktunya salat. Orang beramai-ramai meninggalkan pekerjaannya segera menuju tempat wudhu. Orang-orang yang tadinya di bawah pohon ini pun begitu.
“Bang, siap salat tunggu di situ lagi, ya.”
Usai salat zuhur, saya langsung menuju ke sana...
“Ini namanya pohon Kohler,” celetus si abang.
Lho, kok ada pohon namanya Kohler. Selama ini kemampuan saya di pelajaran Biologi cukup bagus. Gak ada tuh di buku disebutkan nama pohon, Kohler. Eh, ternyata setelah dijelaskan panjang lebar sama si abang, baru paham saya, kenapa pohon itu dipanggil Kohler.
Lagi dan lagi saya terlalu to the point, disuruh tunggu di bawah pohon, yaudah cuma duduk saja, dan ternyata tepat di bawah pohon ini terdapat tugu sejarah yang menuliskan kisah singkat perjuangan rakyat Aceh melawan serdadu penjajah Belanda. Nah, kebetulan penjajah Belanda dipimpin oleh Mayor Jenderal Kohler ini, yang akhirnya namanya terus dikenang lewat pohon tempat ia tertembak mati.
Inilah pohon Kohler, tanda sejarah Aceh saat menyandang puncak kejayaan kerajaan Aceh. Bukankah ini sejarah yang harus dirawat dan dijaga keutuhannya. Bukan saja sejarah, memandang pohon ini saja membuat saya terus mengenang pahit manisnya perjuangan pejuang Aceh dulu saat menjayakan negeri para raja ini.
Kini, kesan pertama saya pada pohon ini telah hilang. Dan mereka pun yang ingin merasakannya, sudah tidak dapat lagi. Tidak hanya sejarah, bagi saya pohon ini adalah penyumbang oksigen terbanyak bagi setiap pengunjung, dan oksigen itu kini telah berkurang gegara satu pohon yang tumbang.
Pohon Kohler dibalik Tugu Sejarah, tinggi, besar, dan rindang. (Sf: Antarafoto.com)
 
Sf: newsjid.com
Satu tanda sejarah telah hilang, akankah sejarah lainnya ikut terpunahkan?


Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar