Tradisi Tahunan (Empat Belas)



Stress lagi. Setiap tahun aku harus memperingati tradisi yang tercetus sejak tahun 2010 lalu. Bahkan setiap tahunnya tradisi ini sudah menjadi kewajiban bagiku yang harus dilaksanakan. Di antara empat belas sekawan, aku paling berbeda. Yah, yang membedakan aku dengan mereka salah satunya ini. Tradisi tahunan. Tahun ini, aku ingin sekali terlepas  dari perayakan itu, tetapi inilah takdir yang tak bisa terelakkan lagi.

Ketika Allah sudah berkehendak, manusia hanya bisa melaksanakannya. Kerap kali aku menjadi bahan perbincangan dan tertawaan teman-teman. Mereka tau kebiasaan aku setiap tahun. Tiga belas musafir itu hanya bisa membantu dan berdoa. Kesabaran, ketabahan, dan kekuatan itu yang paling dominan.

Sebelum peringatan tradisi itu datang, satu bulan sebelumnya aku sudah mempersiapkan segala bentuk keperluan. Rohani dan jasmani harus dalam keadaan sehat. Iya, uang yang nomor satu. Karna uang menentukan kesuksesan dibalik tradisi ini. 

Pikiran, tenaga, uang, semuanya tercurah dan bersatu menjadi sebuah kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Orang tua, aku telah menyita pikiran dan uang mereka. sudah kewajiban mereka untuk menafkahkan anaknya, bukankah begitu?  Acap kali aku berfikir, setiap tahun uang jutaan rupiah itu melayang ke tanganku dan selanjutnya melaju ke tangan orang lain. Ingin membantu, tapi apa daya. Mereka tidak pernah mengharapkan uang itu kembali, yang terpenting perayaan tradisi berjalan sukses.

Tahun 2010 aku menginjak kaki di kota Kutaraja. Tahun itu pula kehidupan aku berubah drastis. Kebiasaan, sikap, pergaulan, cara berfikir, semuanya berubah 90 derajat. Yang paling menonjol dari aku adalah cara berfikir. Dulu, diri sendiri paling penting, sekarang tidak. 

Universitas Syiah Kuala, Alhamdulillah aku berhasil lolos. Kecintaanku terhadap jurusan itu telah membuat aku menyingkirkan kampus lain. Meninggalkan kampus keduaku tidak berat, karna pada dasarnya aku tidak cocok berada di dalam. Dilihat dari background nya saja sudah tidak mendukung. Alasannya banyak, contohnya saja karna aku bukan lulusan dari pesantren atau sekolah agama. 

Banyak sekali kejadian yang telah terlewati begitu saja, tradisi tahunan misalnya. Karna tradisi ini telah memberiku pengalaman dan kemandirian diri. Aku belajar mencari jati diri, berdiri tanpa perlu tompangan dari siapapun. Bagaimana bisa? Entahlah aku juga binggung ketika memutar pikiranku saat-saat masih sekolah. Pergi dan pulang sekolah saja aku harus dijemput, alasannya biar gak di culik sama sopir labi-labi.
Tradisi tahunan yang kucetuskan ini berawal di sebuah daerah di belakang kampus Fakultas Pertanian. Aku sama sekali belum mengerti bagaimana cara hidup jauh dari keluarga. Karna takut, akhirnya aku memilih untuk tinggal bersama 21 orang dalam satu atap. Status aku menjadi anak kost. Rumah yang berbentuk ruko ini, dengan kamar yang gelap tanpa sinaran cahaya matahari maupun rembulan. Tanpa jendela. Hanya pintu yang terbuat dari seng yang kerap sekali membuat penghuni kost  terbangun ketika ada yang membukanya.
Tahun kedua, masih dalam daerah yang sama tetapi hanya lorong saja yang terpisah. Aku mulai bosan menghabiskan hari-hari dalam kamar yang gelap. Akhirnya ku putuskan untuk pindah. Waktu yang sangat sempit membuatku tidak banyak waktu untuk mencari tempat tingal lain. Rumah dengan ukuran 3 x 6, aku dan kedua mahasiswa kedokteran itu tinggal dalam atap 31A. huff…betah. Ketika bosan di kamar, aku masih punya ruang lain untuk belajar. Ruang tamu atau teras samping.

Aku pikir ini akhir dari tradisi. Ternyata tidak. Mereka kembali menyuruhku meranyakan tradisi di tahun ketiga. Mereka ingin aku tinggal dengan Abang. Hmm…apa lagi coba? Abang yang berstatus dokter muda itu tidak punya waktu untuk masak, apalagi mencuci baju. Bahkan ia berhari-hari tidak pulang. Tiba-tiba saja statusku berubah jadi wanita rumah tangga.
Kayeu Adang. Huff…kejelekan nama tempat dan pemilik kontrakan itu sama. Aku dan dia hanya bisa bertahan selama dua bulan. Alasannya lagi-lagi menyita pikiran aku hingga sekarang. Dalam dua hari, aku harus bisa menemukan rumah baru. Segala kekuatan telah ku kerahkan. Trik yang sebelumnnya tidak pernah terpikir, kini di saat kepepet  aku harus menghilangkan sifat malu sebagai seorang perempuan. Bertanya kepada siapa saja yang lagi online di facebook maupun sms. Ntah aku kenal atau tidak. Berbagai macam jawaban tertera di dalamnya. 

Aku berhasil…! Rumah yang terletak di Tanjung itu. Betah dan nyaman. Tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk membeli kipas angin. Satu bulan sebelum panen, aroma padi  terhirup kencang di paginya. Sesekali terdengar suara kaleng susu yang dibunyikan untuk menakuti si burung-burung kelaparan. Pukul tujuh pagi, orang-orang pengusir burung itu sudah ontime di atas rangkang. Iiyaaahh… suara itu membangunku dari tidur. Ini bukan desa tetapi inilah sebuah kompleks dengan gaya pendesaan.

2013 aku kembali merayakan tradisi tahunan. Yah…inilah kepindahanku yang kelima. Keterpaksaan yang menghantarkanku untuk pergi dari rumah kontrakan ini. Entahlah… sepertinya kekebalan itu sudah menyelimutiku. Aku tidak seperti dulu yang ketakutan dan kegelisahan ketika waktu perayaan itu akan datang. Kali ini aku lebih santai. Yang terpikir olehku, jika aku belum mendapatkan rumah kontrakan baru, masih ada mereka sekawan tiga belas yang siap menampungku.

Meskipun tiap tahun aku harus menjalankan tradisi, ini bukanlah masalah besar. Karna melalui tradisi ini aku belajar menjadi pohon yang kokoh walaupun diterpa angin puting beliung. Melalu tradisi ini aku semakin mengenal tipe-tipe kemasyarakatan dalam suatu tempat. Melalui tradisi ini, aku bertemu bahkan berbagi kasur dengan mereka. dan aku juga bisa berbagi, bertukar pikiran dengan mereka-mereka di luar kampungku.
Tanpa tersadari aku telah menghabiskan puluhan juta untuk mencari jati diri dan kesuksesan di kota ini. Modal yang sangat besar rasanya begitu sia-sia jika aku tidak berhasil mewujudkan cita-cita ku, orang tua, dan cita-cita keluarga. 
pingin....pingin...

Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

2 komentar:

  1. empat belas itu apa? kenapa disetiap judul ada empat belas?

    BalasHapus
  2. haha.... pasti blm baca tulisan pertama...

    itu jumlah kami ada 14 org, jd itu cerita tntang kami.... hehhe

    akhirnya ad yg penasaran...:)

    BalasHapus