Tenang, ada Allah kok


            Gerah tiba-tiba. Cuaca di kos lagi gak bisa diajak mengerti. Beberapa hari yang lalu banjir di kos-kosan ujung. Terpaksa harus belajar dan beraktivitas di atas perahu. Syukur saja air tidak terlalu tinggi. Kalau tidak? Hah, jadilah kami bangun tidur sudah menggambang di sungai Lamnyong.

         Tenang, ada Allah. Itulah kata-kata yang selalu aku viruskan ke otak kanan, kiri, tengah, depan, dan belakang untuk selalu memotivasikan diri sendiri. Dan anehnya, hampir sebagian besar musibah kebanjiran di alami di kampung halamannya. Nah, aku? Kampung baik-baik saja, tak ada air pun yang mengenang di halaman. Mungkin karna letaknya di kaki PTPN. 1 Nusantara, daratannya sedikit tinggi. Atau bisa saja, Allah sayang pada keluargaku. Terus, sama kami sayang gak, Allah?

      Jumat siang, sepulang dari kampus. Aku mendengar kutbah di Mesjid Tanjung Seulamat, yang letaknya tidak terlalu jauh dari kos kami. Cukup membuat aku dan sesiapa saja untuk intropeksi diri masing-masing, biar cinta Allah sepenuhnya buat kita. “Musibah atau pun bala yang terjadi pada kita saat ini merupakan azab yang diberikan Allah kepada hambanya, karena kurangnya kita dalam berbuat kebajikan, menjalankan perintah Allah, mengamalkan Al-qur’an dan Hadist, menjalankan sunnah-sunnahnya”

      Setelah mendengar khutbah. Ya Allah, ternyata ini teguran berat buat aku dan teman-teman kosan. Tidak cukup hanya dengan shalat wajib tepat waktu,  sunnah, atau mengaji. Tapi masih banyak lainnya yang telah kami lalaikan. Dan ini menunjukkan bahwa Allah sangat sayang kepada kami, sehingga Ia tidak ingin hambanya mendapat siksa di akhir kelak.

             Meskipun kosan yang kerap dilanda banjir saat hujan deras berturut-turut. Atau pun kemalingan. Satu hal yang tidak pernah aku kecewakan. Bahwa aku bahagia dipertemukan dengan kalian. Tinggal satu atap dengan sifat dan kebiasaan yang sungguh aneh banget. Kekeluargaan yang tak pernah tergantikan. Selalu tertawa bahagia. Lagi banjir pun masih bisa bercanda riang, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi.

             Meskipun waktu yang relatif singkat untuk bersama. Tapi itu tidak mengurangi kami untuk selalu membulli siapa saja yang terpilih. Haha... kami juga punya lagu kebangsaan setiap ngumpul, lagu yang tak punya judul. Meskipun kelima anak kosan mempunyai selera yang berbeda, dangdut, india, barat, rock, dan nasyid. Kebiasaan ini bakal terdengar di pagi hari dan malam hingga larut.


astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

3 komentar:

  1. Yuuup, always be positive, hihiii
    Nice tina

    BalasHapus
  2. hiyah atuh, tenang sajah, kita tinggal berpasrah hanya kepada Allah jeh

    BalasHapus
  3. yoi kak eki..hehe
    makasi ya kak uda berkunjung ke blog tina. insyaAllah tina bakal jadi cem kak eki.. Sang Penakluk Blogger.. hahah

    iyo bg Cilembu Thea... makasi uda berkunjung :)

    BalasHapus