Chemistry in my Heart

            Pembahasan Uji Seliwanof, Hidrolisa Karbohidrat, Karakteristik Zat Pati pada   KARBOHIDRAT
           Pada percobaan tentang karbohidrat ini kami melakukan 3 uji yang berbeda, yaitu uji seliwanof, uji hidrolisis karbohidrat, dan uji karakteristik zat pati. Menurut Kuchel (2006), “Karbohidrat adalah senyawa polihidroksialdehid atau polihidroksiketon. Oleh karena itu, karbohidrat mempunyai dua gugus fungsional yang penting yaitu gugus hidroksil dan gugus keton/aldehid. Dihidroksiaseton merupakan senyawa induk dari ketosa dimana suatu isomer struktural dari gleseraldehida. Meskipun dihidroksiaseton tidak mempunyai atom karbon kiral, ketosa sederhana secara struktural berkaitan dengan dihidroksiaseton yaitu dengan cara menambahkan beberapa atom karbon kiral terhidroksilasi diantara gugus keto dan salah satu gugus hidroksimetil”.
 Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa banyak tujuan yang kami lakukan ini, salah satunya adalah untuk membedakan antara sampel yang mengandung gugus ketosa (fruktosa) dan sampel yang mengandung gugus aldosa hal ini dilakukan pada uji seliwanof. Maka dari itu di sini kami menggunakan berbagai bahan atau sampel yang sering kita jumpai sehari-hari ( pisang wak, pisang ayam, pisang kapok, ubi kayu, kentang, beras, dan jagung ) dan pereaksi yang kita gunakan adalah pereaksi seliwanof. Untuk membuat pereaksi seliwanof kita membutuh kan larutan yang mengandung resorcinol dalam asam klorida 1 : 2 (Erlida: 2013). Dehidrasi fruktosa (ketosa) oleh HCL pekat menghasilkan hidroksimetil furfural dan dengan penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah. Pemanasan senyawa karbohidrat yang mengandung gugus keton akan menghasikan warna merah pada larutannya. Larutan merah tua menunjukkan hasil positif (mengandung ketosa), sedangkan larutan merah pudar menunjukkan hasil negatif (mengandung aldosa). Reaksi ini tidak terjadi pada pati dan laktosa karena pati tersusun dari unit-unit glukosa yang dihubungkan oleh ikatan 1,4-a-glikosida, sedangkan laktosa tersusun dari galaktosa dan glukosa yang keduanya merupakan aldosa. Berdasarkan pada percobaan yang telah dilakukan, dari ketujuh bahan yang diuji, semua nya menghasilkan larutan berwarna merah (positif), yang menandakan bahwa ketujuh bahan tersebut mengandung gugus ketosa. Sedangkan untuk aldosa hasilnya negatif.
            pada percobaan hidrolisa karbohidrat proses penguraiannya dapat dipermudah dengan penambahan asam pekat atau enzim, dengan menggunakan larutan sukrosa dan tepung gum arab, pada percobaan ini asam pekat yang digunakan adalah HCl dan beberapa pereaksi seperti benedict, seliwanof, dan barfoed, pada percobaan ini juga digunakan NaOH 10 %, percobaan pertama yang dilakukan adalah larutan sukrosa yang di tambahkan dengan HCl pekat menghasilkan larutan tidak berwarna setelah di panaskan 45 menit larutan tetap tidak berwarna dan setelah didinginkan larutan masih tidak berwarna setelah itu baru di tambahkan NaOH 10% maka menghasilkan larutan tidak berwarna juga dan setelah di uji dengan lakmus didapatkan phnya 1. kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan pereaksi seliwanof menghasilkan larutan tidak berwarna agak kental, ketika ditambahkan dengan pereaksi barfoed menghasilkan larutan biru pudar dan ketika ditambahkan dengan pereaksi benedict menghasilkan larutan tidak berwarna. larutan sukrosa disini termasuk contoh monosakarida, Sukrosa merupakan produksi akhir asimilasi karbon(C) pada proses fotosintesis yang terjadi di daun dan bentuk karbohidrat yang mudah ditransportasikan ke jaringan simpan atau sink tissues. hal ini sesuai dengan Winarno (1986), ”Hidrolisis karbohidrat adalah proses dekomposisi kimia dengan menggunakan air untuk memisahkan ikatan kimia dari substansinya, dan molekul  menjadi bagian-bagian penyusunnya yang lebih sederhana seperti dekstrin, isomaltosa, maltosa dan glukosa”.
            pada percobaan kedua yaitu gum arab yang ditambah dengan H2O menghasilkan larutan tidak berwarna dan gum arab menjadi menggumpal setelah itu di tambahkan HCl dan dipanaskankan selama 20 menit menghasilkan larutan tidak berwarna dan ada busanya dan gum arab tersebut larut setelah didinginkan larutan masih juga tidak berwarna dan berbusa, setelah itu ditambahkan dengan NaOH 10% menghasilkan larutan tidak berwarna dan berbusa dengan phnya 2, kemudian larutan tersebut ditambahkan dengan pereaksi seliwanof menghasilkan larutan tidak berwarna agak kental, dan ketika larutan ditambahkan dengan barfoed menghasilkan larutan hijau pudar, Gom arab banyak dipakai dalam industri makanan dan kimia lainnya, dari percobaan ini kita mengetahui pada karbohidrat terdapat Bentuk molekul karbohidrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana yang disebut monosakarida, misalnya glukosa, galaktosa, dan fruktosa. hal ini sesuai dengan Harwati (2009), ”Proses hidrolisis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu enzim, ukuran partikel, temperatur, pH, waktu hidrolisis, perbandingan cairan terhadap bahan baku(volume substrat), dan pengadukan”.
Berdasarkan hasil perobaan pada praktikum uji karakteristis zat pati, terdapat beberapa sampel yang digunakan untuk membuktikan adanya kandungan glukosa didalamnya dan beberapa kandungan lainnya. Oleh karena itu, pengujian tersebut dilakukan dengan mereaksikan zat pati dengan pereaksi seliwanof, benedict, barfoed, dan yod. Misalnya, zat pati yang direaksikan dengan pereaksi benedict menghasilkan larutan berwarna hijau pudar. Sebelum di uji benedict larutan yang telah direaksikan dengan HCl pekat, selanjutnya dinetralkan dengan NaOH. Hasil diperoleh larutan berwarna hijau pudar. Hasil percobaan ini diperkuat oleh teori Pridamaulia (2011), “Sebelum dilakukan uji benedict, larutan yang dihasilkan dinetralkan dengan larutan NaOH 10% karena larutan bersifat asam setelah penambahan HCl pekat. Larutan yang sudah netral atau sampai basa tersebut ditambahkan pereaksi benedict dan dipanaskan. Hasilnya diperoleh larutan bewarna hijau. Ini menunjukkan hasil positif adanya gula pereduksi pada larutan amilum tersebut. Hasil dari hidrolisis ini adalah berubahnya amilum menjadi glukosa karena amilum mengandung amilosa atau amilopktin yang merupakan polimer dari glukosa, dapat dihidrolisis sempurna dalam suasana asam denga cara pemanasan dan menghasilkan glukosa (monosakarida), dan tidak memiliki sifat mereduksi seperti pada monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa”.
Menurut Pridamaulia (2011), “Amilum atau pati terbentuk lebih dari 500 molekul monosakarida. Pati terdapat dalam umbi-umbian sebagai cadangan makanan pada tumbuhan. Jika dilarutkan dalam air panas, pati dapat dipisahkan menjadi dua fraksi utama, yaitu amilosa dan amilopektin. Amilosa terdiri atas 250-300 unit D-glukosa, Sementara amilopektin memiliki 1000 unit glukosa yang membuat molekul amilopektin lebih besar daripada molekul amilosa”.
Uji karakteristik zat pati selanjutnya pada makanan yang sering dikonsumsi sehari-hari oleh makhluk hidup. Pisang mentah/matang dan papaya mentah/matang yang telah diekstrak akan direaksikan dengan pereaksi seliwanof, benedict, barfoed, dan yod. Misalnya pisang matang yang direaksikan dengan seliwanof menghasilkan larutan yang berwarna putih pudar. Pengujian ini untuk melihat kandungan glukosa yang terdapat di dalam pisang maupun papaya. Seperti penyataan Sudarmaji (2003), “Pisang juga mengandung energi karena mengandung gula alami sebagai penambah energi. Kandungan yang teradapat dalam pisang adalah 7% sukrosa, 2% glukosa, dan hanya 1% fruktosa. Fruktosa merupakan gula yang paling manis diantara gula alami lainnya”.
Semoga bermanfaat ^_^ 
Praktikum di Laboratorium Kimia, Unsyiah

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar