Aku, Kau, dan Hujan


Kaskus.com

Titik air mulai membasahi para daun. Khasnya aroma tanah mengisyaratkan bahwa ia merindukan butiran air membasah mereka. Gemuruh serangan hujan juga dirasakan mereka yang berkarya, berkarya di dunia luar. Sedangkan yang terlindung dalam mewahnya mobil hanya tersenyum saat pengendara dan pejalan mulai berkreatif melindungi diri, bahkan diantaranya ada yang memilih bercumbu dengan kecupan tetesan hujan. Karena hujan anugerah. Jarang sangat mereka datang, ketika datang kenapa harus dihindari.

Dulu, hujan seperti hantu yang menakutkan dalam mimpi puncak siang. Namun, saat ini terasakan kembali, hujan datang untuk menghibur jiwa-jiwa kesepian, terlebih daku seorang. Sepi menanti sinar cerah kemilauan mentari. 

Begitulah, hadirnya untuk menghibur jiwa. Namun, terkadang mereka juga menangis dalam hadirnya. Saat orang-orang tidak menginginkan hadirnya. Wahai Adinda dan Kanda, pernahkah diantara kita yang tidak menginginkan kehadirannya, sang hujan?

Saya juga pernah. Saat genting mengejar waktu, saat itu pula hujan datang membasahi diri, bukan saja diri, melainkan segala aset kepentingan, Laptob, buku, lembaran penting yang mudah rapuh oleh air. Atau mungkin kendaraan yang harus mogok saat tersambar demoan hujan.

Sepatah dua patah kata akan terucap yang akhirnya membuat hujan menangis dalam hujan. Wahai Adinda dan Kanda, pernahkan terucap di bibir kita seuntai kata yang menyakiti mereka hingga enggan datang lagi. Kata-kata makian, cercaan, dan segala bentuk ucapan yang mengiris sedihnya mereka, sang hujan.
“Ah, nyebelin, kenapa harus hujan?”
“Sial, hujan lagi.”
“Gagal plan aku gara-gara hujan.”

Mulutmu harimau mu bahkan singa. Itu adalah bukti ketidak syukurnya kita atas kenikmatan Yang Maha Pemberi. Lewat hujan, seseorang akan tersenyum karena berhasil mengumpulkan lembar rupiah demi bertahan hidup. Lewat hujan, orang-orang kembali hidup dari gersangnya dunia layaknya manusia. Lewat hujan pula, kita dapat minum, makan, dan melancarkan segala aktivitas. Juga lewat hujan yang memberi triliun senyum bahagia di setiap mereka, makhluk ciptaan Allah.

Twicsy.com

Sadar tidak sadar, bahwa hujanlah yang telah membantu kita menyambung nyawa hingga saat ini. Apa yang akan terjadi jika hujan tak pernah hadir, satu minggu? Bulan? Bahkan tahunan pun kita tidak mampu bertahan hidup tanpa hujan. Segala yang Allah turun dan berika kepada makhluknya, pastinya bernilai manfaat yang luar biasa. Seekor semut pun sangat berharga.

Wahai Adinda dan Kanda, hujan banyak menolong kita. Lalu apa yang kita lakukan untuk membalas jasanya?

Ada, tentu sangat banyak. Save Earth -- Global Worming – Cintai Bumi Kita – Jagalah Bumi Kita – Go Green. Untaian kata itu pasti sering terdengar oleh kita.  Lalu apa yang terpikir setelah mendengarnya? Terbuai? Merenung? Intropeksi? Atau bagaikan angin lalu?

Hujan sangat erat kaitannya dengan buaian-buaian kata di atas. Bila hujan datang, mereka menyirami bumi tempat kita hidup. Disitu dan disini, semua makhluk menggunakan air hujan, masak, mencuci, minum, mandi. Semua aktivitas dilakukan dengan bantuan air. Jadi, jagalah pemakaian sehari-hari.
Penggunaan peralatan rumah tangga, kantoran, pusat belanja; penggunaan produk kecantikan seperti botol minyak wangi atau lainnya yang bersifat menyemprot; pembuangan limbah laboratorium yang merusak lingkungan; dan banyak lainnya. Menurut saya itu tidak perlu dijabarkan karena kita sudah masing-masing dewasa, yang dewasa mengingatkan anak-anak. Yang berakal sehat mengingatkan yang tak berakal. Yang baik mengingatkan yang tak baik. 

Lalu, bagaimana hal itu dapat berkaitan dengan hujan? Jawabannya cukup satu kata, “Pikirkan.”
Juga, banyak slogan yang mengatakan “Jaga Bumi Untuk Anak Cucu Kita.” Nah, bagaimana bagi mereka yang tidak mempunyai anak atau cucu? Tidak perlukah mereka menjaga. Jika Anda peduli meski tidak punya anak atau cucu, pantaskah bertanya dengan pertanyaan begitu. Jawabannya “Pikirkan.”

Wahai Adinda dan Kanda, masihkah kita menyepelekan Sang Hujan? Andai mereka dapat protes, sudah sedari dulu mereka berhenti. Namun, Allah sayang kepada hambanya. Maka Allah utuskan malaikat Mikail untuk berbagi rezeki kepada kita. Maka, bersyukurlah wahai Adinda dan Kanda.




astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar