Ada Yang Rindu Padaku



Pernahkah kamu merasa sedih? Gundah? Gelisah? Atau pun mudah tersinggung dan suka nyalahin diri sendiri?
Itulah yang aku alami saat itu. Susah tidur, selalu gelisah. aku bingung, ntah apa yang membuat hidupku tidak nyaman. Aku tidak backstreet dengan orang tua, apalagi teman. Trus kenapa bisa gundah? teman-teman juga sehat, mereka baik-baik saja.
Aku terbiasa tidur larut malam. kesibukan dan kewajiban membuat aku terus mengejar deadline. Jika tidak? Kandas.
Yah...target tercapai dengan maksimal. Namun, apalagi yang kurisaukan? Besok terakhir final di kampus, selepasnya urusan beres. Aku Cuma perlu mengulang beberapa point penting saja di catatan.
Terus mondar-mandir. Kamar, teras depan, dapur, atau nonton. Gak juga. Masuk kamar, tidur. Tapi gak mampan juga. Kawan se-kosan tanya. “Kenapa Kak? Mondar- mandir terus?”
“Entahlah, gak enak perasaan.”
“Coba telepon Mama, Kak?”
“Udah, semua baik-baik saja.”
“Kangen sama seseorang kali.”
“Mungkin, tapi siapa ya?”

Begitulah jika ada sesuatu yang terlupakan. Setelah membongkar beberapa buku, akhirnya kutemukan buku pemikat. Judulnya saja sangat menyentuh relung hati. Ku buka pelan-pelan. Mataku terus mengamati setiap kata-kata di dalamnya. Menarik dan menghanyutkan.

“ Pernahkan kamu merasa gundah dan gelisah berlebihan? Taukah kamu apa yang terjadi? Yah...Ada yang rindu padamu. Rindu pada kasih sayangmu. Rindu pada permintaanmu. Rindu pada suara lantunan ayat-ayat cinta darimu. Dan rindu pada setiap untaian doa darimu. Siapa dia? Allah. Allah rindu padamu. “


Kembali kurenungkan setiap kata-kata itu. Benarkah Allah rindu padaku? Siapa aku, aku hanya secuil makhluk ciptaan-Nya yang penuh dosa. Bagaimana bisa Allah rindu padaku?
Al-qur’an dengan sampul biru itu, aku hanya menyentuhnya beberapa menit setelah shalat Magrib. Shalawat jarang terucap. Tahajjud dan Dhuha tinggal. Apalagi shalat sunnah lainnya. Aku terlalu sibuk dengan urusan dunia. Menggantungkan hidup selalu pada dunia. Akhirat mana?

Lampu luar sudah mati. Kini tinggal aku sendiri di kamar yang sedang berusaha mengembalikan jati diri. Suasana lenyap dalam kesunyian. Hanya suara cicak yang terdengar. “Kenapa masih duduk?” seperti ada seseorang yang membisikan pertanyaan itu.

Aku bangkit. Air yang dingin. Aku benar-benar rindu pada sentuhan air di tengah malam. Wudhu dan shalat. Sudah berapa lama aku tidak melakukannya. Hatiku mulai tenang. Setelahnya, ku ambil kitab Allah, sedikit demi sedikit lantunan ayat suci itu terucap. Tanpa sadar, aku menangis ya Allah. Aku telah kembali pada-Mu. Terima Kasih karna Engkau merindukan manusia yang belum berguna ini.

Dan esoknya. Pikiran seperti terhipnotis. Segar banget. Adem dan tenang. Menjalani hari-hari penuh berkah. Setiap langkah penuh Ridha dari Allah. Hidup jadi lebih berarti. Rezeki terus mengalir, jika bukan lewat aku, orang tua.

Sahabat, itulah pelajaran yang kupetik dari ketidaksetiaanku. Meskipun kita sering melupakan-Nya. Tapi, Allah tetap sayang pada kita. Tetap melindungi kita dimana pun berada. Ingatlah, dimanapun dan apapun yang kita kerjakan, Allah selalu mengawasi setiap gerak-gerik langkah umatnya. Jangan pernah lupakan-Nya, karna Ia tidak pernah melupakan kita. Allah sangat senang bila ada hambanya selalu meminta pertolongan pada-Nya. Rasulullah, rindukah kamu padanya? Yah, aku cukup rindu. Aku rindu bertemu dengan Rasul. Berkumpul dengan sahabat-sahabat Rasul dan orang-orang shaleh. Karna Rasul selalu setia pada Allah.

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda

Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran

Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya

Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman

(Maidany_Kaca yang berdebu)






Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

3 komentar:

  1. Terharuuu bacanyaa, Tyna. Kk jg prnah mrsakam gelisah, tp ga terpikir ke situ. Huhuhu..
    Mksih Tyna dah menuliskannya. :)

    BalasHapus
  2. Menyentuh. Tulisan Tyna mengingatkan saya, kadang-kadang saya gelisah begitu. :)

    BalasHapus
  3. heheh... iya kak isni.. sama2 :) senang jg tina bisa bg2 ilmu

    iya Sahara, makasi uda berkunjung ke blog tina...hhehe :)

    BalasHapus