Aku, siapa?


         Kebencianku terhadap profesi ini malah menjerumus aku kelimbahnya. Dari kecil aku selalu bercita-cita untuk bekerja di sebuah  perkantoran,dengan gedung yang menancapkan langit, atau bekerja di belakang layar. Itu yang selalu kuimpikan. Bahkan jika yang kedua itu tidak terwujud, aku ingin menjadi pengusaha.
             Profesi yang dulu kutakuti kini telah menghantui disetiap detik hidup ini. Arus teka-teki hidup yang tidak kupahami. Itulah yang dinamakan takdir. Sesuatu yang kubenci kini mendekat.
            “Bu guru, yang ini apa namanya?”
            “Bu guru, ajarin aku cara nyelesain soal ini ya?”
            “Bu guru, aku mau pipis.”
        Waduuh…aku selalu mengindar dari panggilan itu. Hingga suatu waktu, aku tidak bisa mengelakkannya lagi. Aku terjebak di dalam selimut benci.
      Tahun dua nol satu nol. Aku lulus di sebuah jurusan. Setidaknya tamat dari jurusan itu aku bisa mewujudkan cita-cita ketiga, pengusaha. Yah…jurusan Teknologi Hasil Pertanian, semester pertama saja aku dan Dyah telah mencoba untuk memasarkan beberapa produk buatan kami ke kios seputaran kampus. Misalnya kue, konter keliling, bahan olahan dari flannel seperti bros, tutup polpen, sampul buku, dan asesoris lainnya.
            Semangat kami begitu membara. Setiap malam aku dan Dyah mulai terbiasa menghitung uang hasil tetesan keringat. Dan besoknya kami mulai menjajakan produk-produk itu dibeberapa tempat. Kios depan RKU 2, itu tempat kami menjual kue.
            Mahasiswa juga bisa berwirausaha. Selama 24 jam jadwal agenda kami penuh. Pagi sebelum masuk kuliah, kami mengantar kue. Keluar kuliah kami habiskan waktu dengan kesibukan di organisasi. Dan sorenya pergi belanja, kemudian mengambil uang hasil penjualan. Begitu menyenangkan, sampai-sampai tidak ada waktu untukku menggalau ria.
            Kami mencari uang bukan karna tidak ada uang. Orang tua setiap bulan mengirim jatah hidup. Tetapi kami mencari uang karna hobby. Aku banyak belajar dari Dyah. Dyah asal Medan yang tumbuh dewasa di kota Kutaraja. Terkadang aku berfikir, untuk apa kami mencari uang, toh tiap bulan kebutuhan kami tercukupi. Apalagi Dyah, anak seorang jutawan. Itulah sekali lagi kutegaskan, karna itu hobby dan aku ingin hidup mandiri. Merasakan susahnya mengumpul koin. Merasakan asinnya keringat yang keluar.
                                                                       ***
               Dua semester aku habiskan dengan dengan mereka Sang Penyemangat. Mendadak kebahagian itu dihujani kesedihan. Ketika harus ku tinggalkan mereka, hobby, dan jurusan favorit itu. Maaf, aku menutupinya dari kamu Dyah dan Jia. Tak pernah terbayangkan jika segitiga itu kehilangan satu sudutnya. Bajaj itu kehilangan satu bannya. Maaf kawan. Aku tak kuasa harus memberitahu kalian.
               Demi Mama. Demi impian dan keinginan beliau. Kurelakan nasi goreng mendadak menjadi bubur ayam. Pisang berubah menjadi terong belanda.  2011 aku resmi pindah ke Fakultas keguruan. Begitulah perjalanan itu berubah menjadi bakso goreng yang paling kubenci. Apa nak dikata jika Ia sudah berkehendak. Aku hanya berharap hikmah dibalik teka-teki ini.
                 Aku tercatat sebagai mahasiswa pindahan di Pendidikan Kimia. Kenapa aku memilih kimia? Itu rahasia hati. Karna ia aku mengenal keindahan kimia. Seseorang yang aku kenal di bimbingan belajar dulu. Gila bana. Menggila kehidupan itu ketika NIM aku masih berstatus letting 2010 sedangkan pendidikan yang kutempuh di tahun 2011. Tua sekali rasanya.
              Hari pertama. Aku memilih diam di kelas. Hanya berbicara dengan komting saja. Mereka mengenalku sebagai wanita sombong. Itulah sikap yang berubah setelah aku tidak bisa duduk disamping mereka dan belajar bersama, Dyah dan Jia. Cuek dan tidak peduli apapun. Memilih diam dan mencoret-coret kertas di saat jam pelajaran. Pura-pura mendengar penjelasan dosen, eh ternyata aku malah mikiran mereka.
                   Beberapa bulan terlewati, aku mengenal seseorang yang sangat baik. Wajahnya yang imut, mata cipit, pipi tembem, dan senyumnya yang menggoda. Itulah Yulia Sevira mahasiswa asal Pidie. Ia sangat baik, selalu membantuku saat belajar. Berbulan-bulan dan beberapa semester terlewati karna bantuannya. Sejenak aku melupakan kesesalan.
              Panggilannya Lia. Hmmn…Lia begitu banyak mengajariku tentang kimia. Ia membuat kebencianku terhadap profesi guru berubah menjadi sebuah cinta dan harapan. Semakin lama aku kian betah. Kecerian ini kembali. Kebencian memudar. Meskipun sesekali aku merindukan mereka. Huuff..terkadang aku menghabiskan malam bersama Dyah untuk melampiaskan kerinduan ini dan mengeluh kisah baru di fakultas baru.
               Kulihat raut wajah Lia juga terlihat berbunga. Tak pernah terbayang kalau ia juga merindukan seorang teman yang bisa di ajak bicara. Karna kelas itu selalu memandang tahta. Si pandai tidak ingin berteman dengan si bodoh. Si kaya tidak ingin mengenal si miskin. Dan si cantik meninggalkan si jelek.
Lia, gadis manis. Bagiku ia teristimewa. Ia teman yang mengerti aku. Terima kasih, kawan. Karnamu roh dan jiwaku kembali. Karnamu kebencian itu memudar. Karnamu aku mengenal sebuah kerinduan. Jelas aku rindu padamu kawan. Dan aku mengenal arti sebuah pertemanan. Sesungguhnya ikatan pertemanan dan persahabatn itu tidak membutuhkan uang, harta, kecantikan, kejelekan, kepintaran, kebodohon, dan pintar bicara.
                Kuharap pertemanan ini terus terikat seperti si NaCl. Meskipun terkadang waktu dan ruang menghambat perjumpaan kita. jarak dan singkatnya perjumpaan. Terima kasih untuk semuanya, karna kamu cinta itu dapat menyelimuti benci.

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar