Tentang Belajar Ikhlas



Kedua jemari sudah layaknya ingin terbang. Jauh ke negeri orang. Dimana orang-orang pun terbang, melayang mengejar destinasi masa depan, seperti mereka. Lalu, jika penerbangan telah menunda keinginan. Masih adakah kata “mengikhlaskan?’
Saya pun begitu, sama seperti mereka. Punya keinginan dan impian, mungkin sama. Keinginan itu hingga membuat hidup terus dipenuhi target masa depan kemana dan dimana kita akan singgah. Mengejar terus berlari seperti orang-orang, layaknya.
Ketika satu dan dua target harus menghilang. Akankah saya juga akan menghilang. Menghilang ditengah keramaian orang-orang yang telah terpenuhi targetnya. Terpuruk hingga terbujur kaku kala tujuan kosong.
Yah, Anda benar! Karena ini adalah target besar. Bahkan masa depan disinilah bermula, pikirku. Hingga akhirnya kata menyerah tak pernah luput terucap setiap harinya. “Nasibku gini amat ya! Gak seperti orang-orang.”
Hingga suatu hari, saya dipertemukan dengan seorang, Ia layaknya sahabat yang penuh perhatian.
“Gimana kasusmu, Tin?”
“Hmm.. begitulah, belum ada kemajuan.”
“Urus terus, cobalah jumpain*** atau ke*** langsung,”
“Udah, satu bulan lebih ini urus kasus itu aja. Tapi, yah beginilah.”
“coba ikhlaskan! *************.” Nasehat si kawan panjang lebar selama kurang lebih dua jam pertemuan itu di Lobi depan perpustakaan.
Setiba di rumah, terus terenungkan ucapannya. Benarkah apa kata si kawan. “Lepaskan target, ikhlaskan saja.”
Emang, tidak segampang itu melepas sesuatu yang telah di angan-angankan. Tidak semudah menghirup oksigen belajar ikhlas itu. Namun, lagi-lagi, saya hanya manusia biasa. Inilah pembelajaran kehidupan. Akan ada masa dimana saya akan meneteskan air mata bahagia saat mengenang kenangan lalu ini.
Hari terus berganti. Biarkan segenap perjuangan itu menjadi masa lalu. Masa lalu yang mungkin hingga tua pun tak pernah terlupa. Ikhlas, ikhlas, dan ikhlas. Lantas, apa yang telah terjadi setelah ikhlas?... Pastinya banyak hal, batin ini kembali segar, pikiran kembali positif, juga berat badan semakin bertambah.. haha
Dunia mereka bukanlah dunia saya. Dunia yang diciptakan untuk hidup saya, beginilah, pendahuluan- konflik- happy ending. Jalanin saja dunia sendiri tanpa melupakan tanggung jawab akhirat, lupakan dunia orang-orang. Karena yang menentukan kebahagian masa depan adalah diri sendiri, bukan orang tua, keluarga, atau pun orang lain. Namun, nasehat orang tua jadikan sebagai pedoman tambahan dalam menentukan masa sukses kita sendiri.
Ikhlas dan tawaqal adalah dua hal yang harus selalu beriringan. Ingat, jalan hidup seseorang telah Allah atur. Jalan hidup saya memang penuh liku-liku, tapi inilah jalan untuk meraih kesuksesan. Jika ingin sukses tidaklah mudah, perlu bantingan keras agar tidak mudah goyang. Buat sahabat, yang telah atau pun sedang menjalankan drama seperti saya, so... jangan menyerah ya guys. Tidak selamanya kegagalan berpihak pada kita. Suatu saat nanti, entah itu kapan, kita akan menjadi pemenangnya. Bismillahirrahmanirrahim.
Pembelajaran paling berharga. terima kasih kawan telah mengajarkan saya "tentang belajar ikhlas", telah mengembalikan senyum yang pernah hilang dan kecewa yang pernah ada. Ukhibbukifillah, Cut Athahirah.

 

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar