Gomao, Allah..!!!


          Setelah sekian lama menumpahkan dalam buku diari, menyimpan dalam pikirin bahkan ingin sekali aku muntahkan semuanya. Atau hasratku yang ingin terlahir lagi dan hidup seperti orang biasa. Itu tidak mungkin terjadi. Dan kali ini aku akan mencoba curahkan dalam sebuah tulisan blog, semoga orang yang membaca dapat memetik inspirasi. Masalah kampus, antar teman atau sahabat, kerjaan, tugas menumpuk. Sesungguhnya itu bukanlah masalah yang patut untuk mengeluh. Dan Allah tidak suka pada hambanya yang selalu mengeluh, bukan?
         Bukan salah bunda mengandung. Tentu aku tidak pernah menyalahkan beliau, justru rasa syukur yang berlipat karna Allah karuniakan seorang Ibu yang tidak pernah menangis di depan anak-anaknya. Ibu yang tak pernah mengeluh ketika anaknya meminta uang untuk pendidikan. Ibu yang tak pernah marah ketika anaknya minta dibuatkan makanan favorit meski Ia sedang lelah karna seharian mengajar. Ibu yang tak pernah menuntut anaknya harus jadi presiden, milyader, atau apalah.
         Seorang Ibu pastinya punya cara yang berbeda ketika melihat anaknya memberi perhatian. Ketika anaknya berprestasi. Ada Ibu yang menangis terharu ketika sang anak mendapat juara 1 di kelas. Atau menangis bahagia ketika sang anak memakai baju toga. Itu Ibu orang, dan ini Ibuku. Sosok Ibu yang tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih maupun bahagia di depan anaknya. Karna ekspresi itu Ia tunjukkan dibelakang.
        Sosok Ibu tetap tersenyum disaat ujian dan cobaan yang terjadi dan tak pernah dibayangkan. Kehilangan sosok suami dan kepala keluarga. Kehilangan sosok ayah yang seharusnya tempat anak perempuan berlindung atau yang selalu dijadikan sumber inspirasinya. Seorang ayah yang membuang keluarganya, bahkan tak menganggap kami ada. Tapi, itulah sesosok wanita yang tak pernah setetes pun air mata jatuh di depan anak-anaknya. Sosok Ibu yang selalu tegar, atau pura-pura kuat meski Ia cukup rapuh.
                                                                              ***

            Saat, awal mengenal dunia kampus. Aku juga mulai mengenal orang-orang baru yang entah dari mana asal mereka. Yang pastinya mereka adalah makhluk yang sama denganku, hanya saja garis takdir kami berbeda. Pada awal itu pula aku mulai menyadari bahwa aku adalah perempuan.
Perempuan yang tidak lagi memakai celana jins ketat nan membungkus. Perempuan yang malu terhadap orang-orang yang selalu melihat rambutnya terurai. Perempuan yang takut akan pergaulan bebas tanpa mengenal gender. Tentu untuk berubah hingga saat ini, aku mengalami banyak tekanan bahkan sampai hari ini tekanan itu masih ada.
           Tahun 2011. Orang tua dan keluarga menentang keras dengan keputusanku menghilangkan kebiasaan lalu. Mencoba memakai rok, baju longgar, atau jilbab besar bukan yang membungkus. Berat memang, karna ditengah-tengah perubahan itu, konflik dalam keluarga kian meramai. bahkan saat libur kampus, aku takut untuk pulang ke kampung. Kondisi yang selama itu ditakutkan, ternyata terjadi. Sejak di kampung, aku harus sembunyi diam-diam memakai jilbab. Dikarenakan kondisi keuangan menipis, jilbab itu harus dilapis dengan jilbab lainnya agar tidak terang dan juga lebar. Seusai mengenai pakaian pun, protes terus saja menuai.
         Sempat beberapa kali terpikir, “Bagaimana jika aku hidup seperti dulu lagi, gak perlu ribet dengan jilbab berlapis, gak perlu memakai rok, atau tak pernah merasakan masalah kian menggelut.”
        Mungkin, jika saat itu iman dan instiqamah goyang menghilang entah berantah. Karunia dan Rahmad Ilahi itu tidak pernah dirasakan. Pastinya tugasku sebagai perempuan tak pernah tau. Atau aku tidak pernah mengucapkan “terima kasih duhai Ibu yang telah bersusah payah melahirkan aku”.
            Aku yakin, sahabat juga pernah mengalami hal yang sama seperti aku. Ketika hendak memperbaiki penampilan, orang tua langsung membantah. Bahkan kita langsung di capkan telah terseret aliran sesat. Atau kita disuruh berhenti kuliah, dan lainnya. Itu juga yang aku alami.
              Soooo.... sahabatku, jangan menyerah dengan bentakan itu. Karna itu sifatnya hanya sementara. Yakinlah, orang tua itu akan luluh ketika melihat anaknya terus-menerus memberi perhatian, meski itu perhatian kecil atau sekedar menanyakan, “Ibu sehat, sudah makan? Jangan banyak kali kerja, istirahat yang banyak.” Sering-seringlah menanyakan kabar mereka di kampung. Ini juga yang saya lakukan, ketika hari ulang tahun dan hari Ibu, usahakan untuk mengucap serta memberi hadiah bagi mereka. Karna kita merantau, tidak salahnyakan jika kado itu dikirim lewat L300, kantor Pos, atau jasa pengirim lainnya. Ongkosnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan uang yang beliau kirim tiap bulannya.
              Ketika libur kuliah, pulanglah ke kampung. Lewatkan hari-hari bersama keluarga. Lupakan kebiasaan nongkrong seperti dulu. Karna yang mereka inginkan, hanya anak yang selalu menemani hingga tua. Gantikan posisi Ibu yang biasanya menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam, cuci baju, bersihkan rumah, nah selama kita di kampung, biarkan Ibu berehat dan hanya menikmati saja. Itu juga salah satu cara untuk meluluhkan dan mencuri kepercayaan orang tua. Ingat, mendapat kepercayaan orangtua itu susah lho, dan ketika mereka sudah percaya, jangan coba-coba untuk menghilangkannya.
           Sedikit demi sedikit ayo bangunlah kepercayaan mereka.  Dan buat mereka yakin jikalau perubahan ini demi kebaikan, demi mendapatkan Ridha Allah, dan juga syurganya Allah. Ingat surah Al-Ahzab ayat 59:
     Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin. “hendaklah mereka menutupkan jilbabnya (sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah, dan dada) ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka juga mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Dan ini juga hukuman yang paling dahsyat bagi perempuan,: sehelai rambut wanita yang dilihat oleh lelaki bukan muhrim dengan sengaja, balasannya 70.000 tahun dalam neraka. 1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia, seorang wanita yang masuk neraka  akan menarik 2 orang lelaki, ayah kandung, adik beradik laki-laki, suami, atau anak kandung lelaki.
              Nah, setelah sekian lama akhirnya aku mencoba memberi pemahaman kepada orang tua melalui ayat di atas. Jangan hanya memberi mereka ayat atau pun hadits, tapi bandingkan apabila anak perempuannya yang tidak melaksanakan perintah Allah, siapa yang menanggung akibatnya. Orang tua juga bakal ikut terserat ke neraka akibat ulah anaknya.
              Banyak rintangan yang pastinya kita alami ditengah-tengah mempertahankan keistiqamahan itu, tapi yakinlah Allah akan selalu bersama hambanya yang memperjuangkan agama Allah. Percaya kepada Allah, kenikmatan yang beribu-ribu rasa syukur itu akan terus menghampiri kita yang istiqamah dijalan-Nya.
Pernah suatu kejadian yang dialami oleh seorang teman dari guruku. Saat berjalan-jalan ke pasar, satu diantara keempat gadis itu sedang asyiknya berbelanja. Tiba-tiba seseorang pria yang tidak dikenal datang menghampiri dan mencolek pinggulnya. Innalilahi wainnailaihi rajiun, setelah kejadian itu, sang gadis ini menangis tersedu-sedu. Kenapa hanya Ia seorang yang dicolek dan digangguin oleh pria-pria pasar itu. Dan apa penyebabnya? Tentu pakaian yang ia kenakan telah mengundang nafsu dari beberapa lelaki tadi. Sementara temannya yang lain mengenakan baju dan rok menutupi bentuk tubuh mereka tanpa melilit jilbab dileher, sedangkan ia saat itu mengenakan celana jins ketat dengan baju membungkus dan jilbab melilit leher. Kejadian itu telah membuatnya sadar, betapa rendahnya wanita yang membagi-bagikan keindahan tubuhnya dihadapan khalayak umum. Semoga kejadian itu tidak terulang kepada sahabat sekalian. Dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.
                   Dan satu hal lagi yang sering terjadi dikalangan para perempuan-perempuan. Berubah itu bukan berarti merubahkan penampilan saja, melainkan hati juga. Nah, yang cewek-cewek jangan galau ya, sampai-sampai buat status kalau, “Jodohku dimana?” atau bla..bla.. apalah. Gak enak dengarnya. Karna merubah penampilan itu bukan saja pakaian yang diubah, tapi perbaiki hati juga. Pastinya tanggung jawab kita lebih besar.. sooo.. akhwat itu akan selalu menjadi topik yang paling disorot ketika melakukan 1 kesalahan pun. Padahal kita juga manusia biasakan.. begitulah kira-kira. Selamat berjuang sabahatku.. aku bisa, dan kalian pun harus bisa...!!!!
            Terima kasih sebesar-besarnya, sejuta, semilyaran, setriliun, dan yang tak terhingga kepada Ibunda Tercinta. Tanpamu Ibu, aku tidak akan bertahan. Ditengah goncangan hidup itu kian menjolak, aku masih punya tanggung jawab yang harus dan wajib dilaksanakan, yaitu melindungi, membuatnya bahagia, dan bertahan bersamanya melewati hidup ini. Juga, Adik bungsu yang masih membutuhkan kasih sayang serta perhatian kakak-kakak dan abangnya. Salam cinta untuk keluargaku yang terus bertahan hingga detik ini.
My Family



Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar