Terima kasih kak Nuril

Sore tadi, berpatah-patah kata semangat hidup datang dari seorang sesepuh FLP, seorang mentor, seorang kakak yang cukup kami segani. Terima kasih kak Nuril Annisa. Karna kata penyemangat itu terus mengaung-ngaung dipikiran saya sepulang dari Rumcay. Dua hari lalu, saya sempat memilih untuk melupakan semua mimpi-mimpi masa depan, cita-cita, juga harapan. Bahkan, susunan kertas di dinding kamar yang menuliskan 100 impian, saya buang begitu saja. Alasannya, saya sudah menyerah untuk masa depan. Hidup saya gini-gini terus, punya problem bukanya semakin berkurang tapi terus bertambah.

Tapi, kehadirannya memecah bisikan hati saya. Beberapa kalimat yang beliau sampaikan, kurang lebih ini yang saya tangkap. Kita boleh punya banyak masalah, bejibun banyaknya. Masalah kampus, pribadi, keluarga, atau apa pun itu yang membuat pikiran kita terbeban. Jenuh. Bosan. Kepingin kabur. Mau Move On tapi tidak bisa. Tapi ingat satu hal, orang-orang di luar masih banyak yang membutuhkan kita, senyum atau tawa kita. Energi bahkan kreatifitas kita.

Kita tidak boleh hidup egois hanya untuk memikirkan diri sendiri. Orang lain juga ada yang bernasib seperti kita bahkan lebih. Contohnya, rakyat Rohingnya, yang terdampar berminggu-minggu dalam bot. Tanpa makan, bahkan baju pun tak punya. Anak, istri, suami, Ibu, Ayah, sanak-saudara, keluarga mereka hilang satu per-satu. Mungkin jasadnya pun entah dimana. Nah, kita? Baru kehilangan satu sebutan Ayah saja sudah menyerah. Gak bisa sidang saja sudah menyerah. Belum lagi ini-itu sudah menyerah. Ah, ternyata saya cengeng sekali. Cepat putus asa. Cepat nyerah.

Motivasi kak Nuril telah membuat persepsi jalan pikiran saya berubah. Sulit untuk mengungkapkannya, terima kasih banyak-banyak-banyak kakak. Hari ini Allah pertemukan saya dengan kakak untuk mendengarkan kata-kata yang bahkan takkan sanggup dibeli oleh mutiara sekalipun. Haha, mungkin saya terlalu lebay, tapi ini yang saya rasakan, mungkin teman-teman lain juga merasakan hal yang sama.

Ini salah satu tulisan inspiratif dari saya kepada seorang pakar psikologi yang bukan mahasiswa psikologi, melainkan sosok sumber motivasi dari seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran yang akan berangkat ke negeri seberang, AS (Aceh Selatan). Semoga perjalanan intenship kakak menyenangkan dan selalu tularkan semangat membara ke orang-orang yang disana. Tapi, jangan sesekali kakak coba lupakan kami, adik-adik kakak paling kece, sedikit rempong, sedikit kurang labil tapi selalu menghibur, selalu tertawa di belakang atau di depan kakak. Coba kakak banyangin wajah lugu kami satu per-satu pasti bakal senyum sendiri. Haha...
Bahagia selalu kak Nuril Annisa bersama suami tercita 
Rihlah FLP Banda Aceh


Kak Nuril Annisa
 Kami akan selalu menebar warna dan makna FLP
sepulang Inaugurasi 2014 di SKB, Lubuk
Keluarga besar FLP Aceh
FLP selalu bersama kak Nuril
Dan saya juga, akan terus memotret masa depan
Terus membaca dan menulis



Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar