Mei, Tak Selamanya Indah


Berakhir dengan status sebagai calon guru bukanlah pilihan. Tapi, berakhir dengan status sebagai pengusaha muda itulah pilihan. Acap kali aku merenungkan nasib yang berdiri tekuk di ujung jari. Antara nasib dan takdir, keduanya bukanlah pilihan yang harus kupilih. Mengaung-ngaung dan melayang di udara. Saat palu jatuh, “Kau harus jadi guru.” Inilah takdir.
Semester delapan, sebuah program yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa akhir di perguruan tinggi Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan. PPL atau Program Pengalaman Lapangan, alias pergi-pulang lapar. Februari dilema berujung dengan Mei berkunang-kunang. Terharu sampai tak ingin berpisah? Tidak. Bukan mata yang berkunang-kunang, bukan pula hati. Tapi jiwa dan raga yang merindukan penjemputan, ingin rasanya menghilang dari wajah-wajah mistis itu. Yang Senyumnya lebar 2 cm ke kiri.
Mandi subuh. Sunrise muncul. Bersiap terbangkan sepeda motor dengan suara gas terbahak-bahak dan knalpot meletup. Sepinya sekolah ini. tapi inilah sekolah yang ingin terlihat membahana di depan pejabat Dinas Pendidikan. Bangunan kokoh dengan siswa-siswa bodrek. Miris mengenangnya.
Berangkat dengan perut berisi sandwich berkolaborasi dengan susu pancung. “Kamu satpam atau pesuruh sekolah? Kok pakai baju putih-hitam.”
Bertanya dan menjawab sendiri. “Bukan, aku..aku adalah..”
Aku mahaisiswa praktik yang sedang mengabdi di sekolah kokoh ini. perut kenyang dan satu jam kemudian mengejar kantin mengeledah keranjang kue-kue kering menunggu hingga jam pulang sekolah tiba. Yah… baju rapi putih bersih, harum melati, beroleskan bedak dan pelembab bibir merona merah muda, dan high heels yang menggoda. Tentu saja siswanya bakal terpikat oleh karismatik seorang guru yang elok dipandang.


Gubrak, tidak Mak..!!! satu jam kemudian. Aku bagaikan gadis sihir dengan jilbab acakan, baju bermandikan air yang keluar melalui pori-pori kulit, bedak dan bibir merona ditelan badai panas pagi. Dan lagi-lagi perutku keroncongan. Mulai lapar.
Syukurlah tiap Rabu jadwal mengajarku jam 10.45. yah…setidaknya masih tersisa waktu satu jam lagi untuk berburu kue di kantin. “Aigoo, satu lagi..!



Ah…bandan ku mulai keropos, baru satu bulan. Jidatku bertambah lapang. Lemak kian menipis. Kulit tak terawat, benjol sana benjol sini. “Aku jerawatan, sejak kapan?”
Mei berkunang-kunang. Akhirnya aku berhasil melewati tumpukan beban di pundak kecil dan mungil ini. Besarnya hambatan bukanlah pilihan untuk menyerah. Hidup itu kejam. Terkadang tersenyum dan tertawa karna ikhlas. Kadang juga karna paksaan profesi. Perjalanan masih panjang. Jadikan kunang-kunang sebagai sinar pelangi saat hati penuh kegelapan.





astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar