Masa sih ada Mimi?




“Gedebum..!!”
 “Suara apa itu?” Sarah histeris.
“Ngaco ah, aku gak denger apa-apa lho..,” Tina menyela

Kabarnya, rumah tua ini sudah hampir satu tahun tidak ditempati manusia. Hanya sepasang atau berpasang-pasang jin yang menempati gubuk yang mulai runtuh digoyang tiupan hujan dan kemilau sinar matahari. Siapa yang bisa menyela, rumah tua nan zaman yang ditinggal penghuni pasti ada yang menempati, “Itu menurut aku, berdasarkan film yang aku tonton, katanya sih gitu.”

Rumah baca dan hasilkan karya atau nama gokilnya rumcay harus menerima nasib yang menyenangkan. Pertengahan tahun si rumcay harus pindah mencari kontrakan baru yang bisa menampung segala isi dan pengikutnya. Waahh…berkat seorang wanita, nasib rumcay terselamatnya. Kami akan menempati kontrakan baru yang terletak di kampung Pineng. Kontrakan baru ini mengingatkan aku akan rumah nenek yang belum pernah kulihat langsung, hanya melalui selembar foto yang kian kusam.

Butuh waktu berminggu-minggu untuk membedah rumcay baru. Seluruh awak rumcay dikerahkan ke lapangan. Mendadak seorang penulis berubah profesi menjadi kuli bangunan. Disela-sela kesibukan dalam menjalani profesi baru, aku dan beberapa teman lainnya mulai dihiburkan dengan sosok kenalan baru. Sosok misterius yang belum terlihat bentuk, rupa, bau, dan warnanya. 

“Tenang aja bro, kenalan aja dulu, hmm…mana tau dia bisa bantu kita,” menyembunyikan ekspresi ketakutan.
“Gila bana, setan ko diajak kenalan.”
“Setan?...sok tau sih lo, dia bukan setan, tapi penghuni rumcay baru yang tinggal disini selama kontrakan kosong, seharusnya kita berterima kasih sama dia uda mau jaga ni kontrakan.”
“Woi…ribut kali kalian di belakang, nikmati aja profesi baru,bikin konsentrasi meluber aja,” lelaki itu terlihat kesal.

Diam ditelan ombak. Tiba-tiba. Mataku mulai bergerak kencang ke kanan dan kiri. Sarah dimana? Serem membuat bulu alisku bangun.

“Bruk… ouww.. sakit..” teriakku histeris
“Tina… kenapa? Astagfirullah, masih hidup?” tersentak Sarah berlari menuju kamar tengah.

Sarah tertawa hingga titik penghabisan suraanya. Ia berhenti setelah merasa nyeri dibagian perut. Aku masih mengeluh kesakitan akibat terjatuh dari tangga, cet yang ditanganku tumpah dan mewarnai sebagian baju. Aku terhanyut situasi, padahal hanya bunyi nada dering sms masuk.

Sosok misterius  muncul dari  belakang. Berambut panjang dan berjenggot hitam, baju berwarna hitam. Aku mulai melirik pelan-pelan. Siapakah dia?

“Mimi datang….”
Aku kembali ditakuti dengan panggilan halus itu. Ah, aku gak boleh kelihatan penakut, siang tak berbolong mana mungkin ada makhluk yang dihalusi.  “Gak ada Mimi disini, hanya aku sarah dan dia.”

“Haha…Tin disamping ada Mimi tu?”
“Sotoy kali ah bang, siapa tu Mimi?” Huff..ternyata bukan.

Mimi, penghuni rumah tua. Dia bunuh diri dikamar ini. Alasannya karena ditinggal pergi my honey. Mimi tersiksa bantin dan jatuh kedalam lamunan yang telah menghantarkan ia ke neraka.

“Neraka?”
“Yoilah, orang yang bunuh  langsung masuk neraka, tanpa dispensasi.”
“Widih, serem. Kalo semut yang bunuh diri gimana tu bang?”

Aku kembali melanjutkan pekerjaan sebagai karyawan nirlaba. baru setengah dinding yang sudah berwarna putih. sebentar lagi waktunya zhuhur tiba. Istirahat sebentar dan membersihkan diri dari warna-warna yang ada di baju.

“Tin, jangan lama-lama di kamar mandi, ntar Mimi keluar, liat aja tu sarang laba-laba yang di dalam sumur, gak hilang-hilang walaupun udah dibersihin, kalo gak percaya liat aja tu di sumur samping ada darahnya Mimi.” Kembali ia menakutiku.
“Sarah, temanin.!!”

Bruk… Meong…meong…meong.
Kujatuhkan timba yang berisi air. aku berlari kea rah depan tempat Sarah dan teman lainnya sedang istirahat.
“Kenapa tin?” tanya Sarah.
“Hah, oh gak, gak ada apa-apa.”

Cukup hari ini pengalaman yang sangat berwarna. Hari ini pertama aku menjelajahi rumcay baru. Sudah berlangsung satu minggu proses kerja rodi tanpa paksaan ini berlangsung. Apa yang nak dikata, aku baru tiba dari kampung sekitar pukul 08.00 wib.

Setelah beberapa hari menjalani hidup di rumcay baru, aku mulai terbiasa dengan segala bunyi-bunyi yang menganehkan. Untuk menghilangkan ketakutan itu, aku beranggapan bahwa yang bunyi itu hanyalah suara seng atap rumah yang mengalami pemuaian akibat pancaran sinar matahari. Dengan begitu, rasa takut jadi hilang, meskipun sekali-kali bukan suara seng.



Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar