Beneran Cekgu atau Cekgu


Berawal dari ketidaksukaan menjalani profesi yang berjasa tanpa pamrih, kini aku malah terjerumus ke dalamnya. Liang masa depan yang sulit tertebak. Pengusaha...!! sukses, kaya, eksis dimana-mana, dan juga duduk santai uang leup masuk kantong. Itulah satu diantara seratus impian lainnya. Tapi...
“Sudahlah, jadi guru itu juga bisa eksis, banyak uangnya juga, bisa ambil kredit, dan bla-bla,” rayuan Ibuku.
“Kredit? Akhir bulan korek tanah, Ibu...”
Dan banyak lainnya, hingga aku pun luluh berkeping-keping berkesimbangan darah mengalir tak berarah. Ku iyakan saja maksud hatinya. Dari pada dan dari pada lainnya. Beliau bilang, enaknya jadi guru belum terasa di bangku kuliahan. Tapi, saat status berubah menjadi mahasiswa akhir. PPL. Yah... itu emang benar. Dan sekarang baru teriyakan.
***

Beranjak di usia yang masih belia, aku mulai menikmati menjalani profesi ini. Bukan karna uang, atau embel-embel lainnya. Tapi, karna niat yang beralaskan keikhalasan serta ketulusan.
SMAN. 1 Unggul Baitussalam, itu tujuan pertama dan terakhir yang telah kurencanakan sejak semester 6 lalu. Dan, alhamdulillah rencana berjalan atas izin-Nya. Kenapa harus Aceh Besar? Disini juga masih banyak. Jawaban itu hanya aku dan Tuhan ku yang tau. Lewat tahajjud dan doa aku telah berdiskusi dengan-Nya.
Tiga minggu yang lalu, aku dan ke tujuh belas mahasiswa FKIP Unsyiah dilepaskan oleh dosen koordinator dan ditangkap kembali sekitar tiga bulan kedepan. Waktu yang singkat. Tapi cukup untuk menikmati profesi tanpa impian ini.
Setiap pagi, aku selalu punya cerita lucu dan menarik bersama Lia.

Melewati gunung, hutan, sawah, dan perkampungan.
Menikmati udara pagi...
Bertemu dan bersapa...
Setiap hari kami bahagia...

Itulah, nyanyian pagi kami bersama. Pukul tujuh lewat, udara senyap-sunyi, meredup-redup pori-pori kulit, dan menloncatkan bulu-bulu tangan. Aku dan Lia selalu memilih jalan perkampungan untuk menuju ke sekolah tujuan. Darussalam ke Baitussalam. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit, atau bahkan kurang. Waktu yang cepat meskipun perjalanan sedikit jauh.

Memperingati Maulid Nabi di SMAN 1 Unggul Bitussalam
Disana, aku bertemu dengan orang-orang dari seluruh penjuru FKIP. Unsyiah duo Serambi. pak Hasan (ketua), bu Rahmi (Bendahara), bu Lia, bu Ina dan bu Ani, bu Dewi, bu Ema, bu Mufli, bu Hikmah, bu Erna, bu Miza, bu Sri, dan keempat Bapak lainnya.
Hari beranjak hari, aku mulai terbiasa dengan rutinitas ini. Disiplin dan bangun pagi lebih awal dari biasanya. Menikmati air bak yang dingin. Mungkin, ini tidak akan terulang lagi. Tapi, akan terulang di waktu yang berbeda dengan status yang beda pula. Bukan lagi mahasiswa PPL tapi guru yang berjabatan dan bermartabat.

Seru-seruan makan nasi maulid
Setiap hari mulai ku ukir goresan demi goresan. Membangun suatu mahkota yang belum tertancap tiang. Dan mendalami dan belum tertanam. Kedekatanku kian hari semakin dekat dengan siswa-siswa di sekolah. Aku begitu menikmati. Dan takut jika perjalanan ini akan terhenti di tengah jalan. Jangan dan jangan pernah terjadi. Tidak akan lengkap diary ku tanpa Happy Ending. Bersama Lia, aku dan mereka. Karna cinta Allah selalu bersama kami. Lewati pahit dan manis bersama.

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar