I Love You (Empat Belas)



Dua tahun telah berlalu. Karna dia aku seperti orang gila yang terpasung tanpa kayu. Tubuhku mulai mengering. Ibu terlihat diam saja ketika melihat kondisi ini. Tetapi aku tau kalau hatinya juga menangis. Aku lebih banyak tidur daripada bangun. Orang-orang bilang jika tidur itu bisa melupakan kesedihan. Bohong, ketika aku bangun tetap saja ingatanku kepadanya tidak pernah hilang.
Ibu, kenapa kau diam saja? Tidakkah kau ajakku untuk kembali mengenal keindahan dunia. Kenapa kau berbeda darinya. Pantas saja jika kecintaanku untuk Ayah lebih besar daripada kau. Engkau yang melahirkan aku, engkau pula yang menduakan aku.
“Ranti, ayo ikut mama jalan-jalan?” dibalik dinding kudengar suara Ibu mengajak kakakku. Yah, itu penyebabnya. Aku tlah diduakan.
Kehilang Ayah membuatku terpukul lebih dalam. Ayah lebih mengerti aku. Sedari kecil aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Wajar saja jika ini terjadi. Tahun 2008 Ayah berhenti menatapku. Ia tidak lagi tersenyum bahkan tertawa ketika bermain bola. Bola itu kini telah tersimpan rapi di gudang. Meskipun aku seorang perempuan, tetapi aku lebih suka bermain dengan permainan laki-laki.
“Anis, mama mau pergi dengan kak Ranti,” satu katapun tidak keluar dari mulutku.
***
Seseorang datang mengruhiyah batinku. Susi, ia mengajakku untuk pergi dari kota para pekerja ini. Tahun 2010 aku meninggalkan kota Lhoksemawe dan berhijrah ke Banda Aceh. Buk guru Susi selalu mengarahkan aku layaknya Ayah yang telah hidup kembali. Ia bahkan rela mengantarku ke kota pelajar, mencari tempat tinggal, membantuku memenuhi segala keperluan nantinya.
Disini di tempat dan di kampus ini aku bertemu dan mengenal mereka, kawanan tiga belas lainnya. Kami menjalin ikatan tanpa rencana. Ikatan ukhuwah. Rasa cinta yang mendalam kepada teman-teman telah membuat aku mengenal diri sendiri. Rencana Allah yang sangat ku syukuri.
Pilihanku untuk migrasi tidak salah. Siapa yang duga jika akhirya batinku terlahir kembali. Ketika ku cerita tentang kehidupanku di kota ini, Bu Susi tidak menduga. Beliau bangga karna akhirnya aku bangkit dari kursi masa suram. Segala bentuk aktivitasku, tentang aku dan mereka, tentang aku dan kampusku, hanya Bu Susi orang yang pernah singgah di masa lalu aku yang tau.
***
Libur panjang. Raut wajah teman-teman terlihat begitu segar. Menjalani ujian final saja mereka sangat senang. Setiap kali menghitung, berapa kali lagi sisa final. Mereka begitu merindukan kampung halaman dan kembali menjalani puasa Ramadhan bersama keluaarga. Ku pandangi Helvi, selang waktu beberapa jam ponselnya terus berbunyi. Yah, siapa lagi? Orang tuanya yang menanyakan kapan ia pulang.
Kembali kurenungkan masa indah itu bersama Ayah. Saat libur panjang tlah tiba. Ayah selalu mengajakku ke tempat-tempat yang belum pernah terjamah olehku. Hutan, beliau sering sekali mengajakku ke sana. Di hutan aku banyak dikenali berbagai macam jenis tanaman bahkan binatang. Ayah paling suka berburu burung. Bukan untuk ditangkap tetapi untuk difoto kemudian dipajang di ruang kerjanya.
Kebiasaan Ayah kini kuikuti. Tajrian yang belum pulang kampung karna kehabisan tiket mau ikut denganku untuk memburu burung. Kamera ini peninggalan Ayah yang selalu ku rawat. “Kapan berangkatnya?”
“Minggu saja, sabtu kita terakhir final,” aku lebih memilih liburan di kota ini dibandingkan pulang ke kampung.
***
Subuh tiba. Aku mulai berkemah untuk mempersiapkan segala keperluan di dalam hutan nantinya. Bekal makanan, mukena, dan keperluan lainnya kumasukkan ke dalam tas ransel. Perjalanku kedalam hutan menghabiskan waktu sekitas sepuluh jam.
Aku berangkat dengan mengendarai sepeda motor. Teman sekontrakan dengannya pikir, aku mudik. Mereka meminta membawakan buah tangan dari ciri khas kota Lhoksemawe.
“Oke, ntar aku bawakan yang banyaknya, mau warna apa?” permintaan mereka kuterima.
“Apa maksudnya, di kampung Anis makanannya ada yang berwarna-warna ya?” dikenyitkan kening mereka keheranan
Jawaban itu kujawab dengan senyum. Aku segera berlalu dengan Tajrian. Perjalanan kami cukup panjang. Awalnya tujuan kami buntu, tetapi ide itu muncul ketika sepeda motor itu mulai melaju. Hutan tropis yang terletak di kawasan selawah agam, taman hutan Tahura atau dahulu disebut dengan wisata Taman Hutan Raya Pocut Meurah Intan. Perjalanan dari rumah kesana sekitar 70 km.
Seiring langkahan kaki, segala asesoris hutan telah menghibur kami. Kamera tidak pernah lepas dari tanganku. Diperjalanan aku bertemu dengan seseorang yang cukup terkenal, dia teman Ayahku. Akhirnya kami dan beberapa rekan Pak Adi pun ikut jalan bersama.
Kakiku hampir saja menginjak tanaman yang pernah diceritakan oleh dosen. Tanaman ini merupakan komponen utama penyusun dalam obat saraf. Aku lupa namanya. Tumbuhan itu tidak besar. Sangat sulit untuk ditemukan ditempat biasa. Dosen itu sering jelajah hutan untuk penelitian. Beberapa jenis tumbuhan telah berhasil ditelitinya yang digunakan dalam menyembuhkan beberapa penyakit.
Beberapa jenis burung berhasil tertangkap oleh kamera Mirroles. Burung sri genting, burung sempala dan beberapa jenis burung lainnya. Aura hutan tropis ini begitu segar. Tanaman dan segala jenis tumbuhan yang sangat hijau.
Tidak terasa hari sudah sore. Aku, Tajrian, Pak Adi, dan rekan-rekannya mulai berkemas pulang. Pak Adi mengajakku untuk menghabiskan malam di penginapannya. Aku menolak. Tajrian juga begitu. Setelah shalat ashar kami langsung pulang. Pertualangan ini pertama kalinya untuk Tajrian tapi bukan untukku. Ketika berada disana aku merasa Ayah ada disampingku, menemani, dan mengajariku cara menggambil gambar. Aku rindu Ayah.     I Love Dad forever.

astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar