Mau Cepat Move On Lagi..!!!


Mendung tak berarti gerimis, atau sebaliknya. Pohon yang tumbuh tinggi, besar, daunnya hijau, lebat bunganya, dan buah juga menggiurkan. Untuk mendapatkan semua dan sesempurna itu tidaklah mulus. Prosesnya panjang bahkan bertahun-tahun. Awalnya buah tersebut terbelah karna tamparan sinar matahari atau bisa juga membusuk karna proses pembentukan yang tidak optimal.
Pohon itu ialah kita, manusia makhluk ciptaan Allah. Setiap manusia yang terlahir ke dunia ini tidak pernah mulus dan lurus jalan hidupnya. Masalah yang datang selalu setia setiap saat datang tanpa undangan, pemberitahuan, apalagi pengumuman. Karna masalah itu datang secara tiba-tiba atau ketika kita lagi asiknya ketawa haha-hihi bareng teman, trus dapat telepon yang bikin ingus meler, mata merah bengkak, down dan stress memuncak.
Sebenarnya ini curhat orang kere. Why? Karna buku curhatku abis. Taukan anda? Curhat itu bikin otak dan stress hilang meskipun tidak 100%, meskipun 20%, setidaknya telah berkurang. Tapi yang harus diingat, curhatlah ditempat yang telah disediakan. Misalnya pas siap shalat, atau tengah malam bangun shalat Tahajjud. Mulailah disitu curhat abis-abisan sampe meler dihadapan Allah. Atau bisa juga lewat tulisan, ini yang sering aku lakukan. Nah, kalau mau curhat sama teman, lebih baik filter dulu tuh teman, kira-kira apa impact  yang akan kita dapat abis siap berkoak-koak atau malah curhatan kita di koak-koak balek tuh sama si teman. Bahanya kalau ini sampe terjadi.
Hujan-hujan gini enaknya curhat lewat tulisan. Selain bikin nambah pinter nulis, plus curhatan itu bakal terabadikan selamanya lewat tulisan. Boro-boro ntar curhatan ini bisa dikumpul jadi satu buku, lumanyan lah.
Aku mau cepat move on lagi..!!! atau bisa tidak kalau tahun 2014 ini dihapus saja dari memori perjalanan hidup. Sungguh terlalu tahun 2014, menguras tenaga, otak makin menciut, pikiran gak jelas, tatapan kosong, belum lagi langkah kaki setiap harinya berat abis.
Masuk awal tahun. Aku yang sedang haha-hihinya ketawa bareng teman-teman di tempat PPL, tiba-tiba dapat telepon dari orang rumah. Beeuhh… kabarnya tuh kepingin aku banting semua yang di depan mata. Mau teriak, tapi di kantor guru. Mau lari, bentar lagi ada jadwal mengajar. Mau curhat sama teman, gak mungkin.
Hari berlalu, ku coba mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Bersabar dan minta dikuatkan iman sama Allah. Moga hari-hari aku tidak terjerumus ke dunia gelap-gelapan. Hampir saja itu terjadi, tapi syukurlah Allah masih sayang pada hambanya. Di tahun sebelumnya, hidupku memang bermasalah. Nasib mahasiswa pindahan itu gak enak banget. Seperti anak tiri. Gak jelas isi krs, online, atau nilai yang di akhirnya harus kejar-kejaran sama dosen mengemis nilai.
Oke fine.. nasib atau takdir itu akan ku hadapi. Its..oke. masalah itu telah memberi jutaan pengalaman buat aku. Lebih dikenal sama dosen. Adik-adik leting juga, karna mata kuliah yang aku ambil 85% di leting 2011. Bahkan sohib dekat and lengket lebih banyak di 2011. Lebih paham kalau urusan minta nilai. Dan gitu-gitulah..
TAPI…!!! Kalau urusan keluarga. Siapa yang tidak stress bercampur galau. Dua bulan lebih aku tinggalkan proposal. Sampe-sampe tu judul proposal kadaluarsa. Sedikit pun tidak tersentuh. Mondar-mandir naik motor gak ada tujuan. Pulang ke kos, nonton atau tidur.
Beberapa bulan berikutnya, aku KKN ke Pidie Jaya. Disitulah emosi dan stres paling memuncak. Pulang ngajar ngaji, tiba-tiba ditelepon sama orang rumah. Beuhh lagi…mau kuhancurkan itu rumah pak Geuchik. Kebayang gak sih, di belakang rumah ada kuburan seluas 2 hektare. Tepat jam 00.00 tangisanku memuncak ngalahin kuntilanak nangis.
Syukurlah, ada si sohib yang hebat banget. Akhirnya bisa tenang dan mereda. Sesekali berdebar kencang saat si teman-teman di telepon sama keluarga, ayah dan ibu. Menanyakan kabar anaknya yang dirantau. Selama sebulan, beberapa kali orang tua mereka menjenguk dan membawa makanan untuk anak-anaknya. Dan aku?
Mendengar orang-orang menyebut nama Ayah saja. Rasanya bejibun rasa kebencian pada laki-laki yang dipanggil Ayah itu. Ayah yang dulu bukanlah Ayah yang sekarang. Ia menghilang entah kemana tanpa kabar bersama wanita madunya. Membuang dan membenci anak istrinya. Tidak lagi ku kenal Ayah. Dan Ia hanyalah mantan Ayah.
Hingga akhir tahun. Aku harus move on. Harus punya pekerjaan. Dulu uang bulanan ditanggung Ayah. Dan sekarang semuanya jadi beban buat Ibu. Ia bekerja sendiri sambil membiayai dua lagi anaknya yang belum selesai studi. Adikku sekolah di asrama, cukup lumayan menghabiskan banyak uang, SPP, buku paket yang harganya cukup tinggi, uang hari-hari, dan lain-lain. Ditambah lagi uang kebutuhan aku selama dirantau. Huff…parah.
Dan dengan syukur Alhamdulillah, akhirnya aku diterima untuk menjadi pengajar di TPA setelah menjalani beberapa tes dan proses magang selama dua minggu. Meskipun gajinya yang tidak besar, setidaknya mampu mengurangi sedikit beban Ibu dan hitung-hitung berbagi ilmu kepada anak-anak.
Hari demi hari, semakin ku perkuat di shalat Dhuha. Dhuha itu shalat sunnah yang memberi sejuta keajaiban rezeki yang sangat luar biasa. Dan aku sekarang juga disibukkan dengan mengajar di sekolah tempat PPL dulu dua hari dalam seminggu. Bersama ketiga teman, kami mulai mengait rezeki lewat usaha kecil-kecilan, merancang, membuat, dan menjual lampu lampion unik. Baru mulai sih, dan semoga Allah membuka pintu rezeki dan usaha kami laku keras laris manis.
Dibalik kejadian dan peristiwa yang menakutkan ini, ada ada banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kupetik sehingga menjadi suatu payung yang kuat dan tahan saat diserbu hujan maupun terik panas matahari. Aku ingin diibaratkan seperti payung yang selalu memberi kehangatan, melindungi, dan menebar manfaat buat orang sekitar.
Ternyata, ketika kita membuka mata, pikiran, dan hati. Banyak masih orang-orang di luar sana yang menderita lebih dari kita. Menangis lebih kencang dari kita. Teriak lebih keras dari kita. Frustasi lebih dalam dari kita. Dan sungguh Allah itu Maha Penyayang. Masih ada cinta-Nya untukku.
Bahagialah buat orang-orang yang masih punya cinta Ayah, kasih sayang, dan perhatian. Jangan sia-siakan itu, karna itu adalah hal yang sangat langka buat orang lain. Sangat berharga dibandingkan uang jutaan atau pun milyaran dolar. Aku rindu kebahagiaan itu juga.

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar