Ayo, Berprestasi Selagi Muda

Ini salah satu dari beberapa judul cerpen yang sedang digarap untuk memenuhi penyelesaian skripsi saya. doakan moga lancar dan segera dibukukan, juga tujuan dari cerpen ini sebenarnya untuk menyadarkan kita dari anak-anak hingga tua bahwa bahaya yang disebabkan oleh zat aditif sintetik pada makanan. selamat menikmati, semoga setelah membaca cerpen ini, para bloggernista bisa sadar..hehe

Ayo, Berprestasi Selagi Muda

               Cuaca begitu terik. Ternoda sudah kegantengan aku gara-gara ulahnya Pak Karto. Tiba waktunya untuk makan siang, belum nonggol juga jemputannya.
            Beginilah, kalau sekolah letaknya disamping Taman Kanak-Kanak. Tiap pulang, ribut. Huff.. uda lapar ditambah meongnya anak kecil itu. Tahan, tahan..!! emosi dapat merusak kegantengan. Oke.
Parah banget. Anak siapa ini? Mengaung-ngaung memanggil Ibunya sedari tadi. Baju seragam batik hijau tampak kumuh. Nah, salah Ibunya juga sih, biarin si anak tidur-tiduran merengek di tanah.
Waahh, wajah si Ibu merah. Mendekati anaknya, bluuppp...si anak kena semprot deh sama ceramahnya Ibu sepuluh halaman plus tambah daftar pustakanya. Tetap aja tuh bocah ngeyel minta dibelikan makanan misteri.
“Ibu, beli bakso goreng...!!”
Yah, si Ibu gak kuat iman. Luluh juga hatinya. Tidak tanggung-tanggung, ia beli dua bungkus plastik kresek. Kebayangkan, sebanyak itu mau dihabiskan semua sama bocak kecil enam tahun.
Aku melihatnya seakan-akan mau muntah segerobak. Nah, lho si Abang penjual pake tanya lagi, “Mau dipakai saus saja atau campur sama kecap?”
Sedetik kemudian, bocah itu langsung semwiring tersenyum, lebar-lebar lagi. tuh gigi uda ompong masih juga makan makanan misterius itu. Prihatin aku memandangnya.
“Tuan, Al..!!”

Bakso goreng atau batagor yang kerap dikenal hingga seantero Aceh, bahkan luar Aceh. Bulat tak beraturan. Ada yang besar juga kecil. Untuk menambah kenikmatannya ditambah pula tahu atau tempe serta colekan sambal saus yang berpadu kecap. Kenyal, itulah yang disuka anak-anak hingga orang tua. Harganya yang relatif murah, juga mudah didapat.
Bakso goreng bisa dinikmati kapan saja. Sebagai lauk-pauk maupun cemilan di sore hari. Khasnya rasa sehingga menggugah selera si penikmat. Ditambah lagi rasa tambahan dari saus berwarna orange-kemerahan. Atau dari asap kendaraan di alun-alun tepi jalan. Nikmat bukan?
Entahlah. Fajar salah satu diantara ratusan bocah lainnya yang mengganggap bahwa bakso goreng adalah segalanya. Hidup dan matinya hanya di bakso goreng. Besok dan besoknya lagi. Bakso goreng yang tak pernah lelah menemani hari-harinya.

@STIN@
Kang Asep, salah satu penjual bakso goreng dan beberapa pedagang lainnya tampak tak bersalah. Memasang tampang tanpa dosa. Hanya inikah atau cara ini yang digunakan untuk mengejar rezeki. Atau si Ibu dan Ayah yang membiarkan buah kesayangannya menikmati jajanan siang-malam pengganti nasi dengan makanan yang dapat merusak hidupnya.
“Bahaya tau, Kang Asep..!!” Remaja MTs tiba-tiba melontarkan kalimat yang sontak bikin Kang Asep kesal.
Disaat jemarinya menggenggap tusuk lidi. Dimasukkan satu per satu butiran tepung bercampur daging ke dalamnya. Sehingga butiran bulat-bulat itu tersusun rapi berbaris berjejeran sampai empat atau tiga butir. Minyak memanas, dan butiran itu tercelup dengan suara yang menggemparkan setiap telinga orang-orang. Aroma menusuk disetiap pembuluh dan bulu-bulu hidung. Ditambah saus dengan campuran kecap yang diragukan kesehatannya.
Sungguh tak tau menahu si bocah-bocah itu. Enak, tentu itu yang diincar setiap pembeli. Sehat. Bersih. Itu biarlah takdir yang melihat. Yang penting lezat, cocok dengan rasa lidah.
Mamang, beberapa kali menyindir Kang Asep untuk berhenti berjualan bakso goreng. Ia juga memberi solusi lain agar Kang Asep membuka pikiran dan mencoba meraih keuntungan dari dagangan yang lain. Sehat dan tidak merugikan bocah-bocah yang lagi semangatnya belajar. Yang masih bersih saraf-saraf otaknya. Yang belum ternodai oleh pengawet-pengawet lainnya.
“Mang, jahat bener lo?”
“Loh, penjahat sebenarnya siapa? Kang Asep dong, Aldi.”
“Alasan lo, apa Mang?” tanya Aldi teman dekatnya.
“Tuh, pengawet semua yang dipake sama Kang Asep dalam jajanannya. Dua minggu yang lalu kita udah belajar tentang bahan kimia yang digunakan sebagai pengawet. Ada yang diizinkan, ada juga yang gak. Mulai dah kambuh pikunnya si Aldi.”
“Oh iya, yang ada Benzoat itu loh.”
“Asam Benzoat, Natrium Benzoat, itu dua diantara banyak lagi zat makanan yang bahaya digunakan dalam makanan, apalagi penggunaan yang berlebihan dan tidak sesuai takaran.”
“Minuman, jus buah, saus, kecap, itu kan yang sering dipake zat pengawet?”
“Hmm.. lah itu udah ingat.” Tepuk Mamang di pundaknya Aldi.
“Trus, lo Mang punya solusi gak tuh? Masa sih tiap lewat depan Kang Asep kita teriakan dia terus, untung-untungan gak wajan minyak panas melebur ke tubuh kita, nah kalo gerobaknya sekalian gimana?”
“Semoga Kang Asep dan temanya cepat diberi hidayah, Amiin.”
Natrium benzoat, asam propionat, formalin, MSG alias monosodium glutamat yang digunakan untuk menyedapkan rasa makanan. Aman digunakan bila dalam jumlah yang sedikit, tapi kalau sudah banyak tanpa ukuran atau keseringan. Nah, bahaya tingkat tinggi. Yang pertama pastinya akan terganggu saraf-saraf otat, akhirnya susah berfikir, sakit kepala, mudah lupa, hingga kena kanker.
Haruskan kehilangan masa remaja? Terganggu prestasi, terganggu cita-cita? Ayok... perbaiki makanan kita mulai sekarang sebelum terlambat. Sebelum rumah sakit atau kuburan jalan akhir.





Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar