Rambu-Rambu Siang dan Malam

            “Siapa..?”
           Aku terdiam saat peristiwa itu kembali. Untuk kesekian kali. Seseorang bertamu tanpa izin. Tanpa sms atau telepon. juga tanpa surat seperti orang zaman dahulu. Tidak berbekas jejak yang nyata. Kecurigaan makin meningkat, tamu itu berinisial P.
          Tidak sesiapa pun terlihat. Tetangga depan merayakan libur panjang. Sunyi senyap seperti kampung mati. Sesekali angin menghembus dedaunan pohon jomblang. Berserak. Tapi, dimanakah kicauan bayi kembar Bu Inah seperti siang lalu. Mungkin tidur atau makan.
       Lebih dekat melangkah. Pelan-pelan aku masukkan kunci. Mungkin seseorang masih di dalam. Tunggu..! aku butuh kayu untuk pertahanan diri. Krik..krik. Kuncinya hilang fungsi. Keringat bercucuran. Padahal usai hujan dua jam lalu. Detakan jantung semakin mengguncang. Aku gemetaran karna ketakutan, juga kelaparan.


         Suara langkah kaki terus merangkak ke dalam. Sejenak berhenti tepat di depan pintu kamar. Pintu terbuka. Engselnya rusak. Seisi kamar berhamburan. Kasur. Meja beralas kertas kado dan plastik juga ikut terbalik. Lemari lerbuka. Buku-buku. Jujur, tidak bisa ku ceritakan jika polisi bertanya nantinya. Terasa membeku. Sulit bernapas.

     “To...to..tolong..!!”

          Menit kemudian, Ibu Inah beserta kedua bayi kembar, juga Bang Rian yang terpongah-pongah berlari menuju kosan tipe 36. Beberapa tetangga lain juga menanyakan perihal yang sama, “Ada apa dengan Ratih?”
      “Polisi..!!” Bang Rian seorang aktivis mahasiswa yang mengoleksi ratusan nomor penting segera menghubungi Kapolsek setempat.
           Masih dengan tanggapan yang sama. Aku dicuekin lagi dan lagi. Geram hingga ingin ku tampar wajah mereka. Tak kuasa menahan hingga kayu membelah dua terbanting. Terpisah atas dan bawah.
          “Sudahlah, polisi juga manusia. Mereka bosan mendengar keluhan kampung kita, Ratih.”
Warga mencoba menghibur. Dan sesekali mondar-mandir dalam-luar seakan mereka juga ikut berusaha mencari barang yang hilang. Tidak banyak barang berharga di rumah. Komputer tua, televisi hitam-putih, radio antik, dispenser, juga kompor merk Hock. Satu lagi, lukisan tua yang terletak tepat menutupi angin-angin jendela.

          “Kapan kamu pindah?”

Seseorang yang tak begitu aku kenal menyambar bak petir siang hari. Menurut bisikan tetangga ia orang baru yang sedang hebohnya mencari kontrakan. Paras jawa-batak. Rambut ikal. Mengenakan celana jins biru. Andai ia berhijab dengan rok menutupi kaki. Cantik parasnya pasti lebih memancar.

          “Segera perbaiki kuncimu.”

        Setelah peristiwa tadi siang. Malam pun terasa menakutkan. Ani, belum juga balik dari kampung. Mimpi buruk akan singgah pasti. Seusai shalat isya, rasanya ingin merebahkan diri setelah lelah mengembalikan atribut rumah seperti semula. Aroma pancuri itu juga masih membekas. Berkali-kali pewangi ruangan aku semprot. Hawa rumah berbeda. Lebih seram.
          Krik..krik. Pintu. Jendela. Beberapa alat harus ditambah demi keamanan. “Cobalah untuk datang! Tak tanggung-tanggung kau ku borgol. Aku punya rencong peninggalan Nenek empat tahun silam. Tajamnya masih sama. Oh.. My Allah, lindungiku.”
          Seperti malam sebelumnya. Suara alunan radio Seulaweut, solusi dulu hingga sekarang sebagai obat insomnia. Dengan begitu, rasa takut hilang. Alunan nasyid. Titip rindu untuk kekasih Allah lewat shalawat, juga kehadiran Sang Ilahi sebagai penyejuk kala malam. Dan aku, merasakan kehadiran Rasul dalam mimpi lelap.
          “Bagaimana tidurmu?”

Dua roti rasa kacang hijau. Telur. Sayur campur. Juga susu sapi murni. Pukul 07.00,  masih tersisa waktu untuk menyiapkan sarapan sebelum ke kampus. Satu, dua, tiga, Ibu-ibu seantero kampung mulai membanjiri kios kelontong. Tidak seperti pagi biasanya. Kali ini lebih ramai. Mereka juga menanyakan perihal yang sama.
        “Kunci pintumu. Pakai gembok tambahan. Jangan tinggalkan barang berharga. Pancuri pasti datang lagi.”
            Pembicaran ibu-ibu itu buat merinding. Sepanjang jalan tapak, aku terus berfikir. Tiba di dapur masih dengan pikiran yang sama. Pukul 08.00 semakin dekat. Radio masih menyala. Lupa ku matikan, mungkin terbawa suasana ketakutan.
       Okey, thanks Allah. Solusi datang tepat waktu. Sepanjang aktivitas di luar rumah. Biarkan radio menyala. Kalau pun si pancuri bertamu lagi. Setidaknya ia akan mengira suara orang dalam rumah, atau biarkan pancuri itu juga ikut teruhiyah raga dan jiwanya dengan alunan shalawat Rasul, pengajian, ceramah agama, dan lagu religi dari radio Seulaweut, yang telah menghipnotis hari-hariku, selalu membuat  nyaman dihati dan membuka cakrawala.




Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar