Kenapa Harus?

Juli 2010. Namaku tertera di salah satu koran nasional dalam seleksi ujian masuk perguruan tinggi melalui tes SNMPTN. Statusku dalam sekejap menjadi mahasiswa baru di Fakultas Pertanian jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP). Di dalamnya aku mengenal mereka, trio THP. Dan, bersamanya aku tumbuh menjadi manusia yang utuh. Hidup lebih berkilau dan bercahaya secerah kilauan lampu di malam gelap.
Semangat tak karuan. aku juga aktif di berbagai organisasi yang telah membuatku lebih berharga dari sebelumnya. Tak pernah terhitung pengalaman yang kudapat selama berorganisasi. Orang tuaku sempat khawatir, bagaimana jika IPK anjlok? Tidak, bukanlah organisasi yang membuat IPK anjlok, tapi diri sendiri. Lho, kok bisa? Yah... karna organisasilah yang akan membantuku lebih semangat kuliah. Hari-hariku penuh motivasi, lebih berwarna, dan tidak membosjauh dari kebosanan. Hidup bagaikan robot kontrol. Kuliah, siapin tugas. Besok gitu lagi... membosankan.
Setahun berlalu. Fakultasku berpindah tempat. FKIP. Jadi guru? Kok bisa, apanya yang enak jadi guru, kimia lagi. Bukankah pengusaha yang kau incar? Itulah diantara beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh teman. Berprofesi sebagai guru bukan yang ku suka, awalnya. Kalau kimia, mungkin hanya itu pelajaran yang menarik sejak SMA. Menurutku kimia itu mudah, lebih akrab dengan alam, dan hidup manusia itu takkan pernah terpisah oleh kimia.
Tahun pertama di FKIP Kimia. Tak satu pun organisasi yang ku jalani. Redup tak bersisa. Yah...semuanya kutinggal hanya demi kimia. Kenapa? Itulah rahasia umum. Suatu penghargaan yang tak ternilai jika mahasiswa kimia dapat meraih strata 1 (S-1) walaupun dengan IPK yang biasa-biasa saja. Susah, capek, ribet, pusing, semuanya beraduk-adukan. Beberapa bulan kujalani, akhirnya rumah sakit solusi. DBD, tipus, dan asam lambung.

Kimia itu aneh, kurang kerjaan, lucu, tapi mengasyikkan. Ditambah lagi dengan mata kuliah kimia organik, struktur, reaksi, mekanisme, dan bla-bla. Organik I, II, dan III. Dan, dunia praktikum yang tak pernah habis-habisnya. Bermain dengan bahan-bahan kimia, ngobrol asyik dengan asam sulfat, asam klorida, amonia, yang lagi pekat-pekatnya. Semuanya biasa saja. Bukan anak kimia namanya, jika belum tersentuh dengan bahan aneh itu. Terhirup atau pun terkena kulit.
Syukurlah, laboratorium kami menyediakan fasilitas yang cukup memadai. keselamatan kerja yang harus selalu diperhatikan. Karna jika berbicara kimia, masa depan juga berpengaruh. Seperti kata temanku, “Jangan lupa pakai masker, ntar masa depan gak bahagia.” Bagiku, tidak ada yang perlu ditakuti, asalkan prosedur dan peraturan tetap terpelihara demi keselamatan bersama.
Mendengar kata kimia, memang menakutkan. Tapi setelah semua terjalani dengan ikhlas, malah keberuntungan yang dapat dipetik. Awalnya aku tidak mengenal H2S, ternyata kentut juga punya rumus kimia. Lampu, kipas angin, laptob/komputer, ponsel, air, nasi, cemilan, kosmetik, atau pun hanya selembar kertas yang tersusun dari beberapa senyawa kimia. Dunia kimia juga berhubungan erat dengan kedokteran, teknologi, pertanian, dan ilmu pengetahuan lainnya.
***

Tapi, ada satu lagi yang sangat kubutuhkan. Setelah menyelesaikan satu semester, terasa banget bosannya. Cuma kuliah dan siapin tugas. Ada yang kosong di setiap hari-harinya. Dan seiring berjalan waktu, aku kembali nimbrung di organisasi eksternal dan internal. Tentu saja, organisasi nomor dua setelah kuliah. Penguyupan, dunia kepenulisan (FLP), dan himpunan kimia. Dunia kuliahku jadi lebih hidup dan penuh sensasi. Tak ada yang perlu ditakutkan, meskipun kuliah itu sulit, organisasi yang akan memudahkannya. Asalkan jangan salah pilih. Karna Allah selalu bersama orang-orang yang berada di jalan-Nya.



Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar