26 Desember 2004


Kak, goyang..! adik bungsu menangis. Saat itu ia masih duduk di kelas dua SD. Dua hari sebelum kejadian, rumahku ramai dipenuhi keluarga dan saudara dari kampung. Dan di hari minggu tepat kejadian itu, rumah pun masih ramai, semua keluarga berkumpul kecuali kakak perempuan pertama yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Masih teringat jelas bagaimana kondisi saat itu, kami terduduk di halaman rumah dengan pegangan erat ke pagar. Kakak dan abang mulai sibuk. Akhirnya abang untuk lari ke dalam rumah dan mengambil ponsel. Mereka terus mencoba menghubungi kakak pertama. Tidak ada jawaban. Saat itu, rumahku masih dalam kondisi pembangunan. Banyak kayu-kayu yang masih berjejeran di lantai 2. Sesekali aku menatap rumah, akankah rumah ini ambruk?

Tangisan si bungsu semakin kencang dalam pelukan emak. Terlihat wajah Bapak yang mulai gelisah. Meskipun getaran gempa belum sepenuhnya berhenti, tetapi Bapak nekat masuk ke dalam dan menyalakan TV. Tersentak ia kaget, katanya selawah terbelah. Aku tau, sebenarnya Bapak menangis dalam diam. Dan Ibu juga.

“Bagaimana? Bapak pergi saja ya.”
Ibu hanya mengangguk, kami juga begitu. Tanpa bekal, hanya baju dan sebotol air minum mineral yang dibawanya. Abang mengantar Bapak ke terminal, tidak ada angkutan umum yang berangkat. Yah, hampir putus asa, dan beliau berhasil menstop kendaraan pribadi yang lewat di jalan.

Suasana rumah hening. Mereka hanya bisa mengotak-atik remot TV. Emak di dapur, entah apa yang beliau kerjakan. Saudara-saudara sudah pamit pulang. Tinggal kami yang duduk melamun di kursi teras depan. Sedikit pun makanan tidak tersentuh lagi, yang terpikir, di mana kakak?

Malam tiba, belum juga ada kabar. Siaran TV begitu menghebohkan, belum lagi tetangga yang bolak-balik ke rumah mengabarkan situasi di kota Banda Aceh, Sabang, dan sekitarnya.
“Wawak, gimana, ya, kabarnya di Sabang?” tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Emak.
“Mak, Bapak dimana? Kok belum pulang,” si bungsu mulai menangis lagi.
Senin pagi, Bapak tiba. Tapi, beliau sendiri. Raut wajah dan tatapannya kosong. Kami menghampiri beliau, dan tidak ada jawaban yang pasti. Emak segera menghidangkan makanan, karna sejak keberangkatannya kemarin, Bapak belum makan sedikit pun. Kami duduk mengelilingi Bapak sambil menunggunya selesai makan hingga dimulainya pembicaraan.

“Tidak ketemu sama kakak, Bapak udah keliling dan mencari disemua tenda-tenda pengungsi, dan manyat-manyat hasil evakuasi yang tertutup wajahnya juga sudah Bapak buka, tapi tidak ada.”

Kita tunggu saja, itulah jawaban Emak. Ibu sangat kecewa pada dirinya, satu minggu sebelum kejadian Gempa dan Tsunami, kakak meminta kepada Emak untuk dibuatkan kue sumpit. alat sumpit itu Ibu dan kakak yang membelinya ketika ke Pasar Aceh beberapa bulan lalu. Tetapi, karna tidak ada kesempatan, baru hari minggu tepat setengah jam sebelum gempa paket terkirim lewat L300.

###

Pukul 20.00 malam, sms masuk. Dari kakak.
Alhamdulillah Nini baik-baik saja, sekarang lagi di rumah teman, Nini lagi tunggu mobil teman yang pulang ke arah timur.

Setelah mendengar kabar dari kakak. Semua memburu makanan, capcus makanan yang terhidang di meja makan habis seketika. Porsi abangku paling banyak, aku juga tidak mau kalah darinya. Emak dan Bapak sudah mulai tenang.

Kakak belum tiba juga, sudah jam 00.00 malam. Kami tertidur, sedangkan Emak dan Bapak masih terjaga menunggu kakak pulang di teras depan. Pukul 03.00 malam, terlihat seorang wanita berjalan, Emak dan Bapak segera lari dan memanggil kami. Pelukan Emak dan air mata yang keluar, kakak juga menangis kencang. Moment itu terjadi di depan rumah tetangga, belum memasuki perkarangan rumah kami.

Tiba di rumah, kakak dilontarkan berbagai pertanyaan dari kami, dan ia pun mulai kelelahan menjawabnya.
“waktu gempa itu, Nini lagi di rumah baru siap masak, rencananya mau ke pantai Ulee Lhee untuk liburan, tiba-tiba gempa. Terus terdegar suara orang menjerit dan suara gemuruh. Ibu kos menyuruh Nini dan kawan lain untuk lari duluan, Nini salah pilih jalan, dan akhirnya terhanyut dalam air. Alhamdulillah, waktu kecil Nini pernah belajar berenang di tambak. Dan ketemu tetangga di kampung, dia bantu Nini naik ke atap rumah. Mak, Nini lumanyan banyak lho minum air tsunami..!”






astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar