Ketika Mas Terganti Giok

       Empat tahun silam, kami berenam diwariskann sebuah perhiasan yang harganya tidak seberapa. Mungkin mahalnya sekitar Rp. 500.000 - Rp.800.000. sesuatu yang tak seberapa nilainya. Melainkan tulus niat hati seorang Ibu yang membuat perhiasan ini tak akan tersaingi oleh ratusan milyar.
      Hingga saat ini perhiasan itu tetap melekat dijari kami, keenam anaknya. Awalnya,  aku sering mendapatkan sindiran atau pun ejekan orang-orang, “Lho, cewek kok pake batu cincin, gak malu?”
      “Biarin, ntar juga ke ikutan pake,” padahal udah malu juga, cuma demi mempertahankan harga diri. Biarlah.
       Ini batu hadiah dari Ibu sepulang haji tahun 2009 silam. Alhasil, dibuatlah kami cincin satu per-satu. Punya aku awalnya ukuran lebih besar, hehe...kasian juga Ibu, katanya mirip cincin cowok. Digantilah dengan yang lebih kecil.

Giok Madu

       Masing-masing batu cincin kami memiliki warna yang berbeda. Dulu, namanya gak terkenal. Cuma warna yang membedakannya. Merah, kuning, hijau, orange, coklat, atau pun hitam. Nah, kalau sekarang namanya udah pada aneh, solar, solar super, cempaka super, madu, black, Indocresss, neon, nefrit, dan banyak lagi. Nah, bahasa kerennya sekarang Giok. Giok paling terkenal di Aceh yaitu giok Nagan Raya. Kualitas super. Teksturnya lebih jelas alias serat-serat di batunya punya ciri khas tersendiri. giok Aceh nomor dua terbaik di dunia. wow...
        Aku bukan penyuka giok. Tapi karna keluarga kakak tinggal di Nagan Raya alias Nigeria, jadinya sering deh dibawa pulang giok ke kampung dalam bentuk kiloan besar. Nah, sampe ke kampung, urusannya Abang pertama yang olah jadi cincin bermata giok dengan bentuk yang berbeda-beda. Alhamdulillah banyak yang sudah terjual, katanya. Haha... emanglah sambil menyelam minum batu.
         Kesannya banyak banget sejak zamannya giok. Pergi ngajar, eh si siswa pada bilang, “Ciee, Ibu pake giok juga.” Terus besoknya siswaku juga pake giok ke sekolah. Katanya gak mau ketinggalan juga. Ade-ade aja virus giok. Dan ada lagi yang bawa tas berat-berat, eh ternyata isi dalam tas nya giok yang kiloan. Astagfirullah..
        Itu disekolah, nah sekarang di TPA. Bayangin virus giok mewabahnya geri sampe ke anak TK, pokonya udah gak kenal usia. Semua gila giok. “Umi, giok apa itu namanya? Kami juga ada tapi belum siap dibuatin sama Ayah,” aku cuma manyun-manyun aja.
Kembali ke zaman batu. Kalau bicara harga emas dan giok. Kalah pasti si emas. Giok yang kecil aja harganya sampe 3jutaan, bahkan ada yang milyaran. Sekalian aja maharnya diganti pake giok, “Ku pinang kau dengan giok.” Mantap kali ah..haha
          Wuisshh, tapi bikin geli kalau liat orang-orang pake giok gedenya gak tertandingi, mirip mbah dukun. Sepuluh jari penuh dengan giok, gede-gede kali tuh. Gak berat apa batu kiloan digantung kemana-kemana. “Tak gendong kemana-mana, tak gendong giok kemana-mana.”
          Semoga musim giok seperti musim durian. Tiap tahun selalu ada. Kasian pencari dan penjual giok kalo musimnya tahun ini aja, takutnya ntar tahun depan gioknya dijadikan batu pondomen rumah karna kebanyakan dan tak ternilai lagi.

Bongkahan Giok
            













Black giok, harganya juga selangit

Giok Solar Super, yang paling mahal

Giok Kaskus     

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar