Kebanjiran Ala Anak Kos

Tentunya mengasyikkan bisa bermain dengan air. sebut saja aku, kalo bukan mikirin efek sampingnya, mungkin tiap hujan turun aku akan jadi orang pertama yang bermain dengannya. Manusia tidak bisa hidup tanpa air, bisa dikatakan air adalah sumber kehidupan. Sebagian orang memilih menahan lapar dari ada haus.
Beberapa minggu yang lalu, aku melihat siaran televisi “Jakarta kembali dilanda banjir” asyik bukan bisa bermain di kolam renang gratis. Pikir ku sebelum merasakan seperti yang mereka rasakan. Terkadang manusia perlu diuji untuk merasakan apa yang orang lain alami. Saya hanya bisa mengambil hikmah dibalik kejadian yang melanda kos-kosan kami.
Kamis malam, kosan kami yang terletak di Tanjung Selamat di landa banjir kecil-kecilan. Menurut kami itu hanya banjir kecil. Jika dibandingkan dengan Jakarta dan daerah lain seperti Italia. Kejadian ini hanyalah ujung dari air yang mengalir. Sekitar jam 00.00 air hanya merendam teras depan setinggi mata kaki. 

  
Ruang tengah, air setinggi 10cm

Subuh, air mulai masuk ke dalam. Selesai shalat subuh, kami langsung berkemas membereskan barang-barang yang rentan terkena banjir. Air mulai mengenang di ruang nonton. 3 cm lagi mungkin langsung merambat ke kamar.
Pengalaman pertama semenjak jadi anak kosan diremdam banjir. Wah…repot abis, besok paginya aku mitem praktikum. Belum belajar, laporan belum siap. Terkadang  SKS (sistem kebut semalam) tidak bisa diterapkan selamanya. Rempong banget.
  Wuiiissss….kasian. kebun kami juga ikut terendam banjir. Padahal lagi musim panen. Timun, ubi, kacang panjang, kangkung, cabe, sawi, semuanya ikut menikmati banjir. Wajah lesu, susah payah kami menanamnya. Terlihat susah karna sebelumnya kami bukan petani atau mahasiswa pertanian, melainkan mahasiswa FKH, Teknik Arsitek, dan kami bertiga mahasiswa FKIP Kimia. Bisa tumbuh saja, sudah bersyukur. Sekarang malah terendam banjir.

Woowww…. Efeknya tuh gak enak buanget. Selama tiga hari kami merantau ke rumah tetangga, teman hanya untuk “Numpang mandi ya…”
Sumur bagaikan kopi ditambah susu plus garam. Bagaimana bisa? Entahlah. Minggu, keputusan sudah bulat, semuanya membatalkan agenda demi si sumur. Jam 7 pagi kami sudah mulai bekerja, pinjam tangga, nyari pasir, beli semen. Mau diapakan itu semua? 
Air sumur mulai kosong. Satu orang aduk semen, dua orang turun ke sumur, nah aku dan temanku yang satu lagi naik ke atap. Repot banget masukin tangga, solusi akhirnya cuma bisa membuka seng atap kamar mandi. Nah, yang ini nggak boleh lupa, berpose dulu di atas atap sebelum turun. Hahaha
Alhamdulillah, siang semuanya beres. Air sumur kembali putih meskipun sedikit keruh. Malamnya tidur nyenyak. Pengalaman ini mungkin tidak pernah terulang lagi bersama mereka, kelima wanita yang menjelma sebagai pengaduk semen, pembuka seng, dan pembersih sumur.
 
Ruang depan
 
Pandangan Halaman depan rumah
   
                            
Kebun sayuran terendam banjir, air semakin tinggi 














astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar