Lebaran Jelajah Pelosok Indrapuri


Nah, siapa hayo yang tak kenal tempatnya yang sedikit adem. Letaknya tak jauh dari Ibu Kota, Banda Aceh. Ditambah lagi sejarahnya yang tak terlupakan namun banyak yang tidak tahu, alias tersembunyi dalem banget.Yah.. pastinya orang tau, Indrapuri itu kotanya sejarah. Tapi dimana letaknya sejarah ya? Penasaran? Simak selengkapnya hanya di “Berita Islami Masa Jino”.
Indrapuri merupakan salah satu kota juang peninggalan pas masa penjajahan Belanda. Salah satu peninggalan yang saat ini masih terlestarikan sangat utuh, tanpa sedikit pun renovasi, yaitu masjid Indrapuri, dan makam pahlawan Tengku Chik Ditiro yang mulai direnovasi.
Setelah bersilahturahmi dengan sanak saudara yang menghabiskan masa tuanya di Sibreh, Aceh Besar. Selanjutnya perjalanan terus bergulir menuju Samahani. Arrrggghhtt…. Shock batin abis. Apes kepepes udah kayak ikan tongkol pepes. OMG.. ternyata nenek bunyut aku ituh aslinya orang Samahani..!!!
Si Nenek yang kerap disapa oleh orang-orang Samahani, jadilah namanya Nek Samahani. Orangnya ituloh,, canteeuk  bingit. Umurnya sudah 90 tahun lebih, tapi hidungnya mancung pisan eeuyy… putih dan sungguh menggoda. Lantas saja si Nenek dulu sempat dibawa kabur alias diculik ke Idi, Aceh Timur sama pria yang akhirnya menjadi suami sahnya. Ehh.. syukur aja nih Neneh kembali lagi ke peraduan tanah kelahiran.


Oke, kembali ke tema awal. Nah, perjalanan dari Sibreh menuju Mesjid Indrapuri tidak menghabiskan waktu lama. Sekitar 30 menit. Bangunannya kokoh dan masih sangat utuh. Terdapat tembok beton, tebal, tinggi dan kuat yang berlapis tiga tingkat. Dan diatas benteng tersebut dibangun Mesjid yang terbuat dari kayu dengan atap yang bertingkat tiga. Ditambah lagi tiang masjid yang jumlahnya lumanyan banyak.
Di depan masjid terdapat kolam yang lumanya dalam. Katanya Dulu kolam itu digunakan untuk mandi raja, atau tempat wudhu. Bingung juga sih, berhubung tidak ada pemandu yang memahami betul sejarah kota juang tersebut.
Di atas tiang yang kokoh, tampak ukiran kayu yang unik dan rapi. Di dalamnya juga terdapat rak buku, yang isinya merupakan peninggalan zaman dulu, terlihat jelas lembaran kertas yang sudah sangat tua dan berwarna kuning kecoklatan. Al-quran tua, kitab, dan buku yang masih bertulis tangan.


Gambaran luar Mesjid Indrapuri
Gambaran dalam Mesjid Indrapuri

Kolam di depan Mesjid Indrapuri

Kolam di depan Mesjid Indrapuri











Dilihat dari sisi luar masjid yang dikelilingi oleh halaman yang luas dan terdapat benteng seperti pos penjagaan zaman perang dulu. Kalau teman-teman pernah dan akan mengunjunginya, cobalah naik ke atas benteng. Kepakkan sayap, pejamkan mata, dan rasakan aroma sejarah yang sangat kental, dan juga udara segar sangat astri. Disisi kirinya terdapat sungai luas, aliran airnya lumanyan deras.

Atap Mesjid Indrapuri

Mesjid Indrapuri













Brrrbbbrrr… siap berpose-pose dan menikmati pemandangan alami, selanjutnya tour dadakan menuju ke makam Tengku Chik Ditiro. Nah, nama ujungnya Tiro karna beliau orang asli dari Tiro. Perjalanan menuju ke makam pahlawan menghabiskan waktu sekita tiga jam perjalanan. Sepanjang perjalanan kita cukup dihibur dengan rumah-rumah penduduk yang masih bergaya zaman dulu. Rumah panggung atau rumah adat Aceh. Hanya beberapa rumah saja yang sudah merombak menjadi permanen.
Tentu saja, kita dihiasi dengan sawah-sawah yang bertingkat-tingkat. Tidak terlalu luas dan tidak terlalu lebar, pastinya yang sedang-sedang saja. Beberapa desa kita lewatin, diantaranya ada desa Meure Ulee Titi, Meure Lam Glumpang, dan meure-meure lainnya. Begitulah kira-kira. Susah ingat nama desanya yang super duper ajaib bin aneh, sampe meukilah lidah bak takhen.
Tibalah di Makam Pahlawan Tengku Chik Ditiro. Saat itu, makamnya sedang direnovasi. Katanya sih, karna ada penambahan satu makam lagi. Siapa sih? Hahaha… tentu saja cucunya, Hasan Tiro. Awalnya di dalam hanya terdapat makam Tengku Chik Ditiro dan anaknya, Muhammad Amin. Namun, karena sang cucu kepingin dikumpulkan kembali bersama kakek, di makamlah ia  diterasnya. Tak elok dipandang. Jadilah direnovasi kembali.
Wuiidiihhh…. Panjang makamnya tuh, panjang bingit. Kira-kira tiga meter adalah. Disampingnya juga terdapat pondok yang isinya tuh foto-foto pahlawan, gak banyak sih. Sekitar tiga foto.
Sesuatu yang tidak terencanakan sedikit pun. Awalnya hanya bermaksud untuk Silahturrahmi berhubung Mama, Abang, Kakak, dan Adik lebaran di Banda Aceh. Nah, geuek cuma anak kos yang tak punya kue lebaran. Asinlah asik jalan-jalan aja seharian penuh, nyambung lagi malamnya. Gak papalah, hitung-hitung buat hilangin stressss dan menghibur sang Mami karna masalah yang bejibun di rumah.
Makam Tengku Chiek Ditiro
 





Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar