Bayang-bayang Bidadariku



Pagi itu aku dibangunkan oleh Rara. Ia adikku siswa kelas 4 SD. Sejak kecil kami terbiasa hidup bareng. Jangan tanya siapa orang tua kami. Aku saja susah mengingat wajah mereka. Jika orang-orang bertanya siapa Ibu kalian, aku jawabsaja bik Inah. Aku cuma numpang lahir diperut Mama.

Bik Inah cuma bisa diam melihatku masih tidur. Senin sampai Jumat aku ke sekolah, dan Sabtu jadwalnya untuk libur. Bukan tanggal merah, bukan pula sakit. Tapi aku meliburkan diri, alasannya karna jaga Rara. Padahal Rara  uda gede, tiga tahun beda usiaku dengan Rara. Sedih  liat nasib Rara. Dia pinter tapi kondisinya tidak mendukung. Seandainya saja, kepintaran Rara pindah padaku. Biar tiap ujian matematik aku bisa dapat nilai 80. Selama di sekolah, nilai paling tinggi yang pernah ku raih cuma 60, itupun sekali karna aku dapat nilai plus sebagai pengumpul pertama.

“Ra, jalan yok?”
“Rara ada sekolah kk.”
“Bukannya tiap hari Sabtu Rara libur, udah libur aja?”
“Kak, jangan menebar virus males ke tubuh Rara ya Kak, hari ini Rara ngak perlu ke Rumah Sakit,” kenangan itu.

Ah…Rara emang hebat, penyakit Leukemia yang dideritanya dari kecil tidak membuat ia putus asa. Sama seperti aku, dapat nilai ujian matematik 55 juga nggak putus asa.Wuuisshhh…meskipun aku tidak pinter, tapi aku cukup cerdar lho, apalagi kalo disuruh ngerjain atau ngejail teman-teman. Buk Ratna sampai mencret gara-gara kuhadiahkan jus mangga dengan perasa obat bikin BAB lancar.

Sejak kecil, Rara terbiasa hidup bagaikan vampir yang selalu mengisap darah. Hingga kulitnya kering, ia masih saja suka merasakan darah orang lain. Seminggu sekali Rara harus transfusi darah. Nah, itu kebiasaanku untuk bolos sekolah lagi, gak perlu bertatap muka dengan buk Ratna. Gimana mau pinter matematik, toh tiap hari Sabtu jadwalnya pelajaran matematik.

Penyakit Rara tergolong parah untuk anak kecil seusianya yang harus bolak-balik berkunjung bahkan numpang tidur di Rumah Sakit. Selama bermain dengan Leukemia, Rara tidak pernah mengeluh atau ngucapin kata-kata yang buat aku meneteskan air mata. Nah, pas  Rara tanya Mama dan Papa, aku bukan nangis, malah ekspresi marah yang ku pendam.

Tapi, itu kenangan yang tak pernah bisa kukubur dalam-dalam. Sejak kepergian Rara, aku telah kehilangan satu akar pohon yang selama ini memberi kekuataan tanpa terlihat. Karna kehilangan akarnya, pohon itu hampir layu dan segera tumbang ketika angin menerjang.


Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar