Allah Memanggilku



Ambulan tiba, pukul 03.00 subuh tepat 7 hari sebelumnya aku dibangunkan dengan bunyi ketukan jendela. “Buka pintu na..!”
Berjalan setengah sadar, aku membuka pintu depan.
“Wawak uda di rumah sakit, biar nenek tidur disini aja malam ini ya, wawak masih di ICU.”
Wawak sebutan untuk suami dari adik mamaku. Beberapa hari sebelum di larikan ke RSUZA, beliau sempat di rawat di Rumah Sakit Umum Idi, Aceh Timur. Kondisinya semakin parah. Kejang. Tidak sadar diri.

Pukul 22.00 beliau masuk RSUZA di IGD. Dua hari satu malam, Alhamdulillah ada kamar kosong untuk segera ditempati. Ruang Mamplam 1 kamar 4. Sedikit ribet, karna hanya ada aku yang mengerti cara mengurus administrasi rumah sakit, Nenek tidak mungkin, ia sudah tua. Istri Wawak juga tidak mungkin, beliau harus menjaga suaminya.

Aku pamit pulang. Sedikit khawatir karna bola lampu kereta sudah kandas. Solusinya hanya bisa menghidupkan lampu samping sepanjang perjalanan menuju Darussalam, dan jalan terlihat semakin sepi. Esok malamnya, aku kembali ke rumah sakit untuk mengantar segala keperluan makan. Kaget. Wawak dimana? Jantungku berdebar. Ku buka ponsel, ada sms masuk, “ Kak, Bapak uda pindah ke kamar 7.”
Wajahnya penuh rahasia terbujur kaku. wajah tampan telah tertutup dengan kesedihan. Ingin mengeluh karna kesakitan. Pasrah. Ini bukan pertama kalinya ia harus bermain dengan darah. Tatapannya penuh isyarat, aku sendiri bingung mengartikan maksud lelaki muda itu. Usianya sekitar 20 tahun, tubuh kurus, terbaring lemah di atas tempat tidur. Saat masuk bukan Wawak yang kulihat, melainkan ia. Aku penasaran, seberapa parah sakitnya?
Pagi berikutnya, aku melihat ia di dorong oleh 3 perawat. Aku duduk di ruang tunggu, karna pada saat itu, semua anggota keluarga disuruh keluar, ada pembersihan. Lelaki muda itu kembali menatapku. Sepertinya Ia ingin minta tolong, memberinya semangat untuk terus bertahan. Selama aku menjaga Wawak, ia terus memandangku.
satu malam yang lalu, Wawak pulang. Aku terkejut ketika mendengar kabar duka dari mereka. Lelaki muda itu telah pergi dan tak pernah kembali. “Meninggal?”
lelaki itu menderita gagal ginjal, ini yang kesekian kalinya ia harus cuci darah. Mungkin saja ia mulai bosan, hidup seperti vampir yang terus mengisap darah orang. Ia memutuskan untuk berhenti sampai malam itu. Aku tidak melihatnya lagi.


astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar