Bukan DeJavo

Empat tahun silam, 2011 ditempat yang sama bermulai. Momen yang sama pula. Dulu, tepat di pintu itu aku menunggu kepastian. Jawaban yang pasti akan sebuah impian Sang Ibu yang telah lama terpendam.

Berbedanya, dulu kami ber-23 mengarungi jembatan maut ini. Namun, saat ini tinggal sendiri. Lagi dan lagi harus kembali ke Biro Unsyiah. Mengurus sesuatu yang tidak jelas akar solusinya. Entah siapa yang harus disalahkan? Jelas permasalahan ini tertumpuk berat ke atas aku. Dimana mereka yang seharusnya bertanggung-jawab?

Menyesal sudah tak berguna. Kadang hal itu melintas, kenapa harus jurusan ini yang aku pilih? Lagi-lagi ini takdir. Sesaknya ingin aku umbar-umbar kepada siapa pun, jangan pernah kalian mengambil jalan seperti aku, “Mahasiswa Pindahan” jika tidak tahan mental
.
Karena mereka yang berpangkat, hanya akan diam saat kasus seperti ini menimpa kita. Bersabarlah jika hanya satu jalur yang tersisa, “Menunggu satu tahun lagi untuk didepak”

Entah ini malam, atau siang.
Pastinya suatu hal yang terus ditakuti menghadapi hari esok

Entah ini malam, atau siang
Pastinya suatu hal yang terlihat gelap

Entah ini malam, atau siang
Pastinya tentang kecemburuan akan masa lalu yang penuh senyum

Inilah tentang suatu hal yang menyisakkan sebuah harapan
Impian terkubur terggelam

Bagaimana hari  esok
Hari terus berlalu

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar